Home » Kajian » Hikam » Penderitaan Memperdalam Pengertian tentang Makna Hidup
5817704023_e52244c9af_o

Penderitaan Memperdalam Pengertian tentang Makna Hidup Hikam 8

4.93/5 (15)

Bismillahirahmanirrahim

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-8.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

إذا فتح لك وجهة من التعرف فلا تبال معها ان قل عملك . فإنه ما فتحها لك إلا وهو يريد أن يتعرف إليك. أىم تعلم إن التعرف هو مورده عليك ، والأعمال أنت مهديها إليه ؟ و اين ما تهديه إليه مما هو مورده عليك ؟

Idza fataha laka wijhatan min al-ta’arrufi fala tubali ma’aha in qalla ‘amaluka. Fi innahu ma fatahaha laka illa wahuwa yuridu an yata’arrafa ilaika. Alam ta’lam anna al-ta’arrufa huwa muriduhu ‘alaika, wa al-a’malu anta muhdiha ilaihi? Wa aina ma tuhdihi ilaihi min-ma huwa muriduhu ‘alika?

Terjemahannya:

“Jika Dia (Tuhan Yang Maha Benar) ingin membuka diri (melalui penderitaan yang menimpamu) untuk engkau kenal, maka (bergembiralah, bersuka citalah; dan) jangan bersedih hanya gara-gara amal dan pekerjaanmu yang berkurang (karena penderitaan itu).

Sebab, Dia tak akan membuka diri seperti itu kecuali memang agar engkau bisa mengenalNya lebih dekat. Apakah engkau tidak tahu bahwa perkenalan itu adalah sesuatu yang Dia anugerahkan pada dirimu, sementara amal-amalmu adalah sesuatu yang engkau persembahkan kepadaNya? Bagaimana mungkin engkau akan membandingkan persembahanmu dengan anugerahNya?”

Kebijaksanaan Sykeh Ibn Ataillah kali ini akan berbicara mengenai pengalaman penderitaan – sesuatu yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia. Saya akan mencoba menjelaskan kebijaksanaan yang mendalam ini dengan dua pengertian. Pengertian awam dan pengertian khusus.

Pengertian awam. Hal yang tak terhindarkan dalam hidup manusia adalah penderitaan fisik, entah berupa penyakit, kemiskinan, atau penderitaan-penderitaan lain yang membuat kita tidak nyaman. Pengalaman ini kerap membuat seseorang merasa putus harapan, atau bahkan menyalahkan dan mengutuk Tuhan.

Apalagi jika penderitaan itu mencapai level yang ekstrim.

Dalam bagian yang lalu, kita diajarkan untuk bersikap positif manakala doa dan permintaan kita tak segera dikabulkan Tuhan. Menghadapi situasi semacam itu, kita diharuskan berbaik sangka. Barangkali Tuhan punya rencana lain.

Bagian ini masih merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya. Jika bagian sebelumnya berbicara mengenai permintaan dan doa, bab ini berbicara mengenai cobaan yang kadang kita derita dalam hidup.

Sebagai orang beriman, kita diajak oleh Ibn Ataillah agar bersikap sama menghadapi cobaan ini. Yaitu berbaik sangka. Menurut Ibn Ataillah, cobaan dan penderitaan dalam hidup adalah cara Tuhan ingin mengenalkan diriNya kepada kita. Penderitaan adalah sarana Tuhan mau menjadikan diriNya lebih dekat kepada kita.

Sakit, kemiskinan, penderitaan adalah “wijhat min al-ta’arruf”, cara Tuhan menyingkap diri agar kita kenali secara lebih dekat lagi.
Bagaimana ini bisa dijelaskan?

Jika kehidupan kita berjalan mulus saja seperti berkendara di jalan tol yang bebas hambatan, tak ada gangguan, tak ada soal, tak ada tantangan – maka kehidupan seperti itu memang tampak menyenangkan. Tetapi benarkah kehidupan yang tanpa gelombang dan ombak layak kita jalani? Bukankah kehidupan seperti itu malah membosankan karena tak mengenal petualangan?

Kita bisa menikmati hidup justru karena ada gelombang cobaan yang berhasil kita atasi. Saat kita berhasil mengatasi sebuah masalah, kita merasa bahwa plong, lega. Kita merasa diri kita secara kejiwaan makin matang, makin dewasa, makin bijaksana.

Jadi, penderitaan, jika disikapi secara positif, membuat pengertian dan pemahaman kita tentang makna hidup lebih dalam.

Jika engkau tahu makna hidupmu, maka artinya engkau makin dekat dengan Tuhanmu. Sebab, para sufi mengatakan, man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu. Barangsiapa tahu siapa jati dirinya, siapa “the real self”-nya, maka dia telah mengenali Tuhan. Siapa yang tak tahu jati dirinya, tak memahami tujuan hidupnya, ia sama saja tak kenal Tuhan.

Penderitaan kerap membuat kita makin matang secara kejiwaan; membuat kita makin dekat dengan Tuhan. Jadi, penderitaan adalah uluran tangan dari Tuhan untuk berkenalan dengan Dia. Sambutlah uluran tangan itu dengan penuh suka-cita. Jangan mengeluh dan sedih saat menderita. Itulah jalan menuju kematangan jiwamu. Itulah jalan engkau mengenali sumber hidupmu.

Pengertian khusus/mistik. Penderitaan memang tampak di permukaan seperti cerminan dari sifat keperkasaan Tuhan. Tuhan dengan sifat Jalal atau keagungan dan keperkasaanNya, menampakkan diri dalam bentuk kesakitan dan cobaan yang diderita oleh manusia.

Tetapi, jika kita hayati lebih dalam, cobaan bukan saja mencerminkan sifat Jalal Tuhan, tetapi juga sifat Jamal atau keindahanNya. Kata Syekh Ibn ‘Ajibah, cobaan manusia (disebut al-ta’arrufat al-qahriyyah), “zahiruha jalalun wa batinuha jamalun”. Cobaan kelihatannya menakutkan kita, tetapi sejatinya ia cerminan dari keindahan Tuhan.

Para sufi melihat penderitaan sebagai pengalaman tentang keindahan Tuhan. Saat kita sakit, kita mengalami keindahan Tuhan karena dengan sakit itu kita bisa makin intens dan mendalam hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita sakit, hubungan cinta kita dengan Tuhan makin diperkuat.

Karena itu, jangan mengeluh karena sakit, misalnya, telah membuatmu kehilangan kesempatan untuk melaksanakan ibadah fisik. Misalnya, saat sakit kita tak mampu melaksanakan sembahyang atau puasa seperti biasa.

Jika anda sakit, jangan merasa “ngenes”, “nelangsa” atau sedih karena kehilangan salat dan puasa. Sebab nilai sakit yang dicobakan Tuhan kepadamu lebih tinggi daripada ibadah fisik.

Bagaimana bisa demikian? Ibn Ataillah memberikan penjelasan yang sangat menarik. Saat engkau sakit, Tuhanlah yang pro-aktif mendekatimu, mengenalmu. Saat engkau beribadah (seperti salat dan puasa), engkau lah yang pro-aktif pe-de-ka-te (istilah anak muda sekarang) terhadap Tuhan.

Mana yang lebih baik? Tuhan yang pro-aktif mendekati kamu? Ataukah kamu yang pro-aktif mendekati Tuhan? Tentu yang pertama yang jauh lebih berkualitas. Karena itu, sambutlah penderitaan dengan sikap optimisme, kegembiraan, sebab Tuhan sedang mendekatimu, sedang ingin mengenalmu.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari ajaran Syekh Ibn Ataillah ini? Saya terus terang kagum dengan tafsir penderitaan semacam ini. Inilah salah satu keindahan dunia sufi. Dunia sufi mampu memberikan tafsiran yang sangat optimistik terhadap momen-momen yang menyakitkan dalam hidupan manusia seperti sakit dan kemiskinan.

Penderitaan tak harus dikutuk dan disesali. Penderitaan dihayati dan dimaknai sebagai sarana yang mendekatkan kita pada Tuhan.

Jadi, terserah pada anda. Anda mau menghayati sakit dengan sikap negatif, mengeluh, memprotes, tetapi toh tak mengubah keadaan juga? Ataukah anda mau bersikap yang justru secara radikal berbeda: sakit adalah pengalaman indah yang membuat kita lebih memahami makna dan tujuan hidup?

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.