Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Djohan Effendi: “Bahasa Bukan Bagian Inti dari Ibadah”
Djohan Effendi (Foto: Impact.com)

Djohan Effendi: “Bahasa Bukan Bagian Inti dari Ibadah”

5/5 (1)

Menurut Anda, terkurangikah nilai Islam kalau salat dilakukan secara bilingual seperti praktik Ustadz Roy? Sebab banyak orang khawatir kalau salat saja dibahasa-indonesiakan, bagaimana yang lain?!

Itu kekhawatiran yang nantinya akan dibuktikan proses panjang sejarah. Kita tidak tahu kelanjutan proses perubahan itu. Tapi saya memandang kasus ini hanya sebatas usaha seorang muslim untuk memahami salat bukan sebagai ritual yang berlalu begitu saja, tapi sebagai medium pencarian kenikmatan batin.

Itulah yang saya lihat dari apa yang dilakukan Ustadz Roy. Hal-hal seperti ini akan menarik kalau kita kaitkan dengan kisah-kisah sufistik. Saya ingin mengambil contoh dari dunia sufi.

Konon, Nabi Musa yang sangat ketat dalam urusan syariah pernah mendengar seorang hamba berdo’a, “Ya Tuhan, aku ingin sekali berkhidmat pada-Mu. Aku ingin menyisir rambut-Mu, menyuci terompah-Mu, dan mamandikan tubuh-Mu.”

Mendengar itu, Musa lalu marah dan menganggap orang tersebut menghina dan menodai kebesaran Tuhan. Orang itu lalu berlari dari Musa, tapi Musa justru dibentak oleh Tuhan, “Mengapa Engkau bentak hamba-Ku. Dia hanya ingin mendekat pada-Ku, dan dengan cara itulah dia menemukan rasa kedekatannya pada-Ku. Karena itu, janganlah kamu bentak dia!”

Moral dari cerita ini: kita jangan hanya terpaku pada hal-hal yang lahiriah dari ibadah, karena unsur kedekatan dengan Tuhan itu tidak bisa dinilai dari aspek yang lahiriah saja.

Dan Ustadz Roy sudah mengatakan akan mempertanggungjawabkan ajarannya di dunia dan di akhirat. Mestinya dia tidak perlu dicerca dan dikriminalisasi, ya?

Sebetulnya ada cara pemecahan dalam soal perbedaan seperti ini. Dalam Alquran sendiri disebutkan, “Kalau kalian bersilang-selisih dalam suatu perkara, kembalikan saja kepada Allah dan rasul-Nya!”

Jadi, kita mesti mengembalikan persoalannya pada Allah dan rasul-Nya, bukan kepada Alquran dan Sunnah sebagaimana banyak ditafsirkan orang. Sebab kalau dikembalikan lagi pada Alquran dan Sunnah, orang akan kembali  berbeda-beda penafsiran. Karena itu, kembalikan saja peradilannya pada Allah dan rasul-Nya. Dialah yang kelak akan menentukannya.

Nah, sebetulnya apa yang diungkapkan Ustadz Roy itu juga sebentuk mubâhalah atau sumpah. Itu ‘kan upaya mengembalikan penghakimannya kepada Tuhan. Jadi Tuhanlah yang nantinya akan menentukan apakah dia sesat atau tidak. Kalau dia memang sesat, tentu Tuhan sudah menyediakan sanksi-Nya.

Sayangnya, kaum fikih selalu menafsirkan ayat itu sebagai ajakan untuk kembali pada Alquran dan Sunnah. Tapi dengan begitu kita kembali lagi berdebat tanpa ada ujung. Padahal, urusan memvonis sesat atau tidak itu adalah hak prerogatif Allah.

Bagi saya, kalau kita mengambil hak Allah, itu sudah perbuatan yang melebihi syirik. Itu sudah meng-coupt d ’etat Tuhan. Bahkan Nabi Muhammad pun pernah ditegur Allah dengan ayat “Lasta `alaihim bimusaithir” atau kamu tidak akan pernah bisa mengontrol keyakinan orang lain.

Dan soal ibadah memang menyangkut keyakinan orang, dan itu memerlukan ketulusan. Bagi saya, apa yang dikerjakan Ustadz Roy tak lebih ungkapan keikhlasan dan ketulusan hatinya dalam beribadah.

Pak Djohan, kalau tidak salah, dulu khutbah Jumat dan ‘Id juga diwajibkan berbahasa Arab, tanpa memperdulikan paham tidaknya audiens. Mungkin karena tidak ada hadis khususnya, tradisi itu bisa diubah, ya?!

Ya. Dan dalilnya pun hampir seperti itu. Karena khutbah Jumat bagian dari salat Jumat, dan salat Jumat berbahasa Arab, maka kutbahnya juga mesti berbahasa Arab. Tapi akhirnya dalil itu kembali ditafsirkan. Makanya bagi saya, yang bahaya dari apa yang terjadi sekarang adalah soal pelembagaan agama dan menjadikannya sebagai institusi yang bisa memaksa.

Lebih dari itu, kita punya pasal karet tentang penodaan agama [pasal 156 (a) KUHP] yang diberlakukan secara semena-mena!

Itu juga. Tapi perlu diingat juga bahwa para ulama sudah bersepakat bahwa fatwa agama itu bersifat tidak mengikat. Kalau tidak mengikat, mengapa harus dijadkan delik aduan kepada polisi?! Mestinya Ustadz Roy tidak bisa dikriminalisasi dan dilaporkan ke polisi.

Ambillah analogi dari fatwa MUI tentang syubhatnya bank konvensioal. Nah, apakah setelah adanya fatwa itu MUI lalu harus menghukum orang-orang yang masih berhubungan dengan bank konvensional? Analoginya ‘kan bisa begitu?! Mereka sudah mengatakan bahwa bunga bank konvensional adalah haram. Tapi apakah dengan begitu bank-bank konvensional harus dibubarkan?

Karena itu, mestinya fatwa MUI hanya mengikat secara moral. Dia bisa saja punya pendapat tentang sesat-tidaknya suatu paham agama, tapi dia tidak bisa memaksakan pandapatnya. Itu sudah di luar otoritas MUI.

Menurut Anda, apakah pasal 156 (a) KUHP soal penodaan agama ini masih relevan dalam sebuah negara demokratis?

Tidak! Apa yang dimakud dengan penodaan agama? Kalau saya tidak salah, di tahun 1960-an pernah juga ada Inpres soal penodaan agama ketika banyaknya bermunculan aliran-aliran klenik yang aneh-aneh.

Tapi itu selalu dipakai untuk alasan yang macam-macam. Kalau orang berbeda pendapat soal penafsiran agama, pasal itu lalu digunakan semena-mena. Lama-lama kita menulis artikel agama di koran saja bisa dikriminalkan.

Padahal, kita semua berhak mengajukan paham kita tentang agama, Alquran, dan lainnya. Kita ‘kan tidak hanya disuruh membaca Alquran, tapi juga berusaha memahaminya. Kalau kita tidak memahaminya seperti di dalam salat, kita akan terkena ayat “Wailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhûn” (celakalah orang-orang yang mengerjakan salat tapi mereka alpa di dalam salatnya!).

Jadi, kata sâhûn itu bisa juga diartikan tidak mampu memahami apa yang dia baca di dalam salat. Karena itu, logis juga kalau Abu Hanifah membolehkan salat tidak dengan bahasa Arab, biar kita tidak sâhûn. Nah, Ustadz Roy ini saya kira tidak ingin masuk ke dalam kelompok yang sâhûn tadi.

Dalam kasus Ustadz Roy, yang bermasalah bagi saya adalah orang-orang yang memaksakan pemahaman agamanya kepada orang lain. Ini yang saya tidak setujui dan memang faktual tidak bisa. Bagi saya, itu sebuah kesombongan. Ulama-ulama dulu saya kira tidak begitu. Kalau berbeda pendapat, mereka menuliskan argumennya.

Dulu perseteruan antara Persis dan Muhammadiyah juga cukup menggegerkan Indonesia. Tapi ketika berbeda, mereka tidak lalu meminta Pemerintahan Belanda untuk melarang atau mencekal salah satunya. Mereka berdebat dalam banyak hal.

Terhadap kelompok Ahmadiyah, mereka juga berdebat dan berpolemik di koran-koran dan majalah, tapi mereka tidak pernah meminta otoritas pemerintah untuk memberangus atau menangkap salah satunya. Artinya, lewat buku-buku yang mereka karang itu, masyarakat tahu dalil masing-masing. Jadi lebih bersifat intelektuil dan beradab.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.