JIL Edisi Indonesia
Manusia Tak Pernah Ada
Oleh Ribut Wijoto
Sastra sufi, inilah penyangkalan terakhir dari manusia untuk memulai keberadaan yang sesungguhnya. Ash-shuufi lam yukhlaq - “Seorang Sufi adalah sesuatu yang tak diciptakan”. Sedang Rasulullah SAW pun menyangkal keberadaan dirinya; Anaa Ahmadun bi laa mim - ”Aku adalah Ahmad tanpa huruf miim”, yang berarti “Aku adalah Ahad (Esa)”.
Pdt. Kuntadi Sumadikarya M. Th: Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama
Agenda agama-agama propagandis-misionaris acapkali ditentukan oleh seberapa besar kesuksesan yang dicatat dalam mengkonversi agama orang lain. Paradigma yang diusung tak pernah beranjak dari konsepsi lama bahwa “Tak ada keselamatan di luar Kristus.” Doktrin kuno yang sudah ditanggalkan oleh banyak kalangan Kristen mainstream ini justru dipakai oleh kaum evangelis Kristen untuk menjustifikasi penyuapan rohani (spiritual bribery).
Pembaharuan Islam Ahmad Wahib dalam Kacamata Abdolkarim Souroush
Oleh Andriansyah
Artikel ini mencoba memetakan pembaharuan Islam yang digagas Ahmad Wahib menurut perspektif teori Abdolkarim Souroush mengenai dikotomi antara agama dan ilmu agama. Lewat bacaan tersebut, disimpulkan bahwa pembaharuan mestinya dilakukan bertitik tekan terhadap manusia itu sendiri (masyarakat). Masyarakat harus menjadi mitra dialog utama dalam setiap pembaharuan Islam yang ditujukan bagi mereka.
Potret Hukum dan Moralitas Bangsa Kita Respon Atas Kasus Goyang Ngebor dan Inulisasi
Oleh Achmad `Aly MD
Hukum tidak dapat dipisahkan dari aspek moral. bila hukum belum ada secara kongkrit yang mengatur, dan moralitas telah menuntut ditransformasikan, maka moralitas haruslah diutamakan. Kebebasan berekpresi tidak boleh bertentangan dengan moralitas, karena negara kita berfalsafahkan pancasila yang memuat nilai religious, yakni moralitas.
Kritik Nalar Teologis
Oleh Novriantoni
Dalam batas tertentu, nalar teologis memang melegakan. Nampaknya itulah yang diinginkan Abduh dan mereka yang disebut pembaru Islam. Hanya saja, dia juga melenakan, lalu membuat kita tak sadar diri. Saya kira, sudah saatnya kita pelan-pelan meninggalkan nalar basa-basi seperti ini, sekalipun dia cukup membesarkan hati. Kita lebih perlu untuk rendah hati, sekaligus tidak merasa rendah diri.
Dari Taksonomi (Model) Lama ke Islam Liberal Pemikiran Islam Modern:
Oleh Luthfi Assyaukanie
Ada satu benang merah yang bisa ditarik dari para intelektual muslim liberal itu, yakni perasaan dan semangat untuk membebaskan (liberating) umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan sejak –paling tidak—lima abad terakhir. Belenggu inilah yang dianggap sebagai sebab utama ketakberdayaan bangsa-bangsa muslim di depan bangsa asing (kolonialisme). Hanya dengan membangun kembali (rekonstruksi) cara pandang dan sikap keberagamaan mereka, kondisi menyedihkan itu dapat diperbaiki.
Syariat Islam Pandangan Muslim Liberal
Oleh Burhanuddin
Kebanyakan aktivis syariat Islam tidak siap meletakkan syariat Islam dalam diskusi publik yang rasional. Statemen-statemen semacam “syariat tak bisa divoting,” “syariat lebih unggul daripada konstitusi sekuler” misalnya, selalu mewarnai sidang-sidang tahunan di MPR belakangan ini. Ruang pergumulan untuk mengisi cetak biru (blue print) konstitusi, terutama di negara-negara Muslim, sering diramaikan oleh aspirasi religius sebagian kelompok untuk memberi visi Islami pada konstitusi.
Sidney Jones: Motivasi Ideologis Aktivis JI Sangat Kuat
Pelaku terorisme memang tidak
mengenal paspor dan kantor imigrasi. Khilafah Nusantara yang dipancangkan
aktivis Jemaah Islamiyah (JI) itu sendiri mengandung gagasan transnasionalisme
yang mengabaikan nation-state. Totalitas komitmen ditentukan seberapa kuat
afinitas visi dan misi terhadap doktrin JI, bukan kewargaan aktivisnya. Tak
heran, bila aktivis JI tersebar di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Al-Islâm: Agama atau Politik?
Oleh Novriantoni
Secara historis, umat Islam —terutama yang bersemangat mencampuradukkan agama dengan politik— tidak pernah sadar, bahwa konflik yang terjadi antarumat Islam sejak zaman klasik Islam, merupakan konflik politik yang sangat kental dibumbui oleh isu agama dan klaim-klaim syariat —kalau bukan agama dan syariat sebagai menu utamanya. Oleh karena itu, tanpa memungkiri dan berkelit dari fakta sejarah, Al-Asymawi justru mengatakan bahwa sejarah Islam adalah sejarah perang (târikhu h
arbin) di mana nafsu kekuasaan tanpa sungkan-sungkan mengangkangi nilai-nilai etik-moral keagamaan.
Ketika Agama Menjelma Bencana
Oleh Mu’adz D’Fahmi
Ada lima tanda penyimpangan yang menunjukkan kapan sebuah agama menjelma bencana. Penyimpangan itu selalu ada ketika agama bermetamorfosis menjadi semacam makhluk buas pengganggu kedamaian. Sebenarnya, jika agama masih tetap di atas jalur semula dan sejalan dengan sumber autentiknya, niscaya ia akan secara aktif membongkar penyimpangan ini.