Home » Kajian » Filsafat » Pencerahan Berjamaah Ikhwan al-Shafa
Ilustrasi kelompok Ikhwan al-Safa (Foto: Amaana.org)

Pencerahan Berjamaah Ikhwan al-Shafa

4.4/5 (5)

Sebab filsafat mengandung kearifan dalam berkeyakinan (al-hikmah al-i`tiqâdiyyah) dan ketepatan dalam berkesimpulan (al-mashlahah al-ijtihâdiyyah). Namun begitu, harapan harmonisasi lagi-lagi tetap mengemuka. Misalnya dalam perkataan mereka: “Bila terjadi persekutuan antara filsafat Yunani dengan syariat Arab, maka sesungguhnya kesempurnaan telah tercapai (Iraqi, hal 45).

Tujuan Politik . Tendensi politik Ikhwanus Shafa dalam Rasâil memang tidak dapat dibantah. Karena itu, banyak pendapat yang mendiskreditkan Rasâ’il sebagai bentuk yang halus dari propaganda sekte Syiah Ismailiyyah untuk merebut kekuasaan Sunni Baghdad.

Thaha Husein misalnya menyebutkan, secara politis propaganda-propaganda mereka bertujuan untuk melakukan perombakan atau kudeta wacana di tingkat masyarakat untuk memperkuat basis perebutan kekuasaan. Namun pendapat seperti ini tidak begitu penting, karena semua mengakui bahwa Rasâ’il merupakan sebuah karya ensiklopedis yang berisi pandangan filsosofis yang kaya, disertai argumen rasional yang benderang dan meliputi banyak disiplin ilmu.

Bahkan, pendiri sekte Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pun, rupanya termasuk penikmat Rasâ’il. Dalam bukunya al-`Asal al-Mushaffa fî Tahqîqi Mushannifi Ikhwânis Shafâ’, dia berkomentar: “Ketika tuan Ahmad bin Abdullah—salah seorang yang disebut-sebut sebagai penulis Rasâ’il—menyangsikan berpalingnya umat Islam dari syariat Muhammad menuju ke filsafat, mereka lalu menulis Rasâ’il yang menghimpun segenap ilmu, kearifan, pengetahuan tentang ketuhanan, filsafat dan syariat (Tamir, hal. 13). Di sini tampak bahwa Ghulam Ahmad melihat karya ini sebagai bentuk tangkisan atau upaya defensif untuk menunjukkan bahwa rasionalisme masih mungkin di dalam agama.

Semangat keterbukaan terhadap setiap pengetahuan, mazhab, agama, dan umat lain sangat jelas terlihat dalam Rasâil. Ikhwanus Shafa misalnya menganjurkan para pengikut dan simpatisannya “…untuk tidak memusuhi ilmu atau memboikot buku jenis apapun, juga tidak dogmatis dalam bermazhab, karena gagasan dan mazhab mereka melingkupi semua mazhab dan pengetahuan manapun.” (Sa’adev, hal. 126). Semangat keterbukaan itu ditunjang oleh penghargaan mereka yang tinggi terhadap akal. Bagi mereka, posisi akal pada manusia sama dengan imam atau pemimpin suatu komunitas untuk menentukan keputusan akhir.

Bagi Arthur Sa’adev, akal mereka bersifat terbuka dan kritis. Itu misalnya dapat disimak dari pesan mereka kepada para pengikut: “Berupayalah saudaraku untuk menyingkap kebenaran yang dianut oleh setiap agama dan mazhab. Janganlah terpaku dengan apa yang kau anut saja dari agama dan mazhabmu.

Carilah yang lebih baik. Bila kau terjumpa yang lebih baik itu, jangan pula berhenti dengan yang mutunya lebih rendah. Engkau harus mengambil dan berpindah kepada yang lebih baik. Jangan pula terlalu menyibukkan diri dengan keburukan mazhab orang lain. Tapi periksalah: apakah engkau punya mazhab yang tidak bercela?” (Saadev, hal. 128)

Namun di luar keterbukaan mereka di bidang agama, tendensi politik pergerakan mereka tetap menjadi lahan perdebatan. Yang tidak dapat disangkal adalah kenyataan bahwa mereka hidup dalam lingkungan Syiah, meskipun tidak berafiliasi pada sekte manapun.

Misalnya itu terlihat dari pernyataan-pernyataan seperti: “Ketahuilah wahai saudaraku, di antara kita ada sekelompok orang dari yang seagama dengan kita; mereka mengakui kebaikan kita dan Ahli Bait kita, tapi mereka tidak mengerti akan ilmu kita dan abai akan rahasia-rahasia agama dan kearifan dari kita. Karena itu mereka menentang keberadaan kita dan ingin melenyapkan eksistensi kita” (Ma’shum, hal. 275).

Terlepas dari itu, mereka punya visi politik tertentu dan utopia tentang masyarakat yang hendak mereka bangun. Jelas terlihat, aktivitas Ikhanus Shafa bertujuan menyiapkan manusia (i’dâdul insân) untuk menjadi manusia bermartabat (insân fâdhil).

Persiapan itu misalnya dilakukan dalam bentuk pertemuan-pertemuan mereka yang berisi analisis persoalan yang mereka hadapi dan upaya mencari jawabnya. Lalu, penentuan struktur mental dan sosial dari negara utama (al-madînah al-fâdhilah) yang mereka cita-citakan.

Tendensi politiknya tampak di sini. Tapi bukankah itu sah-sah saja? Tidak sah pada masanya! Sebab, sebelum menggagas konsep tentang negara utama, Ikhwanus Shafa lebih dulu melakukan analisis sosial politik terhadap zamannya. Umpamanya dengan mengkritik suksesi kekuasaan yang tidak sewajarnya. Ketika khalihfah baru terpilih, “mereka bersegera menangkap keluarga penguasa sebelumnya sebagai balas dendam atas bapak dan para pendahulunya.

Mereka menyiksa, bahkan mungkin membunuh paman dan saudaranya, sepupu dan para kerabatnya. Mereka bisa juga dipenjara atau diasingkan, atau dilenyapkan sama sekali”. Menurut Ikhwanus Shafa, kebiasaan demikian itu bukanlah bagian dari watak orang-orang liberal (wa laitsat hadzihil khishal min syiyamil ahrâr). Karena itu, Adil Awa menyebut mereka sebagai gerakan kaum liberalis yang ingin mengorganisasi kekuasaan dengan nalar dan menegakkan visi keagamaan berlaku untuk semua di dalam kekuasaan tersebut (Awa, hal. 375).

Paling tidak ada empat persoalan besar yang diidentifikasi Ikhwanus Shafa yang sedang merongrong fondasi sosial kekuasaan Baghdad abad ke-4 H atau 10 M. Keempat soal tersebut adalah (1) buruknya etos kerja, (2) kelirunya visi memerintah, (3) lemahnya etika, dan (4) bertumpuknya kebodohan. Pangkalnya bermula dari soal kepemimpinan yang lemah. Karena itu, Ikhwanus Shafa menggagas kriteria pemimpin yang baik.

Keberadaan pemimpin memang mutlak dibutuhkan untuk keteraturan. Tapi orang yang menempati posisi ini haruslah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang mendekati kualitas kenabian: rasional, matang, pencinta ilmu, jujur, adil, berdedikasi, dan asketis. Siasat yang mereka jalankan hedaklah bertujuan untuk kebaikan semua mahkluk dan memperlakukan semua makhluk dengan beradab.

Adapun insan kamil yang ingin disiapkan Ikhwanus Shafa, secara eksplisit disebutkan seperti sosok yang “…berilmu dan punya intuisi, bernasab Parsi, beragama Arab, bermazhab Hanafi, berestetika Irak, beretos Ibrani, berhaluan Nasrani, beritual Syami, berpengetahuan Yunani, berintuisi India, dan berperilaku sufi.” Itu untuk tataran individu-individu. Adapun untuk tataran sosial dan negara, mereka mengajukan konsep negara utama yang juga dipengaruhi The Republic Plato dan pandangan idealistis al-Farabi.

Bagi Ikhwanus Shafa, karakteistik negara utama yang mereka canangkan “hendaklah berdasarkan rasa takut kepada Tuhan agar fondasinya tidak goyah. Juga diperkuat bangunan-bangunannya oleh kesatuan kata dan sanubari. Sementara soko gurunya haruslah berupa integritas dan dedikasi. Dan semua akan menjadi lengkap tercapai dalam nikmat yang berkeabadian.”

Sementara itu, faktor pendidikan memegang peran kunci dalam mempersiapkan negara utama itu. Fuad Ma’sum memerinci poin-poin yang dianggap penting oleh Ikhwanus Shafa untuk mencapai negara utama. Pertama, kebajikan utama ada pada pengetahuan. Dengan itulah manusia berkembang, maju dan bahagia. Kedua, pendidikan yang benar akan menguatkan sendi-sendi bermasyarakat.

Pendidikanlah yang menyiapkan warga negara yang baik dan pemimpin yang adil. Ketiga, negara adalah institusi pengajaran. Bila negara menjalankan perannya dengan baik dalam mendidik warga, maka akan mudah saja menuntaskan segala masalah. Keempat, pemegang kekuasaan negara hendaklah kelompok elit yang punya kualitas keilmuan dan budi pekerti yang baik. Kelima, perlunya spesialisai dan pendidikan profesi bagi mereka yang akan memegang jabatan di negara.

Keenam, sebagaimana Plato mengkritik kondisi rezim politik di masanya sebagai kendala utama perubahan, Ikhwanus Shafa pun menganggap rezim politik yang korup sebagai pangkal masalah. Ketujuh, perlunya menghilangkan ketidakadilan kelas. Setiap warga negara yang berprestasi dan berdedikasi berhak untuk sampai ke eselon tertinggi kepemimpinan negara (Ma’sum, hal. 324-325).

Pendek kata, Ikhwanus Shafa memancang tujuan terjauh dari konsep negara utamanya untuk mempersiapkan masyarakat manusia secara mental, pemikiran, kelakuan, untuk mencapai kebahagiaan. Tidak ada tujuan yang lebih tinggi daripada kebahagiaan. Dan kebahagiaan spiritual, bagi mereka melebihi kebahagiaan material.

Ini sesuai dengan pemeringkatan jiwa-jiwa manusia ala Ikhwanus Shafa. Dan semua gagasan tentang negara utama itu mereka lontarkan setelah melakukan analisis terhadap persoalan sosial politik yang berlangsung di masanya, dan referensi masa-masa sebelumnya. Kalau itu yang dimaksud dengan tendensi politik Ikhwanus Shafa, bukankah tidak mengapa juga?

Pengaruh. Pengaruh Ikhwanus Shafa dapat ditilik dari pergerakan dan aktivitas pemikiran yang datang belakangan. Adil Awa membuat daftar tentang gerakan-gerakan dan kaum intelektual yang ikut terinspirasi oleh Ikhwanus Shafa dalam pemikiran ataupun karya mereka. Sebagaimana Ikhwanus Shafa terpengaruh oleh pemikiran Muktazilah dan gagasan dari semua agama, mereka pun mempengaruhi sosok-sosok pemikir besar seperti Abu al-Hayyan at-Tauhidi.

Memang, at-Tauhidi yang diduga sebagai salah seorang propagandis mereka menggunakan kamuflase untuk mengelabui keberingasan Ahlus Sunnah. Ia yang cenderung berpikir filosofis sengaja melakukan kritik terhadap Ikhwanus Shafa (Awa, hal. 381).

Pada pemikir Kristen, Ikhwanus Shafa ikut mempengaruhi Yahya bin Adi (w. 363H/974 di Bagdad) terutama soal pandangan-pangangan humanisnya. George Zaidan pun berpendapat, “Filsafat dalam maknyanya yang hakiki tidak dikenal masyarakat Andalusia kecuali setelah sampai pada mereka Rasail” melalui intelektual Yahudi seperti al-Majrithi dan al-Kirmani. Penyair besar Arab, Abdullah al-Ma’arri juga tampak terpengaruh Ikhwanus Shafa karena ia pernah mengikuti pengajian Ikhwanus Shafa cabang Bagdad.

Yang terpengaruh dalam dosis yang paling tinggi adalah al-Ghazali. Beberapa karya al-Ghazali, baik dalam Maqâshid, al-Munqidz, maupun Ihyâ’, menunjukkan adanya jejak-jejak Ikhwanus Shafa. Hanya saja, de Bour menilai al-Ghazali telah mencampakkan filsafat kelas bintang lima Ikhwanus Shafa, lalu mengantinya dengan filsafat kaki-lima (Awa, 383).

Sementara Ibnu Khaldun, belakangan ini bukan hanya dianggap terpengaruh, bahkan dituduh sebagai plagiat Ikhwanus Shafa, terutama dalam teori-teori tentang peradaban. Dalam bidang pergerakan, Ikhwanus Shafa juga mempengaruhi agama Druz dan gerakan Hasyasyin (Assasin) dan dianggap punya andil besar dalam membendung gerakan sayap ekstrem Syiah Ismailiyyah, kelompok Qaramitah. Karya mereka juga sangat berpengaruh di kalangan Syiah Ismailiyyah di Yaman, Mesir, dan lainnya. Jadi, tidaklah sesat bila kita dengan serius menelaah karya yang amat berharga ini.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.