JIL Edisi Indonesia

Kritik atas Paham Keagamaan Muhammadiyah Dakwah Kultural vs Imperialisme Islam Murni

Oleh Zakiyuddin Baidhawy

Upaya Muhammadiyah untuk mempersatukan persepsi dalam rangka menciptakan Islam yang sejuk dan bernuansa kultural di negeri ini sangat positif. Upaya semacam ini membuat kelompok abangan menjadi tidak memiliki hambatan mental untuk belajar Islam. Singkatnya, dakwah kultural Muhammadiyah mengakui secara tulus pentingnya menghargai multikulturalisme, keunikan, dan kekhasan setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada dalam kategori abangan.

11/07/2003 | Kolom, | Komentar (14) #

Eep Saefulloh Fatah: Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru

Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu menekankan etika ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan (ethics of hope). Ketundukan
dibangun di atas pondasi ketakutan seorang hamba kepada Khaliqnya. Seolah
kebesaran Tuhan ditentukan oleh semakin kecilnya manusia dan semakin horornya
kosmos metafisik yang mengitari Tuhan.

06/07/2003 | Wawancara, | Komentar (15) #

Politik dalam Islam

Diperlukan ekstra kehatian-hatian untuk membangun pandangan yang bersahabat antara Islam dan kehidupan politik. Hal itu, menurut Samuel P. Huntington, akan dapat tumbuh dan berkembang jika mendapat dukungan sikap, nilai, kepercayaan, dan pola-pola tingkah laku berkaitan dengan perkembangan peradaban yang kondusif. Hal itu juga disebabkan oleh kenyataan yang tak terbantahkan -meminjam istilah Sdr Ulil- bahwa umat Islam tidak bisa menghindar dari kenyataan baru yang sama sekali berbeda.

06/07/2003 | Gagasan, | Komentar (21) #

Islam dan Pornografi

Oleh Badarus Syamsi

Kaum Muslim harus mampu mengartikulasikan nilai-nilai etika Islam dalam kehidupan praksis-operasional, misalnya dalam bidang kesenian
- Jangan sampai Islam terkesan sebagai penjara bagi kreasi dan inovasi manusia, hanya karena penafsiran sebagian kaum Muslim

02/07/2003 | Gagasan, | Komentar (33) #

Artikel 1 dari 5 Dialog Ulil Abshar-Abdalla dan H.M. Nur Abdurrahman

Artikel Ulil Abshar-Abdalla (UAA), Koordinator Jaringan Islam Liberal, di harian Kompas 18 November 2002 berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, ternyata berbuntut panjang. Pada awalnya artikel kontroversial tersebut memantik diskusi yang hangat. Akan tetapi, proses diskusi publik yang sehat itu tiba-tiba “dimatikan” oleh adanya fatwa mati yang diputuskan Forum Ulama Umat Islam (Bandung) terhadap Ulil Abshar-Abdalla. Berikut ini salah satu intisari perdebatan yang positif sejak publikasi artikel Ulil Abshar-Abdalla. Perdebatan tersebut melibatkan penulis dengan H.M. Nur Abdurrahman (HMNA), Wakil Ketua Majelis Syura Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam (KPPSI) Sulsel.

29/06/2003 | Reportase, | Komentar (11) #

Ramadhan Pohan: Kini, Tragedi 9/11 Jadi Berkah Terselubung

Tragedi 11 September tak selamanya menghadirkan petaka. Meski komunitas muslim di Amerika sempat merasakan perlakuan diskriminatif pasca-tragedi itu, tapi kini ada efek domino yang menghinggapi seluruh lapisan masyarakat Amerika untuk memuaskan rasa kuriositas mereka tentang Islam. Kini, setelah dua tahun tragedi yang menyayat hati itu berlalu, Islam menjadi “komoditas spiritual” paling laris di negeri Paman Sam.

28/06/2003 | Wawancara, | Komentar (6) #

Drs. Nuryamin Aini, MA: Fakta Empiris Nikah Beda Agama

Problem krusial bagi pasangan beda agama yang secara serius hendak menempuh pernikahan biasanya adalah keterjepitan di antara dua kutub ekstrem: pernikahan sebagai hak privat dengan stigmatisasi keharaman nikah beda agama plus resistensi birokrasi. Akibatnya, seperti temuan penelitian Nuryamin Aini, alumnus Flinders University, Australia, pasutri beda agama sering melakukan hilah (manipulasi hukum) dan bersikap ambivalen dan hipokrit sekadar untuk lolos dari jebakan birokrasi pencatatan perkawinan.

22/06/2003 | Wawancara, | Komentar (35) #

“Kesaksian” Pasutri Islam dan Konghucu
Ahmad Nurcholish dan Ang Mei Yong
Perkawinan Ini adalah Langkah “Eksperimentasi” Saya

Persoalan di atas bermula dari perkawinan Nurcholish (27 tahun) dengan Mei (24 tahun) dua pekan lalu. Perkawinan tersebut dilakukan dalam “dua metode.” Ijab kabul secara Islam dengan mas kawin 8,8 gram emas dilakukan di Islamic Study Center Paramadina, Jaksel. Dr. Kautsar Azhari Noer bertindak sebagai wali Mei sekaligus yang menikahkan kedua mempelai secara Islam, sedangkan Ulil Abshar-Abdalla sebagai saksi. Sementara, perestuan secara Konghucu dilakukan di ruangan lithan Sekretariat Matakin di Sunter Jakarta Utara.

22/06/2003 | Wawancara, | Komentar (35) #

Menafsir Teks secara Kritis

Oleh M. Khoirul Muqtafa

Perilaku keberagamaan umat beragama tak bisa lepas dari pengaruh teks agama berikut penafsirannya. Wajar kalau kemudian fenomena radikalisme, fanatisme, fundamentalisme, bahkan ekstremisme umat beragama banyak dituduhkan bermula dari penafsiran teks yang serba formalistik-simbolik sehingga terkesan kaku, rigid, dan tidak fleksibel. Pemahaman yang muncul seringkali lebih bersifat literal-verbal, tekstual, bukan kontekstual. Akibatnya, teks agama hanya dipahami pada tataran permukaan. Sedang hal yang bersifat mendasar terabaikan.

21/06/2003 | Kolom, | Komentar (4) #

Menyikapi Keragaman Pemahaman Islam

Oleh Lukman Abdurrahman, MIS

Perbedaan pemahaman dalam Islam sebaiknya disikapi dengan tasaamuh. Sikap ini ada baiknya kita belajar dari para imam mujtahid yang tak perlu diragukan kepakarannya dalam mengantisipasi terjadinya keragaman pemahaman agama.  Sebagai contoh, Imam Syafi’i berkata, “Apabila hadits itu sahih, itulah madzhabku dan buanglah pendapatku yang timbul dari ijtihadku”.

15/06/2003 | Kolom, | Komentar (3) #
Halaman: 107 dari 137 ‹ First  < 105 106 107 108 109 >  Last ›