Home » Kajian » Hikam » Meditasi Ibn Ataillah
6263259190_2b1dff1422_z

Meditasi Ibn Ataillah Ngaji Hikam ke-13

5/5 (1)

Bismillahirahmanirrahim

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-13.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Kaifa yusyriqu qalbun shuwarul akwani munthabi’atun fi mir’atihi.

Terjemahan:

Bagaimana hati bisa bersinar terang sementara cerminnya “dikotori” oleh gambar-gambar “kahanan” atau wujud material.

Pada bagian ini dan dua pasal berikutnya, kita akan mendengarkan meditasi Ibn Ataillah serta renungan-renungannya yang, bagi saya, sangat indah sekali. Meditasi Ibn Ataillah begitu puitis, begitu rohaniah, begitu artistik. Keindahan renungan Ibn Ataillah bukan semata-mata karena permainan kalimat yang licin dan mengkilap, melainkan karena tenaga rohaniah yang dahsyat yang “muncrat” bagi mata air dari dalam kalimatnya itu.

Mari kita mencoba memahami renungan Ibn Ataillah ini dengan pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Rohani dan dunia batin kita tak akan bisa bersinar dan memiliki daya tangkap yang sensitif jika di dalamnya terdapat pelbagai bentuk gangguan, distraksi. Jika dunia batin kita keruh, karena tetek-bengek urusan duniawi yang membuat fokus perhatian kita tercerai-berai, maka sulit bagi batin kita untuk bersinar, jernih, seperti kaca yang tak berdebu.

Kita bisa merasakan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika hati kita keruh karena gangguan suatu masalah, kita akan sulit untuk memusatkan perhatian, kita akan kehilangan konsentrasi, batin kita akan cerai-berai seperti pasir yang diterpa angin badai. Selama kita tak bisa merebut kembali hati dan batin kita, mengosongkannya dari gangguan-gangguan itu, selama itu juga kita akan gagal melakukan sesuatu yang berguna. Sebab kita telah kehilangan konsentrasi.

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam kehidupan biasanya membutuhkan konsentrasi yang penuh dan konsisten. Konsentrasi yang penuh, intensif, dan konsisten adalah persis dengan kaca suryakanta. Kita bisa membakar kapas, misalnya, dengan memusatkan sinar matahari melalui kaca suryakanta. Jika kaca itu bergerak-gerak, tidak konsisten diarahkan ke kapas, maka kapas itu tak akan terbakar.

Kesuksesan yang besar dimulai dari hal yang sederhana: kemampuan menata fokus dan konsentrasi. Ini perkara yang mudah dikatakan, tapi tak semua orang bisa melakukannya. Di zaman ketika godaan-godaan datang dari segala arah, entah hiburan, media sosial, berita yang datang susul-menyusul tanpa henti, kita kadang kehilangan kemampuan untuk konsentrasi.

Anda sekarang bisa bertanya pada diri anda sendiri: setelah munculnya teknologi digital, apakah kemampuan anda untuk konsentrasi membaca dalam waktu yang cukup lama makin bertambah atau berkurang? Saya khawatir jawabannya adalah yang kedua: makin berkurang. Sebab teknologi digital menggoda orang untuk pindah dari satu “jendela” (window) ke jendela lain lagi. Kita tak betah berlama-lama menghadapi satu jendela informasi. Ingin segera pindah.

Inilah persisnya penyakit yang menjadi bahan renungan Syekh Ibn Ataillah. Hati kita tak akan bisa bersinar dan kaya dengan ilham yang mengalir kalau dia disesaki dengan banyak godaan yang mengalihkan perhatian.

Begitu juga hati seorang beriman, tak akan bisa bersinar terang untuk menerima ilham dari Tuhan jika isinya penuh dengan “akwan” atau obyek-obyek duniawi yang mengganggu.

Bagaimana ilham dan pengertian tentang hakikat hidup bisa melimpah-mencurah dari Tuhan kepada hati kita, jika kita memenuhi hati kita itu dengan pikiran-pikiran mengenai dunia. Sebab Tuhan tidak bisa dimadu, diduakan. Jika kita tak memusatkan perhatian kita seluruhnya pada Tuhan, kita tak akan mendapatkan pengertian rohaniah dariNya.

Pengertian khusus. Hati manusia bisa diserupakan dengan kaca atau besi, seperti disebutkan dalam sebuah hadis. Nabi bersabda: Sesungguhnya hati manusia itu bisa mengalami karatan seperti besi. Dan sesungguhnya iman itu bisa menjadi “iman lungsuran”, persis seperti baju baru yang lama-lama menjadi baju lungsuran.

Hati yang karatan adalah hati yang terhijab, terhalang untuk “syuhud”, menyaksikan Tuhan. Yang bisa membuat hati terhalang adalah “akwan”, yaitu segala hal selain Tuhan. Orang Jawa memiliki istilah padanan yang baik untuk istilah “akwan” yang banyak dipakai oleh kalangan sufi itu — yaitu “kahanan”. Kahanan atau wujud ciptaan Tuhan bisa menjadi penghalang antara kita dan Tuhan. Kecuali jika kita mampu memahami “kahanan” itu sebagai tanda-tanda Tuhan.

Menurut Syekh Ibn Ajibah: Jika Tuhan ingin menunjukkan kepeduliannya kepada seorang hamba, maka Dia akan menyibukkan hati dan pikirannya dengan rahasia-rahasia ketuhanan, dan melepaskan dia dari ikatan-ikatan dengan “kahanan” atau obyek material yang gelap.

Sebaliknya, jika Tuhan ingin merendahkan derajat seorang hamba, maka Dia akan menyibukkan hati dan pikirannya dengan obyek-obyek material yang gelap itu hingga ahirnya hati dan pikirannya gelap.

Apa yang bisa kita pelajari dari hikmah Ibn Ataillah ini? Kita mesti terus-menerus mempertajam mata batin kita dengan cara membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang bisa membuat lengah, mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Hati yang dipenuhi dengan obyek-obyek duniawi lama-lama bisa gelap dan sinarnya padam. Jika mata hati kita padam, kita akan kehilangan kontak dan komunikasi dengan sumber kehidupan, yaitu Tuhan.

Seorang yang beriman adalah orang yang bisa menjaga fokus dan konsentrasi. Sebab, beriman kepada Tuhan pada dasarnya adalah proses kejiwaan agar kita melatih diri untuk bisa mengarahkan fokus pada Tuhan saja. Orang yang “kafir” adalah orang yang perhatiannya buyar, cerai-berai, tidak bisa terpusat kepada pusat dan fokus yang tunggal. Sebagaimana anda tak bisa menangkap obyek jika fokus kamera anda bergerak-gerak terus, begitu juga saat kita tak bisa menjaga fokus hati kita. Kita akan gagal “menangkap” Tuhan.

Seorang beriman tak selayaknya menjadikan dunia sebagai fokus satu-satunya dalam kehidupan. Untuk sementara waktu, kesuksesan duniawi bisa membawa kepuasan. Tetapi kepuasan duniawi ada batasnya. Pada satu titik kita akan bosa dengan kesuksesan semacam itu, dan mencari sesuatu yang lebih. Kepuasan spiritual adalah sebenar-benarnya kepuasan yang layak diburu oleh seorang beriman.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.