Home » Kajian » Hikam » Meditasi Ibn Ataillah (3): Bagaimana Engkau Bisa Sembahyang Saat Mabuk?
505446855_5c50c5aea6_z

Meditasi Ibn Ataillah (3): Bagaimana Engkau Bisa Sembahyang Saat Mabuk? Ngaji Hikam ke-15

4.8/5 (5)

Bismillahirahmanirrahim

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-15.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Am kaifa yathma’au an yadkhula khadrata ‘l-Lahi wahuwa lam yatahhar min janabat ghafalatih?

Terjemahan:

Bagaima mungkin seseorang berharap masuk ruang kehormatan Tuhan, sementara hatinya belum bersih dari kotoran kelalaian dan kealpaan?

Ini adalah meditasi dan renungan Syekh Ibn Ataillah yang ketiga, dan masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya: hubungan antara rohani/batin manusia dan Tuhan. Mari kita ulas renungan ini dengan dua pengertian: pengertian awam/umum dan khusus.

Pengertian umum. Kita masih berbicara bagaimana memusatkan ruang batin kita pada tujuan yang esensial dalam hidup. Saat lalai dari tujuan, dan kita tenggelam dalam “prenthil-prenthil” (tetek bengek) perkara yang bukan merupakan bagian dari tujuan hidup yang utama, kita sebetulnya megalami keadaan lalai dan mabuk. Orang yang mabuk tentu kehilangan keseimbangan, konsentrasi, fokus.

Dalam keadaan hilang fokus, kita akan sulit menyelesaikan tugas-tugas pokok kita. Pikiran kita cerai berai, kocar-kacir tak tentu, mengalami disorientasi, sehingga kita kesulitan untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

Keberhasilan dalam lapangan apapun dalam kehidupan ini hanya bisa dicapai jika seseorang bisa mengeliminasi semua hal yang bersifat distraktif, mengganggu pikiran, dan memobilisir seluruh perhatian dan tenaga mentalnya kepada satu tujuan yang telah dipilih. Kata kuncinya adalah, seperti di-“ngendikakke” atau dikatakan oleh Syekh Ibn Ataillah, “mencucikan diri dari sifat lalai”. Kata yang dipakai di sini menarik: lalai dan alpa adalah seperti hadath atau kondisi ketidak-sucian.

Dalam Islam, jika seseorang mau melakukan salat, ia harus menyucikan diri secara spiritual dan kejiwaan. Laku penyucian itu disimbolisasikan lewat kegiatan bersuci yang disebut wudu (untuk kotoran/hadath kecil) atau mandi (untuk kotoran/hadath besar).

Seseorang yang dalam hidupnya gagal memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang penting dan pokok adalah seperti orang yang sedang kentut dalam salat. Dia berada dalam kondisi “hadath” atau kotor. Ia harus berwudu, menyucikan diri, dari segala bentuk distraksi, gangguan yang melengahkannya dari tujuan hidup.

Hanya setelah bersuci, berwudu seperti itu dia akan bisa kembali ke “khittah” atau jalan utama, jalan hidup yang benar. Dan jika ia bisa mempertahankan kondisi suci seperti itu, kondisi terbebas dari “attachment” atau ikatan-ikatan dengan hal-hal yang distraktif, dia akan bisa mencapai tujuan besar dalam hidup: yaitu kebahagiaan yang tercapai karena dia berhasil mengerti dan memahami siapa dirinya yang sesungguhnya, “real self”-nya. Kebahagiaan yang terselenggara karena dia mengetahui sumber dari segala sumber kehidupan, yaitu Tuhan.

Pengertian khusus. Dalam Quran ada sebuah ayat yang menegaskan demikian: Janganlah kalian berdekat-dekat kepada salat pada saat mabuk! (QS 4:43). Syekh Ibn Ajibah memberikan tafsir “mistik” kepada ayat ini. Yang dimaksud “mabuk” di sini bukan sekedar mabuk biasa, mealainkan mabuk karena seseorang memenuhi hati dan ruang batinnya dengan segala hal yang bersifat kebendaan, hal-hal yang material, hal-hal yang membuat seseorang lalai dari Tuhan.

Pada saat hati seseorang penuh oleh pikiran mengenai hal-hal kebendaan, dia bisa lalai, tenggelam dalam pikiran itu, lupa pada tujuan hidup yang utama, pada Tuhan yang merupakan sumber dan tujuan kehidupan manusia; ia lalai dan tenggelam dalam pikiran itu, seperti lalainya orang mabuk.

Dalam keadaan engkau sedang mabuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi, engkau masih bisa melakukan salat, dan salat anda sah menurut hukum fikih yang normal. Tetapi menurut hukum kebatinan, kerohanian, salat yang dilakukan pada saat pikiran dan batin kita mabuk dan sibuk dengan urusan-urusan duniawi, salat semacam itu batal, tidak sah secara rohaniah. Sebab engkau salat dalam keadaan mabuk.

Salat hanya akan membawa manfaat rohaniah yang besar jika kita melakukannya tidak dalam keadaan “mabuk benda”. Salat yang membawa faedah rohaniah adalah salat yang dilakukan dalam keadaan rohani dan batin kita hadir terus bersama Tuhan. Itulah yang disebut “hadrah” atau “hudur”. Ada istilah dalam bahasa Inggris yang biasa dipakai dalam membahas tema-tema kesufian: yaitu presence yang maknanya sama dengan “hudur”. Kata ini kemudian dipinjam dalam bahasa Indonesia, menjadi “hadir”.

Menurut Syekh Ibn Ajibah, ada tiga jenis kehadiran: kehadiran hati (hadrat al-qulub), kehadiran roh (hadrat al-arwah), dan kehadiran batin yang paling terdalam yang disebut dengan “sirr” atau rahasia rohaniah (hadrat al-asrar).

Kehadiran hati adalah kehadiran tingkat pertama bagi orang-orang yang sedang memulai perjalanan tasawwuf. Mereka ini disebut “al-sa’irin”. Kehadiran roh adalah kehadiran yang dicapai oleh orang-orang yang mulai mampu melihat kilatan-kilatan rahasia ketuhanan, orang-orang yang disebut dengan “al-mustasyrifin”. Kalau di pesantren, kita biasa memakai istilah “nginguk-nginguk” (istisyraf): yakni melihat dengan sekelebat, sebentar saja.

Kehadiran ketiga adalah kehadiran bagi mereka yang disebut dengan “al-mutamakkinun”, orang yang sudah mencapai puncak gunung rahasia ketuhanan dan menetap “anteng” di sana.
Intinya: proses menuju Tuhan melalui kegiatan salat adalah seperti orang yang melakukan perjalanan, “journey”. Sebuah perjalanan tidak bisa dilakukan “sak deg sak nyet”, mendadak langsung sampai di tujuan. Harus ada proses gradual, bertahap.

Salat, jika kita lakukan dengan cara pandang kebatinan atau tasawwuf, pada dasarnya adalah “mental training”, atau bahkan “spiritual training”: olah jiwa, melatih bagaimana mengendalikan hati dan pikiran agar pelan-pelan kita sampai pada tujuan akhir, yaitu hadir di ruang suci ketuhanan.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari renungan Syekh Ibn Ataillah ini? Dalam hidup ini, jika anda mampu, berusahalah untuk mempertahankan diri terus dalam keadaan bersuci, keadaan berwudu. Setiap anda kentut dan mengalami kondisi “hadath” atau kotor, segeralah burwudu kembali.

Yang dimaksud dengan berwudu di sini bukan wudu fisik: mencuci muka, tangan, kepala, telinga dan kaki dengan air. Bukan. Itu adalah wudu lahiriah. Yang dimaksud di sini adalah wudu kebatinan, wudu rohani, wudu esoterik, wudunya orang-orang yang ingin membersihkan hatinya dari hal-hal yang bersifar kebendaan, sehingga lalai dari Tuhan.

Berwudu dalam pengertian rohaniah artinya adalah kembali kepada kondisi “eling”, ingat, kembali kepada jalan utama menuju Tuhan. Saat anda lengah, sucikanlah, wudukanlah rohani anda. Kembalilah kepada tujuan utama dalam kehidupan anda, kepada Tuhan.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.