JIL Edisi Indonesia
Agama, Ilmu Pengetahuan, dan Commonsense
Oleh Otto Gusti
Pergumulan dengan “teori interaksi komunikatif” Habermas menyingkapkan beberapa peluang bagi dialog antar budaya, agama, dan juga ilmu pengetahuan yang menjadi persoalan masyarakat modern. Dialog seperti itu diharapkan tidak menghasilkan keterpinggiran agama dari kehidupan sosial, tapi melahirkan rasa saling menghargai peran dan posisi masing-masing guna membangun sebuah masyarakat yang lebih manusiawi, demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.
Manusia dan Kebutuhan Agama
Oleh Faiz Manshur
Agama sebagai gejala psikologi rupanya cukup memberikan pengertian kepada kita tentang perlu atau tidaknya manusia beragama. Bahkan lebih dari itu, ketika agama benar-benar tidak sanggup memberikan pegangan bagi masa depan kehidupan manusia, kita pun bisa saja terinspirasi untuk menciptakan agama baru, atau setidaknya melakukan berbagai eksperimen baru sebagai jalan keluar dari berbagai problem kehidupan.
Musthafa Abd. Rahman: JI Itu Sempalan Ikhwanul Muslimin
Perdebatan mengenai ada atau tidaknya kelompok Jamaah Islamiyah (JI) masih ramai sampai sekarang. Sebagian orang berpendapat bahwa tuduhan adanya kelompok JI di Indonesia sengaja dibesarkan-besarkan untuk mendiskreditkan umat Islam. Orang-orang berpendapat seperti ini meyakini JI bukanlah kelompok organisasi tapi hanya sebutan untuk masyarakat Islam keseluruhan.
Depolitisasi Syariat Islam
Oleh Ali Asyhar NF
Syariat senantiasa akan menjadi perdebatan yang hangat dan menarik, dan akan lebih konstruktif apabila dapat membentuk paradigma civil society dan demokrasi yang kukuh dan berdimensi kerakyatan. Sejatinya syariat tidak dijadikan” agama yang absolut” melainkan jalan yang akan membentangkan perubahan dan transformasi sosial.
Hermeneutika Ayat-ayat Perang
Oleh Luqman Hakim, S.Fils.
Dalam kenyataannya, ayat-ayat perang meski bernuansa universal, tetapi ditulis untuk sekelompok pendengar di masa lampau (in illo tempore). Karena itulah, pemeluk agama apapun hendaknya bisa menangkap mana nilai-nilai universal dari perintah jihad dan perang.
Teori Konspirasi Selalu Meneror Kebenaran
Tepat hari Kamis, 11/09/03 yang lalu, Radio 68H Jakarta mengadakan diskusi untuk mengevaluasi 2 tahun perang melawan terorisme. Berbagai pandangan, mulai dari analisis suasana geo-politik global di Timur Tengah, sampai persoalan meningkatnya radikalisasi agama di Indonesia dibahas dalam diskusi tersebut. Diskusi tersebut mendatangkan antara lain, Dr Syafii Anwar, Ismail Yusanto dan Musthafa Abd Rahman.
Dr. Jalaluddin Rakhmat: Kafir itu Label Moral, bukan Akidah
Fenomena bom bunuh diri yang dilegitimasikan atas nama agama sekarang ini terjadi juga di Indonesia. Biasanya kita hanya mendengarnya di Palestina atau negara-negara Timur Tengah untuk melawan Israel. Tiba-tiba istilah ini menjadi akrab buat kita di negeri kita. Sebenarnya bagaimana sih kok bisa ada bom bunuh diri? Apakah perbuatan ini dibenarkan dalam Islam? Benarkah mereka yang melakukannya demi jihad melawan kaum kafir? Siapakah kaum kafir itu?
Menyoroti Fenomena Radikalisme Agama
Oleh Happy Susanto
Geneaogi radikalisme agama muncul karena beberapa sebab. Dalam kasus Islam, misalnya, Hassan Hanafi (2001) menyebut—paling tidak—ada dua sebab kemunculan aksi kekerasan dalam Islam kontemporer. Pertama, karena tekanan rezim politik yang berkuasa. Kelompok Islam terentu tidak mendapat hak kebebasan berpendapat. Kedua, kegagalan-kegagalan ideologi sekuler rezim yang berkuasa, ehingga kehadiran fundamentalisme atau radikalisme agama dianggap sebagai alternatif ideologis satu-satunya pilihan yang nyata bagi umat Islam.
Dewi Lestari Simangunsong: Semua Bermula dari Cinta…
Dewi Lestari Simangunsong, atau akrab dipanggil Dee, penyanyi yang juga penulis novel best seller Supernova, menuturkan tentang pengalaman spiritualnya. Ia menceritakan perenungan-perenungannya yang ekstrem tentang Tuhan dan gereja.
Prof. Dr. Tariq Ramadan: Semua Jenis Terorisme tidak Islami!
Setiap umat Islam tidak boleh lagi terpedaya oleh simbol-simbol yang berlagak seakan ingin menegakkan panji-panji Islam lewat kekerasan. Faktanya, aksi teror selalu saja merupakan horor atas kemanusian yang mestinya diselamatkan oleh watak kerahmatan Islam bagi alam. Sebab itu, umat Islam tak lain, mesti kritis atas klaim-klaim kalangan teroris, sekaligus tegas-tegas membuat jarak dengan mereka.