Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Filsafat » Pencerahan Berjamaah Ikhwan al-Shafa
Ilustrasi kelompok Ikhwan al-Safa (Foto: Amaana.org)

Pencerahan Berjamaah Ikhwan al-Shafa

4.4/5 (5)

Bagi kalangan penguasa daerah, propaganda dan ideologi mereka membantu upaya untuk mendapatkan otonomi lebih dari penguasa Baghdad. Sementara bagi kalangan terdidik dan tercerahkan, yang menarik adalah sikap toleran mereka dalam soal keberagamaan dan keterbukaan mereka terhadap semua agama sekaligus pengetahuan-pengetahuan baru yang bersifat sekular (Sa’adev, hal. 125)

Berdasarkan klaim Ikhwanus Shafa sendiri, mungkin saja jumlah mereka cukup besar dan lumayan tersebar luas. “Kita punya ikhwan-ikhwan dan para sahabat dari kalangan mulia dan terhormat, tersebar di berbagai kawasan. Sebagian adalah anak raja, putra penguasa, menteri, pekerja biasa, dan penulis.

Sebagian lagi anak kalangan saintis, sastrawan, fukaha, dan juru dakwah agama. Yang lain anak pengusaha, karyawan, dan orang-orang yang bisa dipercaya. Dan untuk tiap-tiap mereka, kita sudah wakilkan saudara kita yang punya kecakapan dan pengetahuan untuk membimbing dan memberi saran dengan cara-cara yang lembut, santun, dan penuh cinta”.

Untuk taktik dakwah, tampaknya mereka lebih banyak mengandalkan jalur persuasi tanpa melakukan represi. Namun sistem jaringan dan sel tertutup yang mereka terapkan ini juga mengingatkan kita pada sistem yang digunakan oleh partai-partai dakwah modern (Ma’sum, hal. 81).

Dalam sistem jejaring dan sel itu, setiap sel bertemu secara berkala dengan para pembimbing mereka untuk keperluan analisis sosial terhadap kejadian aktual, mengulas petunjuk dari atasan, dan menelaah risalah-risalah yang ditulis untuk mereka.

Untuk itu para anggota sel berkewajiban, (1) berkumpul saban 12 hari; (2), mencari tempat aman bagi kegiatan; (3), bersuci dan bergaya secukupnya. Kehadiran bersifat wajib, dan tidak diperkenankan absen kecuali oleh alasan yang mendesak. Dalam pertemuan itu, wakil yang mengurus sel bertugas membacakan dan menjelaskan isi risalah mereka “…dari awal hingga akhir, risalah per risalah, makalah per makalah”.

Di luar agenda rutin itu, para propagandis Ikhwanus Shafa juga diharuskan memperhatikan persoalan mental, fisik, dan problem kehidupan para anggotanya secara cermat. Di lain sisi, solidaritas in group mereka tampak begitu kuat. Itu misalnya terpancar dari kutipan berikut:

“…Tidak ada suatu komunitas yang dapat berhimpun untuk perkara dunia dan akhirat yang lebih mampu memberi saran antar sesama selain solidaritas dalam kelompok Ikhwanus Shafa. Anda harus tahu bahwa alasan yang membuat Ikhwanus Shafa berhimpun adalah untuk menunjukkan dan memberitahu setiap anggotanya bahwa suksesnya kehidupan dunia dan keselamatan akhirat tidak akan tercapai tanpa sikap gotong royong antara sesama. Sementara sebab yang dapat menjaga keutuhan perhimpunan itu tiada lain adalah cinta, kasih sayang, belas kasih, dan rasa iba di antara setiap individu di dalamnya.” (Jabbur, hal. 74).

Namun bagaimana jika ada dari mereka yang membelot jamaah? “Berikan penjelasan kepada mereka dengan kata-kata yang santun, dan nasehati mereka bagai orang yang masih berharap. Bila mereka tetap tidak sudi kembali, maka segera hapus mereka dari daftar anggota, putuskan perwalian, tidak lagi meminta bantukan mereka, tidak bergaul lagi dengan mereka, tidak berbincang tentang ilmu kita, menutupi rapat rahasia kita, dan menasehati ikhwan-ikhwan lain untuk menjauhi mereka.”

Pendek kata, mereka tampaknya mencukupkan para pembelot dengan bentuk pemecatan dan sanksi sosial, tidak sanksi lain, apalagi menganjurkan kekerasan (Ma’sum, hal. 85). Dalam sistem seperti itulah Ikhwanus Shafa memasyarakatkan pemikiran filosofis dalam masyarakat Islam abad pertengahan.

Persimpangan. Karena hubungan antara agama dan filsafat selalu berlangsung antagonistis dalam masyarakat Islam, mau tidak mau Ikhwanus Shafa harus menentukan sikap soal hubungan antara keduanya. Tidak hanya mereka, al-Kindi dan al-Farabi pun telah melakukannya. Mereka secara umum berusaha mendekatkan atau melakukan harmonisasi antara keduanya.

Defenisi dan kategori-kategori pun dibuatkan baik untuk agama maupun filsafat. Misalnya, Ikhwanus Shafa berpendapat bahwa agama mengandung dua unsur, yaitu unsur teoretis dan praksis. Ketika hendak melakukan perbandingan antara agama dan filsafat, yang mereka maksudkan dengan agama di situ adalah aspeknya yang teoretis.

Sementara tentang filsafat, mereka menakrifkannya sebagai “upaya untuk meneladani Tuhan sebatas kemampuan manusia.” Dalam urainnya, Ikhwanus Shafa tidak melihat adanya pertentangan antara filsafat dengan agama, apalagi perseteruan. Memang, keduanya berbeda dalam ruang lingkup (majâl) dan instumen pencapai tujuan (adât). Keduanya pun dianggap punya kepribadian dan struktur tersendiri. Hanya saja, keduanya berkesesuaian dalam tujuan.

Menurut mereka, tujuan para nabi dalam membawa agama (nâmus) dan aturan hukum (syariah), sejajar dengan tujuan para bijak-bestari yang menjabarkan sisasat untuk memperbaiki dunia. Bahkan tidak hanya untuk perbaikan perkara dunia, “…tujuan mereka semua adalah memperbaiki dunia dan agama sekaligus.

Tujuan terjauh keduanya adalah menyelamatkan jiwa-jiwa manusia dari cobaan dunia dan penderitaan penghuninya. Juga menuntun manusia untuk sampai pada kebahagiaan akhirat dan mereguk kenikmatannya” (Ma’sum, hal. 127).

Artinya, pada akhirnya agama dan filsafat berkesesuaian dalam tujuan (al-ghâyah) meski berbeda dalam cara (al-wasîlah). Berkesesuaian dalam maksud dasarnya dan itulah nan pokok (al-ashl), walaupun berbeda dalam percabangan (al-furû). Perhatikanlah pernyataan mereka: “Ketahuilah bahwa ilmu-ilmu kearifan dan syariat kenabian itu keduanya adalah amar Ilahi.

Keduanya berkesesuaian dalam tujuan yang hendak dicapai dan inilah yang pokok (al-ashl) meskipun berbeda dalam soal cara (al-wasilah). Itu dikarenakan tujuan puncak dari filsafat adalah meneladani Tuhan sebatas kemampuan manusia sebagaimana sering kita sebutkan dalam risalah kita.

Adapun soko gurunya adalah empat perkara…” Keempat perkara itu adalah: 1. Mengetahui hakikat alam raya; 2. Menganut keyakinan yang benar; 3. Berkelakuan terpuji; 4. Bertindak cerdas. Semua itu pada akhirnya akan membawa manusia ke alam malakut dan setara dengan malaikat.

Sementara perbedan dalam cara, tak lain karena adanya perbedaan perangai manusia dan motif-motif yang selalu berubah dalam mental seseorang. Ini persis seperti upaya seorang tabib yang harus senantiasa mendiagnosis penyakit untuk tiap-tiap pasiennya, lalu menuliskan resep yang sesuai dengan masing-masing penyakit yang diderita.

Bagi Ikhwanus Shafa, andai seorang nabi tidak mendapatkan wahyu, maka mereka sesungguhnya benar-benar seorang filosof. Seorang nabi tidak akan dipilih dan diutus Tuhan kecuali dari kalangan orang-orang arif-bijaksana atau seorang filosof (Ma’sum, hal. 128). Lalu darimana pula hikayat perseteruan antara agama dan filsafat berpangkal? Bagi mereka, itu hakikatnya adalah perseteruan antara orang-orangnya saja, bukan betul-betul gap antara filsafat dan agama.

Sebagian ulama memusuhi filsafat “karena pendeknya sumbu pemahaman mereka tentang apa yang dikatakan kaum filosof. Atau, karena mereka memang tidak sudi meliriknya dan memfokuskan diri pada ilmu-ilmu syariat dan hukum-hukumnya. Atau karena arogansi saja.”

Sementara fakta bahwa di pihak filosof ada yang mengingkari agama, itu tiada lain karena “hilangnya kesempatan mereka untuk mengerti kitab suci agama-agama karena emoh membahas dan meremahkan isinya, ataupun karena pendeknya pengetahuan mereka tentangnya.”

Namun filosof benaran atau agamawan yang tulus bagi Ikhwanus Shafa bukanlah masalah. Yang bahaya justru yang tanggung dan setengah-setengah: filosof bukan, ahli agama pun tidak. Mereka inilah yang oleh Ikhwanus Shafa disebut al-mujâdilah atau kaum polemis yang biasanya diasosiasikan dengan para teolog.

Mereka-mereka ini, bagi Ikhwanus Shafa terhitung sebagai “manusia terburuk bagi ahli agama dan kaum asketisnya sekaligus; juga buruk bagi para saintis, dan paling keras permusuhannya terhadap kaum yang arif bijaksana.”

Demikianlah Ikhwanus Shafa tentang hubungan agama dengan filsafat. Intinya, harmonisasi agama dan filsafat mereka bukanlah menghimpun kebenaran-kebenaran filosofis dengan kebenaran-kebenaran agama. Mereka tidak menunjukkan penilaian yang berat sebelah kepada salah satunya untuk kemudian sampai kepada sintesis yang menghimpun antara unsur-unsur yang sama dan berkesesuaian sebagaimana dilakukan al-Farabi dan Ibnu Sina. Namun upaya mereka tak lebih dari menghindarkan pertentangan (raf’un nizâ`).

Dalam bahasa Adil Awa, mereka senantiasa berada di persimpangan jalan (fî muntashaf at-tharîq) antara iman dan akal, agama dan filsafat. Caranya, dengan menjelaskan sebagaian teks-teks agama dengan konsep-konsep filosofis yang bagi sebagian orang di tingkat intelektual tertentu tampak sebagai sesuatu yang keren (Maksum, hal. 131). Bagi mereka, filsafat adalah metode rasional untuk memahami agama.

Untuk lebih jelas lagi, upaya harmonisasi antara agama dan filsafat itu dapat dilihat dari tiga perkara. Pertama, pengakuan mereka terhadap nilai yang terkandung di dalam pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Kedua, menganggap nabi adalah filosof bila tak terlanjur mendapat wahyu. Ketiga, pandangan bahwa terdapat kandungan lahiriah dan batiniah dalam sumber-sumber ketentuan agama.

Dan makna batin dari agama ini hanya dapat diselami oleh orang-orang yang andal dalam bidang keilmuan. Konon, kata Ikhwanus Shafa, sebuah kutipan hadis mengatakan, “Kalau Aristoteles masih hidup, niscara ia akan beriman kepadaku.” Hadis ini bagi mereka menunjukkan bahwa para bijak bestari pun akan sampai kepada kebenaran yang sama dengan para nabi.

Namun, bukan tidak ada sikap kritis yang ditunjukkan Ikhwanus Shafa terhadap dogmatisme beragama. Mereka misalnya berpendapat bahwa, “…syariat telah dicemari oleh kebodohan dan bercampur-baur dengan kekeliruan-kekeliruan. Tiada jalan lain untuk mencuci dan mensucikannya kecuali dengan deterjen filsafat.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.