Home » Kajian » Hikam » ‘Uzlah Bukan Tujuan pada Dirinya Sendiri
2273195450_499070ee30_z

‘Uzlah Bukan Tujuan pada Dirinya Sendiri Ngaji Hikam ke-12

4.75/5 (4)

Bismillahirahmanirrahim

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-12.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ma nafa’a al-qalba syai’un mitslu ‘uzlatin yadkhulu biha maidana fikratin.

Terjemahan:

Tak ada sesuatu yang lebih berguna buat hati kita kecuali tindakan menyingkir dari keramaian masyarakat (‘uzlah) yang disertai dengan kegiatan ber-tafakkur (merenung/berpikir).

Ada dua pengertian untuk kebijaksanaan Ibn Ataillah ini: pengertian awam dan pengertian khusus.

Pengertian awam/umum. Dalam bagian yang lalu, Ibn Ataillah sudah mengulas mengenai dua konsep penting, yaitu ikhlas dan khumul. Kedua hal itu saling terkait. Ikhlas adalah mengerjakan sesuatu bukan karena pamrih sesaat, misalnya sekedar untuk meraih gaji atau menyelesaikan kewajiban saja. Ikhlas adalah dedikasi dan komitmen pada suatu pekerjaan. Atau, dalam bahasa agama, ikhlas adalah mengerjakan sesuatu hanya karena Tuhan saja. Bukan karena tujuan lain.

Khumul adalah membenamkan diri agar tak kelihatan oleh orang ramai. Ikhlas biasanya memang akan mudah dicapai jika kita bisa memiliki sikap khumul: tidak menonjol-nonjolkan diri, pamer. Dalam bagian ini, Syekh Ibn Ataillah masih membahas tema yang berkaitan dengan tema sebelumnya, yaitu soal ‘uzlah.

‘Uzalah artinya mengisolasi diri, menyingkir dari keramaian masyarakat. Bagian ini memang tampakya ditujukan kepada jenis “manusia kamar”, manusia yang maqamnya memang bukan “maqam sebab”, melainkan maqam menyendiri, bermeditasi, membaktikan seluruh waktunya untuk mengabdi dan beribadah kepada Tuhan.

Menghindar dari kermaian bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Jika maqam seseorang adalah maqam ‘uzlah, mengisolasi diri, lalu dia menyingkir dari keramian orang banyak, tetap setelah itu tak melakukan apa-apa selain hanya menyendiri saja, maka jelas tak gunanya.

Uzlah bukan tujuan pada dirinya sendiri. ‘Uzlah tak ada manfaatnya jika tak disertai dengan kegiatan lain, yaitu beribadah dan bertafakkur, melakukan refleksi, merenung, berpikir, melakukan aktivitas rohani.

Ada orang-orang yang secara fisik terisolir dari dan tak bergaul dengan orang ramai, tetapi hatinya tetap bersama orang ramai. Maka ‘uzalah semacam ini hanyalah ‘uzlah di permukaan saja. Ini sama saja dengan orang yang tak memiliki harta, tetapi hatinya selalu memikirkannya. Orang yang demikian itu tak bisa disebut sebagai seorang yang zahid atau asketik. Sebaliknya ada orang yang memiliki harta berlimpah, tetapi hatinya bersama Tuhan, tidak “kumanthil” atau melekat dengan hartnya itu. Inilah orang benar-benar zahid.

Hal yang sama berlaku juga untuk ‘uzlah. Ada orang-orang yang secara fisik bergaul bersama orang banyak, tetapi fikiran dan hatinya tak pernah berhenti melakukan meditasi, refleksi, tafakkur, memikirkan Sang Khalik. Inilah ‘uzlah yang sebenar-benarnya. Sebab, seperti dikatakan oleh Ibn Ataillah sebelumnya, yang menentukan kualitas tindakan kita adalah sikap hati, bukan pekerjaan itu sendiri.

Pengertian khusus. Kata Syekh Ibn ‘Ajibah: Tak ada sesuatu yang lebih berguna bagi hati dan rohni kita melebihi ‘uzlah. Tetapi, ini bukan sekedar ‘uzlah, melainkan ‘uzlah yang dibarengi dengan “fikrah”, bertafakkur, merenung.

Ibn ‘Ajibah membuat analogi yang menarik. ‘Uzlah adalah seperti orang yang melakukan “humyah” atau diet makan, sementara bertafakkur adalah seperti meminum obat. Orang yang sakit harus melakukan diet atau mengurangi makanan, terutama makanan yang akan menambah parah sakit yang ia derita. Diet itu harus ia lakukan agar obat yang ia telan memiliki pengaruh yang signifikan.

Dengan kata lain, ‘uzlah dan bertafakkur adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Menurut Syekh Abul Hasan al-Shadzili; buah dari ‘uzlah (yang disertai dengan tafakkur) adalah meraih berkat dari Tuhan (mawahib al-minnah). Ada empat berkat ilahiah yang akan diperoleh oleh orang yang’uzlah: tersingkapnya hijab yang menghalang antara hamba dan Tuhan, rahmat yang turun bercucuran bagai hujan, memahami makna cinta yang sesungguhnya (cinta kepada Tuhan), dan kemampuan untuk jujur dalam berkata-kata.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari kebijaksanaan Ibn Ataillah ini? ‘Uzlah adalah tindakan yang sangat mulia bagi orang-orang yang memang maqam-nya ada di sana. Tetapi ‘uzlah bisa kita maknai secara lebih luas: yaitu kemampuan kita untuk memfokuskan fikiran, begitu rupa sehingga saat kita berada di tengah-tengah orang ramai, kita tidak larut bersama mereka. Fikiran kita tidak kehilangan orientasi. Kita tetap ingat kepada Sumber Kehidupan: yaitu Tuhan.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.