Home » Kajian » Hikam » Segalanya Bermula dari Hati Kita
18006857478_290cf50eb1_z

Segalanya Bermula dari Hati Kita Hikam 9

4.83/5 (12)

Bismillahirahmanirrahim

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-9.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Tawwa’at ajnas al-a’mal bi tanawwu’ waridat al-ahwal.

Terjemahannya:

Amal dan pekerjaan kita berbeda-beda kualitas dan jenisnya karena perbedaan keadaan spritual yang kita alami.

Kebijaksanaan Ibn Ataillah yang sangat sederhana ini memiliki makna yang mendalam. Saya akan mengupasnya dari sudut pengertian yang umum atau awam, dan pengertian yang khusus.

Pengertian awam. Apa yang ada dalam hati dan batin kita menentukan jenis-jenis pekerjaan yang kita lakukan. Pekerjaan kita mencerminkan suasana hati kita. Pekerjaan lahir hanyalah seperti baju luar. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan ditentukan oleh pikiran, hati dan niat kita.

Karena itu, tugas seorang beriman adalah bukan membiarkan seluruh perhatiannya diserap oleh hal-hal yang sifatnya lahir. Sebab yang nampak di permukaan, yang kelihatan di luaran, hanyalah cerminan dari hal-hal yang sifatnya batiniah itu. Seorang beriman seharusnya lebih sibuk memperhatikan hati, niat, yang ada di dalam batinnya.

Ilmu tasawwuf biasa disebut sebagai kedokteran roh, jiwa atau batin (tibb al-arwah atau al-tibb al-ruhani). Sementara kedokteran yang dipraktekkan oleh para dokter di rumah sakit adalah kedokteran badan (tibb al-ajsad). Sebagaimana badan kita harus diobati jika sakit, begitu juga roh dan batin kita juga harus dirawat dan diobati saat mengalami ketidak-beresan.

Kedokteran batin jauh lebih penting daripada kedokteran badan, meskipun kedokteran badan tampak lebih mentereng dan mewah, dengan bangunan rumah sakit yang “magrong-magrong”, yang besar.

Sebab jiwa lah yang mengendalikan badan. Jika badan telah kita sehatkan di rumah sakit melalui kedokteran badan, tetapi jiwa dan batin masih sakit, maka badan yang sehat itu bisa dipakai untuk melakukan hal-hal yang destruktif.

Karena itulah, ilmu olah batin menjadi penting agar kita bisa menata jiwa kita sehingga ia bisa menjadi pengendali yang baik bagi badan.

Nabi bersabda: Ingatlah, dalam diri kita ada seonggok daging. Jika ia baik, maka seluruh badan juga baik. Jika ia buruk, seluruh badan juga buruk.

Banyak penyakit fisik yang sumbernya bukan dari badan yang sedang tak sehat. Melainkan dari hati dan kondisi mental yang buruk. Sikap hidup yang negatif, negative thinking, bisa membuat kita sakit secara fisik, selain sakit jiwa.

Karena itu, menata hati dan mengkondisikannya agar sehat dan bugar jauh lebih penting dari merawat badan. Sebab semuanya bermula dari hati dan batin kita. Ini bukan berarti merawat badan tak penting. Sebab, dalam badan yang sehat juga terdapat batin dan jiwa yang sehat.

Kebijaksanaan ini hanya mau menunjukkan saja: jangan lengah pada yang batin, yang tak tampak. Sebab itu mengendalikan tindakan lahir kita.

Pengertian khusus/mistik. Dalam kalangan sufi dikenal istilah “ahwal”, yaitu kondisi batin seorang pelaku tasawwuf. Ahwal atau kondisi batin ini tidak bersifat tetap, melainkan berubah-ubah. Perubahan ahwal tercermin juga pada keadaan lahiriah dalam keadaan seseorang.

Jika seseorang mengalami keadaan yang disebut “qabd”, atau kondisi batin yang mengkerut, maka itu akan tercermin dalam keadaan lahiriahnya: yaitu sikap diam dan merasa berat untuk bertindak/beribadah.

Jika hatinya mengalami “basth” atau mekar dan terbuka, maka ia akan terlihat juga dalam tindakan lahiriahnya. Dia akan merasa bersemangat dan ringan beribadah.

Jika seseorang mengalami kondisi yang disebut dengan “hirsh” atau tamak dan loba, maka itu juga akan tercermin dalam kondisi fisiknya. Orang yang loba dan tamak akan kelihatan grusa-grusu, kemrungsung, ngotot, dan akhirnya lelah sendiri secara mental. Kelelahan mental itu juga akan tercermin dalam fisiknya juga. Ia akan tampak lesu dan capek.

Menata ahwal atau kondisi batin ini sangat penting bagi seorang sufi, sebab ia menentukan martabat dan tingkatan yang bersangkutan.

Apakah seorang sufi disebut ‘abid (seorang yang tekun beribadah), wari’ (seorang yang menjauhi hal-hal yang secara moral tak bisa dipertanggungjawabkan, “scrupulous”), zahid (seorang yang menjauhi kemewahan), atau ‘arif (seorang yang mencapi hakikat hidup dan ketuhanan) – ya, apakah ia disebut ini atau itu, tergantung sepenuhnya pada ahwal yang ada pada dirinya.

Apa pelajaran yang layak kita petik dari kebijaksanaan Ibn Ataillah ini?

Karena segala hal bersumber dari hati dan batin kita, maka kita harus benar-benar merawat dan melatih batin ini agar tertanam di dalamnya sifat-sifat yang baik, sifat-sifat ketuhanan. Jika seorang beriman bisa menghiasi batinnya dengan sifat-sifat ini, maka seluruh badannya akan mengerjakan semua hal yang baik.

Lingkungan sosial yang diisi oleh orang yang sehat secara mental juga akan menjadi lingkungan yang sehat. Dalam lingkungan seperti inilah semestinya anak-anak kita dibesarkan, agar saat besar nanti bisa mengembangkan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.