JIL Edisi Indonesia

Kemenangan Kecil bagi Demokrasi di Malaysia

Oleh Andy Budiman

Yang pasti, angin perubahan memang kian menguat. Beberapa saat setelah vonis bebas, @anwaribrahim berkicau di Twitter “In the coming Election, voice of the people will be heard and this corrupt government will be toppled from its pedestals of power.”

24/01/2012 | Kolom, | Komentar (1) #

Tentang Iman dan Anti-Theodise

Oleh Evi Rahmawati*

Bagi Moqsith, sikap yang ditampilkan GM melalui patahan-patahan kata yang terkadang muram itu, justru tampak sebagai sebuah upaya untuk mengatasi arogansi manusia dalam membahasakan Tuhan. 

Menurut Moqsith, jika seseorang mengerti bahasa Arab, maka ia akan tahu bahwa arti dari Allahu Akbar bukanlah “Allah maha besar” sebagaimana sering diterjemahkan kebanyakan orang. Allahu Akbar, menurut Moqsith, memiliki arti “Allah lebih besar.” Lantas dengan cergas Moqsith menafsirkan Allahu Akbar sebagai Allah yang lebih besar, termasuk lebih besar dari segala konsep yang dirumuskan manusia tentang-Nya.

20/01/2012 | Reportase, | Komentar (7) #

Argumentasi Kebebasan Membangun Rumah Ibadah Non-Muslim

Oleh Khoirul Anwar*

“Nabi Muhammad menjalin hubungan baik dengan non Muslim Najrân dan Umar bin Khathab dengan penduduk Palestina. Perlindungan Nabi dan sahabatnya tidak hanya terbatas pada perlindungan jiwa dan harta, melainkan masuk di dalamnya kepercayaan keagamaan dan rumah ibadah. Oleh karena itu Taqiyuddin al-Maqrîzî dalam bukunya, al-Mawâ’idz wa al-I’tibâr bi Dzikr al-Khithath wa al-Âtsâr, setelah mengungkapkan nama-nama gereja di Kairo ia menyatakan bahwa gereja yang ada di daerah tersebut dibangun di masa Islam. (Taqiyuddin al-Maqrîzî, al-Mawâ’idz wa al-I’tibâr bi Dzikr al-Khithath wa al-Âtsâr, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, cet. I, 1418 H. vol. IV, hal. 374). Hal ini cukup menjadi bukti bahwa Nabi, sahabat, dan para tabi’in mempersilahkan umat agama lain membangun tempat ibadah masing-masing.”

17/01/2012 | Suara Mahasiswa, | Komentar (1) #

Demokrasi Islam?

Oleh Saidiman Ahmad

“...perubahan politik menuju demokrasi yang melanda dunia Islam saat ini mesti dibaca sebagai fenomena baru yang tidak melulu bisa dijelaskan melalui pendekatan doktrin dan sejarah. Interaksi dan perilaku masyarakat Muslim sendirilah yang menyebabkan itu terjadi. Pola-pola interaksi sosial yang terus berubah ditambah dengan aktor-aktor demokrasi yang terus bergerak melakukan mobilisasi sumber daya yang menyebabkan semua ini terjadi.”

16/01/2012 | Editorial, | Komentar (3) #

Modernitas, Mesianisme, Mukjizat Walter Benjamin dan Carl Schmitt

Oleh Akhmad Sahal*

.... netralisasi dan depolitisasi, dengan kata lain liberalisme, itulah yang bagi Schmitt menjadi penyebab utama kebekuan dan “kenormalan” modernitas. Dan kenormalan ini perlu didobrak dengan cara memberi peluang bagi munculnya the sovereign yang bisa mengambil keputusan pada/tentang state of exception. Memakai ungkapannya sendiri, kita bisa mengatakan bahwa Schmitt mendambakan suatu dunia yang tidak lagi dikuasai oleh deisme yang tidak mengenal mukjizat atau intervensi dari luar sejarah.

12/01/2012 | Klipping, | Komentar (1) #

Pesantren dan Kekerasan

Oleh Mohamad Guntur Romli

Pesantren didirikan agar tidak semua orang pergi berperang. Maka hal yang aneh kalau sekarang ada pesantren yang didirikan untuk berjihad dalam arti peperangan dan kekerasan.

Melalui pendidikan dan penguasaan terhadap pengetahuan agama, misi pesantren hakikatnya misi jihad nirkekerasan.

12/01/2012 | Klipping, | Komentar (2) #

Pentingnya “Talfiq” sebagai Antidote atas “Taghlil”

Oleh Prio Pratama*

Budaya taghlîl hanya bisa dilawan dengan budaya samhah yang secara diksi diterjemahkan sebagai budaya toleran dan terbuka (inklusif). Istilah ini diderivasi dari hadist Nabi ” innî bu’itstu bi al-hanîfiyyah al-samhah” (aku diutus dengan membawa risalah yang lapang dan toleran). Karena mengandaikan keterbukaan dan kelapangan, budaya samhah tidak mungkin diwujudkan kecuali dengan melibatkan apa yang dalam istilah fiqih disebut “talfîq”. Istilah yang begitu popular dan kontroversial dalam kajian yurisprudensi Islam ini, secara sederhana bisa dimaknai sebagai praktik keberagamaan dalam Islam yang menggabungkan beberapa pendapat ulama mazhab dalam satu masalah hukum tertentu.

10/01/2012 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab

Oleh Husein Ja’far Al Hadar*

“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”

10/01/2012 | Kolom, | Komentar (10) #

Eisenhower dan Sembilan Murid Hitam

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Sebelumnya dimuat di jaringnews.com, 6 Januari 2012

Kisah ini sangat mengharukan saya. Sembilan murid hitam di sebuah kota yang jauh dari ibukota Washington, masuk sekolah dengan dikawal oleh 1.200 tentara. Hak mereka untuk sekolah hendak dibatalkan oleh seorang gubernur, dan seorang presiden langsung turun tangan melindungi murid-murid yang masih belia itu.

10/01/2012 | Klipping, | Komentar (11) #

Mendekatkan Jembatan Tiga Serumpun Laporan Konferensi Regional Multikulturalisme Asia Tenggara

Oleh Muhammad Subhi*

“...pada era kontemporer persoalan multikulturalisme yang paling menonjol adalah meningkatnya intoleransi di kalangan masyarakat dan negara. Tindakan-tindakan intoleransi muncul bahakn dalam wujudnya yang ekstrim seperti terorisme dan radikalisme. “Kelompok-kelompok keagamaan tertentu mensahkan penggunaan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang berbeda. Mereka menjadi korban kekerasan baik secara fisik maupun psykis. Mereka juga tidak bisa mengharapkan negara menjamin hak-hak mereka karena Negara adalah bagian dari actor intoleran dalam banyak kasus.”

09/01/2012 | Reportase, | Komentar (0) #
Halaman: 2 dari 137  < 1 2 3 4 >  Last ›