Home » Kajian » Hikam » Dari Manusia-Jasad Menuju Manusia-Rohani
7988936912_c67039d7ca_z

Dari Manusia-Jasad Menuju Manusia-Rohani Ngaji Hikam ke-39

3/5 (1)

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-39.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ukhruj min awsafi basyariyyatika ‘an kulli wasfin munaqidin li’ubudiyyatika, li-takuna li nida’ al-Haqqi mujiban, wa min hadratihi qariban.

Terjemahan: Keluarlah dirimu dari sifat-sifat kemanusiaanmu, dari sifat-sifat yang berlawanan dengan kedudukanmu sebagai seorang hamba Tuhan. Agar dengan demikian engkau bisa mendengar dan merespon panggilan Kebenaran, dan dekat kepadanya.

Mari kita hayati kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.

Pengertian umum. Manusia berada dalam suatu situasi dan kedudukan yang tak boleh ia lupakan: kedudukan sebagai hamba. Inilah yang disebut dengan kedudukan ‘ubudiyyah. Kedudukan ini mengandung sejumlah konsekuensi. Salah satu konsekuensi terpenting ialah seseorang harus berusaha keras melawan kecenderungan-kecenderungan buruk dalam dirinya yang berlawanan dengan posisi ‘ubudiyyah itu.

Dalam diri manusia ada suatu karakter yang oleh Syekh Ibn Ataillah disebut dengan sifat-sifat basyariyyah, yaitu sifat manusia sebagai tubuh dan jasad yang memiliki kehendak dan hasrat yang jika tak dikendalikan bisa merusak. Misalnya: sifat basyariyyah atau kejasadan manusia meniscayakan dia untuk makan, minum, dan melakukan kegiatan seksual. Jika hasrat semacam ini tidak dikontrol, dilepaskan begitu saja, tentu dia bisa merusak manusia bersangkutan.

Salah satu watak basyariyyah manusia yang lain ialah sifat-sifat seperti kesombongan, kedengkian, keirian, dsb. Sifat-sifat ini jelas berlawanan dengan kedudukan manusia sebagai hamba. Sifat sombong, misalnya, jika dibiarkan tanpa di-cek dan dikontrol, bisa membuat manusia merasa besar kepala, memandang dirinya seperti Tuhan, dan mengambil alih wewenang-Nya. Dengan sikap seperti ini, dia sudah meninggalkan kedudukannya sebagai seorang hamba. Ini sudah sering kita lihat dalam sejarah kekuasaan manusia: seorang penguasa despot bertindak layaknya seorang Tuhan.

Sifat sombong hanyalah layak untuk Tuhan saja. Ini bukan berarti bahwa Tuhan akan berlaku sombong dan sewenang-wenang dengan melanggar hukum moral. Bukan. Ajaran tentang sifat sombong yang hanya milik Tuhan ini sebetulnya hendak mengajari manusia bahwa sebagai seorang hamba, sifat semacam itu tidak cocok. Sifat yang cocok dengan kehambaan manusia ialah kerendah-hatian, “humility”.

Dengan kata lain, sifat basyariyyah dan ‘ubudiyyah tidak saling cocok satu dengan yang lain. Sementara sifat basyariyyah membuat manusia cenderung menuruti hasrat-hasrat buruk dalam diri manusia, kedudukan ‘ubudiyyah atau kehambaan manusia justru menuntutnya untuk bertindak sebaliknya: yaitu bertindak benar sesuai dengan hukum kebenaran yang bersumber dari Tuhan.

Karena itulah, manusai harus bisa melepaskan pelan-pelan dari sifat-sifat basyariyyah itu, dan menghiasi diri dengan sifat-sifat insaniyyah, yaitu kemanusiaan. Dengan karakter basyariyyah-nya, manusia sebetulnya tidak berbeda jauh dengan binatang. Hanya dengan sifat insaniyyah atau kemanusiaan lah manusia memisahkan diri dari binatang, menjadi makhluk yang bermoral, menjadi ciptaan yang dalam dirinya ada “cahaya tawajjuh”, cahaya fitrah yang menuntunnya kepda Yang Maha Benar.

Pengertian khusus. Dua ciri dasar watak basyariyyah manusia yang sekaligus menjadi kelemahan pokoknya bisa dikembalikan ke dua hal pokok. Yang pertama ialah sifat-sifat kebinatangan (akhlaq al-baha’im) seperti hasrat untuk makan, minum, dan mencintai hal-hal keduniaan yang lain. Yang kedua adalah sifat-sifat setan, seperti sikap sombong, menolak mengakui kebenaran (al-bathar), sikap kasar kepada orang lain (al-fazazah), kikir, jumawa, dsb.

Sifat-sifat itu biasanya disebut sebagai cacat dan kelemahan dalam jiwa manusia (‘uyub al-nafs). Sifat-sifat ini, jika tidak dihalau jauh-jauh dari rohani dan jiwa manusia, akibat yang akan timbul ialah: manusia itu akan melupakan kedudukannya sebagai seorang hamba, dan gagal naik ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu menjadi insan atau manusia yang mengandung roh ketuhanan dalam dirinya. Dia akan mandeg sekedar hanya menjadi “basyar” atau manusia-tubuh, bukan manusia-rohani. Manusia-tubuh tak beda jauh dengan binatang pada umumnya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini ialah: Kita harus terus-menerus bisa menghayati kedudukan kita sebagai hamba. Kedudukan ‘ubudiyyah yang melekat pada kita. Dengan menghayati kedudukan ini, dengan dengan sungguh-sungguh merefleksikannya, kita akan bisa terbebas dari kondisi basyariyyah, menuju kepada kondisi insaniyyah; dari level tubuh dan jasad belaka, menjadi roh yang memancarkan kebenaran Tuhan.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.