JIL Edisi Indonesia

Gus Dur Ketemu Huntington

Kritisisme terhadap Huntington tersebut diceritakan Gus Dur dalam kesempatan Tadarus Ramadlan di Ponpes. Mahasiswa “baru” Ciganjur asuhan beliau. Selama 11 hari, “minggu rahmah” ramadlan ini, beliau nderes Qathr al-Nada karya ibnu Hisyam. Sebuah pembedahan “lughawiyyah” nahwu, kepada universalisasi peradaban Islam dan Dunia.

15/12/2003 | Klipping, | Komentar (3) #

Menilik Metode Qiyas Syafi’i

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Sekian banyak metodologi telah disusun untuk menafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu, Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang memancangkan fondasi metodologi pembacan teks melalui masterpiecenya, al-Risalah. Akan tetapi, dalam perkembangan kontemporer, kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang mengidap sejumlah persoalan yang kronis. Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushul fikih (qiyas) model Syafi’i ini.

15/12/2003 | Editorial, | Komentar (7) #

Kyai Drs. Imam Nakha’i, MA: Posisi Akal Lebih Tinggi dari Wahyu

Imam Syafi’I adalah pencetus konsep Qiyas yang menjadi rujukan hukum Islam setelah Alquran dan Hadis. Konsep ini bisa dikategorikan sebagai bentuk ijtihad. Untuk mengetahu secara jelas tentang konsep Qiyas Imam Syafi’i, JIL mewancarai Kyai Drs. Imam Nakha’i MA, Kepala Divisi Pendidikan dan Pengajaran Al-Ma’had Al-‘Ali Sukarejo Situbondo, Jawa Timur hari Kamis (06/11), sebelum Ustadz nyentrik ini menjadi nara sumber dalam “Tadarusan Ramadan” yang diadakan Jaringan Islam Liberal di bulan Ramadan kemarin.

15/12/2003 | Wawancara, | Komentar (15) #

Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah.

Oleh Soplo

Agama sering dimanfaatkan serta digunakan untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan menyitir ayat-ayat alquran mereka menggembar-gemborkan bahwa kita harus mewaspadai “sekularisme”. Tapi siapa yang sebenarnya sekularis?

12/12/2003 | Gagasan, | Komentar (54) #

Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer: Kita Butuh Fikih Bercorak Pluralistik

Sebagai negara yang pluralis, baik dari sudut etnis, bahasa, budaya, dan agama, Indonesia jelas membutuhkan rumusan fikih yang mempunyai visi dan wawasan yang pluralis. Yayasan Paramadina sebuah lembaga yang dimotori Dr. Nurcholish Madjid dan berkecimpung dalam kajian keagamaan dan sosial, sedangmengembangkan dan merumuskan gagasan tentang fikih lintas agama yang dirampungkan dalam bentuk buku yang berjudul “Fiqih Lintas Agama”. Inilah buku pertama yang secara spesifik membahas soal fikih hubungan antar umat beragama di Indonesia.

09/12/2003 | Wawancara, | Komentar (8) #

Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder

Oleh Luthfi Assyaukanie

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan.

08/12/2003 | Kolom, | Komentar (14) #

Agama dalam Cetakan Baru

Oleh Hatim Gazali

Penting kiranya membuat mekanisme transformasi pemahaman agama yang inklusif kepada masyarakat secara umum sebagai salah satu upaya meminimalkan adanya ketegangan di antara pemeluk agama. Singkatnya, agama hanya dipanggil ketika ada kebutuhan legitimasi dan dicampakkan ketika menagih tanggung jawab moral.

08/12/2003 | Kolom, | Komentar (4) #

Menimbang Fikih Lintas Agama

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

Sudah saatnya sekarang fikih memberdayakan diri dengan mengusung agenda-agenda yang lebih menjanjikan dan prospektif di masa mendatang. Wacana fikih lintas agama menjadi signifikan di sini, karena tawarannya yang menukik langsung pada kenyataan bahwa selama ini fikih sering dijadikan alat legitimasi bagi tindak kekerasan atas nama agama.

30/11/2003 | Kolom, | Komentar (7) #

Bulan Konsumerisme Agama Renungan di penghujung Bulan Ramadan

Oleh Muhammadun As

Fenomena Ramadan yang penuh dengan sakralitas seolah pupus karena sudah bersifat marerialistik-komsumtif. Tradisi massif yang membudaya dimana-mana, dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah, telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasanya. Di sisi lain, para pedagang menawarkan barang-barang yang menawan hanya pada bulan ini merupakan manifestasi dari konsumerisme agama.

24/11/2003 | Kolom, | Komentar (4) #

Abdul Jalil, MA: Idul Fitri: Kembali ke Fitrah, Kembali ke Amanah

Banyak cara memaknai hari raya Idul Fitri. Bagi Abdul Jalil, MA, intelektual muda dari Kudus yang juga Koordinator Kajian Central Riset dan Manajemen Informasi (Cermin), Idul Fitri merupakan momen yang penting untuk berjihad menegakkan kembali amanah. Setelah sebulan penuh melakukan puasa, menurut alumnus santri Ma’had Aly Situbondo ini, mestinya umat Islam terbebas dari virus-virus yang menjadi penyebab kerusakan bangsa ini.

24/11/2003 | Wawancara, | Komentar (1) #
Halaman: 104 dari 140 ‹ First  < 102 103 104 105 106 >  Last ›