Home » Kajian » Filsafat » Haidar Bagir: “Akal adalah Rasul dalam Diri Manusia”
Haidar Bagir (Foto: haidarbagir.com)
Haidar Bagir (Foto: haidarbagir.com)

Haidar Bagir: “Akal adalah Rasul dalam Diri Manusia”

3.5/5 (2)

Dalam situasi di mana kalangan Islam banyak didominasi kecenderungan tekstual dalam beragama, adalah penting untuk menengok kembali tradisi filsafat Islam yang menekankan penalaran independen dalam mendekati teks agama. Menurut Dr. Haidar Baqir, filosof Islam dari Bandung mengatakan bahwa filsafat Islam nicaya memberikan kontribusi penting bagi tumbuhnya sikap terbuka. Berikut petikan wawancara Ahmad Sahal dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Dr. Haidar Baqir yang juga pendiri penerbit buku-buku Islam Mizan tentang berfilsafat dan bagaimana filsafat Islam, di Kantor Radio 68H Jakarta hari Kamis (6/12):

 

Filsafat Islam sekarang sepertinya “dilupakan” oleh masyarakat Islam. Pendekatan terhadap Islam banyak berorientasi tekstual sedangkan filsafat kan berorientasi rasio. Bagaimana menurut anda?

Saya kira itu ada hubungannya dengan perjalanan peradaban manusia, khususnya kaum muslim sendiri. Filsafat ini pernah suatu saat berkembang sangat pesat, tapi sifatnya yang sophisticated, membutuhkan disiplin tertentu, membutuhkan keakraban dengan metode-metode tertentu, kemudian cenderung terbatas pada kaum elit. Akibatnya mayoritas kaum muslimin tidak terlibat dalam kegiatan ini. Mereka lebih tertarik kepada bahasan Islam yang lebih simpel, lebih tekstual.

Sehingga akibatnya ketika sebuah konflik yang tidak tehindarkan antara kaum filosof dan kaum tekstualis pecah, maka mayoritas lebih cenderung untuk memihak kepada kaum ortodoks (kaum tekstualis). Rupanya akibat konflik itu terasa sampai abad-abad paling belakangan ini, dan sekarang rupanya peradaban umat manusia yang di dalamnya kaum muslimin berada sudah kelihatannya mencapai suatu tingkat di mana filsafat bukan saja diterima, tapi menurut perkiraan saya merupakan kebutuhan.

Apa akibatnya bila ketegangan antara pendukung rasionalitas dengan kaum ortodoks “dimenangkan” oleh kaum ortodoks?

Sesungguhnya pemecahan terhadap persoalan-persoalan praktis itu dikehendaki atau tidak, disadari atau tidak, seharusnya berakar pada pemahaman yang bersifat teoritis. Seperti saya katakan, kita mau bicara ekonomi yang ideal itu apakah yang kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain.

Itu kan mau tidak mau kita diskusi tentang definisi tentang keadilan. Kita membedah politik, pertanyaannya; apakah yang bagus itu demokrasi, atau otoritarianisme yang baik hati? Kembali lagi kita mesti diskusi tujuan berpolitik itu apa.

Setelah itu, baru mengembangkan solusi praktis itu dari pemahaman-pemahaman yang bersifat teoritis. Kalau upaya untuk merumuskan solusi-solusi praktis ini dilepaskan dari pembahasan-pembahasan yang bersifat filosofis teoretis maka kemungkinan besar ketika kita hendak menuju ke satu arah jalan, kita tidak berhasil ke arah itu tapi malah menuju ke arah yang tidak kita harapkan.

Seberapa jauh filsafat Islam bisa dimanfaatkan untuk melakukan dialog yang terbuka terhadap pemikiran apapun?

Filsafat itu kan per-definisi adalah satu disiplin yang percaya bahwa sampai batas tertentu penalaran yang independen (independent reasoning) —independen terhadap wahyu, dogma dan tradisi— bisa menuju pada kebenaran. Justru dengan sifatnya ini maka filsafat akan memungkinkan sebuah dialog lintas tradisi, lintas budaya, bahkan lintas historisitas juga.

Dalam hal praktis mungkin setiap masyarakat dan bangsa terikat oleh historisitas, kultur dan lain sebagainya, tapi ketika masuk ke wilayah filsafat yang percaya pada batas tertentu independent reasoning, maka itu semua tertransendensikan. Dialog menjadi mungkin. Justru di situ menurut saya letak pentingnya filsafat dalam hubungannya dengan dialog antar peradaban.

Kalau kita baca Alquran, dengan sangat tegas memberikan penghargaan kepada independent reasoning, meskipun dengan tidak memutlakkannya. Tapi saya kira seorang pembaca Alquran yang baik pasti mampu melihat itu.

Bahkan kalau kita kutipkan sebuah Hadis, dikatakan bahwa akal itu adalah Rasul di dalam diri manusia, sementara Rasul adalah akal di luar manusia. Bahwa sesungguhnya wahyu yang dibawa oleh para Rasul itu membawa kita ke satu titik yang akal juga bisa membawa kepadanya. Wahyu fungsinya adalah mengisi tempat-tempat di mana agama percaya itu berada di luar batasan manusia.

Agaknya uraian Anda belum sepenuhnya terlaksana. Buktinya kalangan Islam di Indonesia masih ada ketakutan terhadap kebebasan berpikir?

Titik pusat persoalan di situ adalah sikap terhadap posisi akal di dalam keseluruhan pemikiran keislaman. Kalau seseorang percaya terhadap legitimasi akal sebagai salah satu fakultas penemu kebenaran, maka bukan saja dia akan menggunakan independent reasoning di dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam, tapi bahkan dia akan percaya bahwa sampai batas tertentu kelompok manusia manapun punya kans untuk juga sampai pada kebenaran tertentu.

Bahwa betapa pun tampak aneh, meskipun mereka, katakanlah, kelompok kiri, dan sebagainya keberadaan akal sebagai esensi kemanusiaan mereka, itu akan memungkinkan mereka juga akan bisa mengambil bagian di dalam kebenaran.

Salah satu dari kaitan filsafat dengan praksis adalah mistisisme atau tasawuf. Dalam tradisi filsafat Islam, mistisisme itu kuat sekali, khususnya tradisi di luar Sunni. Mengapa demikian?

Pada dasarnya definisi filsafat secara umum itu juga mencakup mistisisme. Keduanya ini sama dalam satu hal; percaya bahwa kebenaran bisa dicapai lewat metode-metode ekstra wahyu. Bedanya adalah pada definisi akal. Kalau kaum falasifah percaya bahwa yang dimaksud akal itu reasoning, nalar, sementara kaum mistikus percaya bahwa akal itu adalah Intelek dengan I besar, bukan sekadar reason, tapi terkait juga dengan persoalan intuisi, praktek-praktek kesalehan, dan sebagainya.

Aliran filsafat pasca Ibn Rusyd, terutama yang berkembang di Iran, metode ini dipostulasikan dalam bentuk kebenaran yang harus dicapai oleh suatu metode yang suprarasional. Suprarasional itu tidak berarti anti rasional tapi melampaui sekadar batas rasional yang pada saat yang sama harus bisa diverifikasi dengan pendekatan rasional. Karena kalau tidak bisa diverfikasi lewat pendekatan rasional maka apa bedanya suatu pencapaian kebenaran objektif dengan khayalan, halusinasi dan sejenisnya.

Kalau begitu sebenarnya tradisi filsafat Islam bisa dianggap sebagai berada dalam suatu kontinum, gerak terus menerus. Bagi Anda, apa dan bagaimana obsesi Anda di Indonesia ini untuk filsafat Islam?

Saya kira kita semua ingin agar orang semua menangkap dengan sebenarnya apa itu filsafat Islam. Apa itu filsafat dan filsafat Islam dan orang menjadi tahu bahwa jauh dari sangkaan orang bahwa filsafat itu merupakan suatu kekuatan yang distortif terhadap kebenaran keislaman.

Filsafat itu sesungguhnya meupakan hanya salah satu approach, suatu pendekatan yang dengan pendekatan-pendekatan lain terhadap korpus tradisi Islam bisa membantu kita untuk menafsirkan Islam secara lebih dekat kepada apa yang dimaui oleh yang mewahyukan itu.

Lebih dekat itu berarti semangatnya pluralis?

O iya. Kalau kita bicara lebih jauh justru lewat filsafat ini kita akan memahami betapa meskipun manifestasi lahiriahnya agama-agama itu memiliki perbedaan-perrbedaan pada dasarnya akar atau sumbernya itu sesungguhnya sama.

Jadi, sebenarnya itu kontribusinya terhadap toleransi dan pluralisme dalam masyarakat majemuk itu sebenarnya positif sekali?

Sangat besar, karena kalau kita pelajari misalnya filsafat Islam justru berkembang. Mulai interaksi para pemikir Islam dengan peradaban lain seperti pemikiran Yunani yang dikenal sebagai tradisi hellenisme, kemudian peradaban Suryani, dan sebagainya. Juga dengan peradaban Kristen.

Interaksi dinamis dan tanpa didasari rasa takut dan prasangka terhadap pemikiran di luar Islam semacam inilah yang membikin peradaban Islam menjadi maju. Karena itulah kekhawatiran terhadap filsafat Islam tidak perlu ada.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.