JIL Edisi Indonesia
Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab
Oleh Husein Ja’far Al Hadar*
“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”
Eisenhower dan Sembilan Murid Hitam
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Sebelumnya dimuat di jaringnews.com, 6 Januari 2012
Kisah ini sangat mengharukan saya. Sembilan murid hitam di sebuah kota yang jauh dari ibukota Washington, masuk sekolah dengan dikawal oleh 1.200 tentara. Hak mereka untuk sekolah hendak dibatalkan oleh seorang gubernur, dan seorang presiden langsung turun tangan melindungi murid-murid yang masih belia itu.
Mendekatkan Jembatan Tiga Serumpun Laporan Konferensi Regional Multikulturalisme Asia Tenggara
Oleh Muhammad Subhi*
“...pada era kontemporer persoalan multikulturalisme yang paling menonjol adalah meningkatnya intoleransi di kalangan masyarakat dan negara. Tindakan-tindakan intoleransi muncul bahakn dalam wujudnya yang ekstrim seperti terorisme dan radikalisme. “Kelompok-kelompok keagamaan tertentu mensahkan penggunaan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang berbeda. Mereka menjadi korban kekerasan baik secara fisik maupun psykis. Mereka juga tidak bisa mengharapkan negara menjamin hak-hak mereka karena Negara adalah bagian dari actor intoleran dalam banyak kasus.”
Fundamentalisme Yahudi
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Apa yang diperlihatkan oleh kelompok Yahudi ultra-Ortodoks ini sebetulnya menunjukkan bahwa gejala fundamentalisme bukanlah khas pada agama tertentu, tetapi ada pada agama-agama besar dunia. Ada di Yahudi, ada di Kristen, dan ada pula di Islam.
Natal dan Islam yang Penuh Kasih
Oleh Arman Dhani*
“Adaptasi adalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankah Islam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sekte dan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqh dan Tauhid i antara Sunni dan Syiah. Gereja Katolik juga demikian sampai di mana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara Protestan. Tafsir adalah “efek-apa-boleh-buat” dari sebuah agama.”
Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif
Oleh Jamal Ma’mur Asmani*
Demi masa depan Islam yang gemilang, potensi radikalisme dan terorisme Islam harus dihilangkan. Sistem kaderisasi kelompok ini harus diputus agar tidak menjalar ke tempat yang lain. kader-kader muda Islam harus diselamatkan dari virus mematikan ini. Mereka justru harus dididik sebagai kader yang dinamis, progresif, dan produktif dalam mengembangkan Islam sebagai agama cinta damai, cinta kemajuan, dan cinta kasih sayang. Ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan.
Merayakan Natal di Rumah Eyang
Oleh Lies Marcoes Natsir
“Saya membiarkan proses pengenalan anak-anak saya pada agama lain melalui cara yang wajar seperti ini. Saya tidak ingin membangun prasangka seperti saya mendapatkannya di waktu kecil. Anak-anak saya tumbuh dalam komunitas yang plural dan terbuka. Mereka akan memiliki pergaulan yang lebih luas dari saya. Menjadi terbuka dan toleran sangatlah penting bagi mereka.”
Talal Asad dan Antropologi Sekularisme Laporan Diskusi JIL "Sekularisme Direvisi: Telaah Pemikiran Talal Asad"
Oleh Siswo Mulyartono*
Sekularisme adalah peristiwa historis yang tertanam (embedded) dalam konteks historis tertentu, yakni Eropa Barat. Pengalaman Barat mengenai sekularisasi tidak bisa dijadikan sebagai standar universal untuk negeri-negeri lain. Oleh karena itu, sekularisme yang selama ini kerap dipandang sebagai kategori universal harus ditelaah dalam konteksnya yang spesifik di Eropa Barat. Inilah tugas antropologi sekularisme.
Membaca Ulang Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Bingkai Kebebasan
Oleh Prio Pratama*
Pesan empatik yang terkandung dalam doktrin dakwah, amar ma’ruf dan nahi munkar, sebetulnya sah-sah saja jika disalurkan secara benar. Pada hakekatnya dakwah memberikan kebebasan seluas-luasnya pada audien (mad’u) untuk menerima atau menolak. Nabi diberingatkan “engkau hanyalah seorang penyampai (al balagh)”. Dan karena hidayah adalah sepenuhnya prerogatif Allah, maka berkeinginan menyelamatkan orang dengan merampas kebebasan dan menindas orang lain adalah sebuah ironi yang perlu dipertanyakan.
Optimisme Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia
Oleh Siswo Mulyartono dan Evi Rahmawati
“Ulil tampak bersemangat menguraikan perubahan politik Islam yang merayakan euforia demokrasi di negara-negara Muslim, “Saya mulai dari Erdogan (Perdana Menteri Turki) yang partainya juga berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Saat Erdogan berkunjung ke Mesir di bulan September, ia mengatakan kepada bangsa Mesir, “Wahai bangsa Mesir, kalian harus mengadopsi sekularisme di dalam tubuh Mesir”.” Ulil pun meyakinkan kepada hadirin bahwa perubahan-perubahan tersebut adalah fenomena yang menarik. Betapa tidak, partai yang bisa dibilang PKS-nya Turki, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), memberi anjuran kepada bangsa Mesir untuk mengadopsi sekularisme. Kemudian Ulil juga mengutip pernyataan Rashid Ghannoushi ketika ia memenangkan pemilu di Tunisia. Pemimpin Partai An-Nahdhah tersebut mengatakan, “Wahai bangsa Tunisia, jangan takut kepada partai Islam, karena setelah menangnya Partai An-Nahdhah ini, kami tidak akan melarang perempuan-perempuan yang berbikini di pantai. Pantai-pantai yang di dalamnya banyak perempuan berbikini, tidak akan kami tutup. Dan orang-orang atheis, orang-orang yang tidak beragama, tidak akan diusir dari Tunisia.” Ulil juga memperlihatkan contoh lain, “Ketika PKS Mesir (Partai Kebebasan dan Keadilan) menang Pemilu, mereka juga menyatakan bahwa partainya menjunjung nilai-nilai kebebasan, demokrasi, masyarakat sipil dan sebagainya.”