Home » Kajian » Fikih » Maria Ulfah Anshor: “Fikih Aborsi tidak Hitam-Putih”
Maria Ulfah Anshor (Foto: kpai.go.id)

Maria Ulfah Anshor: “Fikih Aborsi tidak Hitam-Putih”

5/5 (1)

Pendapat fikih soal aborsi cukup beragam. Tapi faktanya kita tidak punya payung hukum yang dapat meregulasi soal aborsi. Apakah Anda berharap kajian Anda ini ditindaklanjuti menjadi undang-undang yang meregulasi soal aborsi yang aman?

Pada akhirnya, yang membuat kewenangan regulasi itu DPR dan pemerintah. Saya hanya ingin mengangkat wacana yang menawarkan solusi untuk perempuan. Jadi ada alternatif yang bisa kita lakukan.

Kalau kajian ini dianggap relevan dan masyarakat sepakat perlu ada payung hukum untuk melindungi praktik ini, dan supaya dokter punya jaminan hukum untuk melakukannya, saya pikir kenapa tidak?!

Sejauh ini, apakah Anda dan para aktivis perempuan belum mengusahakan ke arah itu?

Yang kami lakukan bukan mengusahakan UU soal aborsi, karena aborsi hanya bagian kecil dari keseluruhan soal kesehatan. Jadi yang paling relevan tetap UU kesehatan.

Sebab di situ tidak ada ruang untuk pengecualian-pengecualian dalam tindak aborsi. Sebab, kita tidak bisa melakukan aborsi seperti dalam kasus kehamilan yang tidak dikehendaki ini, kalau dalam klausul hukumnya tidak ada jaminan. Memang harus ada payung hukumnya.

Ada pendapat bahwa kita tidak bisa selalu memperhatikan nasib seorang ibu, tapi juga hak anak atau janin yang ada dalam kandungan untuk hidup. Imam al-Ghazali yang sering dikutip para ulama misalnya menyatakan bahwa sejak terjadinya pembuahan, sesungguhnya sudah ada kehidupan. Jadi tidak bisa digugurkan. Bagaimana menurut Anda?

Imam al-Ghazali dalam Ihyâ`Ulumuddîn memang mengatakan bahwa ketika terjadi konsepsi, transaksi tidak boleh dirusak lagi. Jadi beliau mengibaratkan proses pembuahan itu sebagai transaksi.

Jadi al-maujûd al-hâshil (sesuatu yang telah terkonsepsi) itu, tidak boleh dianulir. Tapi Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang lain, al-Wajîz juga mengakui bahwa pengguguran yang dilakukan dalam tahap `alaqah (gumpalan darah) itu tidak apa-apa.

Jadi yang perlu dianalisis dari pertentangan pendapat al-Ghazali ini adalah sisi hermeneutikanya. Mengapa al-Ghazali memiliki dua pandangan dan sikap yang berbeda-beda?

Setelah saya kaji, ternyata beliau menulis al-Wajîz dalam kapasitasnya sebagai ahli fikih. Belakangan, ketika menulis kitab Ihyâ `Ulûmuddin, beliau dalam tahap usia lanjut sebagai filosof dan ahli sufi yang pemikirannya “sangat arif sekali”.

Dalam kajian tentang hermeneutika yang ditulis pemikir Libanon, Ali Harb, dikatakan bahwa penglihatan yang sangat dalam dan kearifanlah yang menjadi metode dominan bagi kalangan sufi. Ini berbeda dengan metode kalangan ahli fikih yang melihat fakta-fakta dan kompleksitas suatu persoalan.

Lantas apa dapat dikatakan bahwa pandangan al-Ghazali dalamIhyâ sebagai revisi atas pandangannya dalam al-Wajîz?

Menurut saya, ada tahapan yang bukan berarti revisi. Sebab, al-Ghazali pun tidak mencabut pandangannya dalam al-Wajîz itu. Jadi kita justru dapat mengambil hikmah dan alternatif pemikiran dari sini.

Proses manusia untuk dapat memperoleh tahapan pemikiran ahli sufi itu kan juga butuh waktu yang lama. Nah, “kearifan” al-Ghazali itu bisa dikatakan yang ideal. Tapi untuk kondisi tertentu, itu juga tidak harus memaksa semua orang untuk berpikiran serupa seperti al-Ghazali.

Lantas bagaimana penelusuran Anda terhadap pandangan-pandangan lembaga resmi keagamaan di Indonesia tentang aborsi?

Pandangan lembaga resmi keagamaan seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah sama. Ketiga lembaga ini memfatwakan bahwa aborsi adalah haram. Jadi tidak ada elaborasi lebih lanjut. Pengecualiannya hanya untuk menyelamatkan nyawa ibu.

Tapi lagi-lagi, meski dimungkinkan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena tidak ada payung hukum untuk praktik aborsinya, kita kesulitan. Jadi praktik yang terjadi tetap ilegal sebetulnya.

Nampaknya ada jurang yang begitu lebar antara pandangan resmi keagamaan dengan fakta di lapangan. Sebab data menunjukkan kalau 87 % pelaku aborsi di Indonesia justru perempuan bersuami, misalnya karena gagal KB, alasan kesehatan, bahkan alasan karir. Jadi tidak semata-mata karena perzinahan, ya?

Tepat. Sekarang orang memilih untuk KB, tapi tidak ada jaminan bahwa KB itu akan aman. Ada juga program KB yang gagal, dan aspek-aspek negatif dari alat kontrasepsi, sehingga orang menyebutnya kebobolan alias kembali hamil. Artinya, kehamilan itu sesungguhnya tidak dikehendaki dan mungkin akan digugurkan.

Memang kalau kita bicara normatif, saya kira tidak ada satu orangpun yang berpendapat bahwa aborsi itu dibolehkan. Itu omongan yang ideal memang. Saya sendiri berharap aborsi tidak pernah terjadi.

Kalaupun dilakuan, ini kan sifatnya pengecualian. Makanya, perlu ada dokter yang memiliki keahlian, terjamin keamanannya, sesuai prosedur standar kesehatan untuk menolong.

Ini diperlukan agar kita punya solusi dalam kondisi-kondisi tertentu, bukannya lari ke dukun, tukang pijat, atau mengaborsi sendiri. Itu membahayakan nyawa perempuan.

Artinya, di sini pun agama tidak bisa memberi pandangan yang hitam-putih, bukan?

Seharusnya demikian. Karena syariat kan diturunkan, justru untuk memberi jalan keluar bagi umat manusia, bukan memberi ketentuan hitam-putih saja. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dipandang hitam-putih dalam agama, dan memang harus begitu. Dan, hukum aborsi termasuk bukan yang hitam-putih itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.