Home » Kajian » Hikam » Jadilah seperti Buddha: Tenang di Tengah Keramaian
4103928992_f55406e3d8_z

Jadilah seperti Buddha: Tenang di Tengah Keramaian Ngaji Hikam ke-30

4.3/5 (10)

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-30.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

La tastaghrib wuqu’ al-akdar ma dumta fi hadzihi al-dar, fi innaha ma abrazat illa ma huwa mustahiqqun wasfaha, wa wajibun na’tuha.

Terjemahan: Jangan merasa aneh jika engkau menjumpai “kekotoran” selama engkau masih hidup di dunia ini. Sebab dia hanyalah menampakkan hal-hal yang memang layak disifati dengan kekotoran itu, hal-hal yang memang seharusnya digambarkan demikian.

Mari kita telaah kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Dalam kehidupan manusia, sering dijumpai hal-hal yang “membingungkan”, sesuatu yang oleh Ibn Ataillah digambarkan dengan “akdar”, kotoran, sesuatu yang membuat sedih, galau, dan gelisah. Selama kita masih berada dalam jasad dan tubuh, selama itu pula kita akan mengalami hal-hal semacam ini.

Dengan kata lain, konsekuensi hidup dengan dan dalam wadag atau jasad adalah kita akan mengalami kegelisahan, kesakitan, penderitaan, kegalauan. Semuanya itu akan selalu datang dan pergi. Saat pengalaman-pengalaman itu datang, janganlah kita merasa heran, bingung, atau bahkan mencerca Tuhan.

Hidup manusia memang melalui tahap-tahap yang menarik. Yang pertama adalah tahap “sorga” alamiah. Tahap ini dialami oleh bayi yang masih ada di dalam rahim ibunya.

Bayi di dalam rahim tidak pernah hirau dengan keramaian dunia, sebab dia “menyepi” dan terisolasi di dalam gua ketenangan, yaitu rahim ibunya. Seluruh kebutuhan nurtisinya terpenuhi. Seorang bayi tak mengalami kesedihan dan penderitaan karena dia tidak menyadari alam di sekitarnya. Dia masih pada tahap alamiah dan menyatu dengan alam.

Tahap kedua adalah saat ia lahir dan keluar dari “gua khalwat” di dalam rahim ibunya, dan bayi itu kemudian berada di tengah-tengah alam, di tengah-tengah keluarga dan komunitas. Pelan-pelan dia mulai menyadari lingkungan di sekitarnya, mulai mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya.

Saat dia mengerti itulah, pelan-pelan dia akan mengalami penderitaan, tetapi juga sekaligus kegembiraan. “Firdaus alamiah” yang membahagiakan saat ia masih ada di dalam rahim ibunya sekarang sudah tak ada. Dia seperti Adam yang terjatuh dari “ketenangan” dan kebahagiaan di Taman Eden (Firdaus), dan harus bekerja keras di bumi.

Kehidupan di “bumi”, di tengah-tengah masyarakat itu berlainan sama sekali dengan kehidupan di dalam rahim ibu. Di dalam rahim ibu, yang ada adalah “biological tranquility”, ketenangan biologis-alamiah, tanpa gangguan apapun.

Di dalam masyarakat manusia, dia mulai mengalami peristiwa yang menggembirakan dan menyedihkan. Sebab, kehidupan di dunia ini, kata Syekh Ibn Ajibah, adalah “dar ahwal, wa manzil furqah wa intiqal.” Dunia adalah tempat terjadinya segala penderitaan, perpisahan, perpindahan. Semuanya itu memang menggelisahkan.

Tetapi, jika seseorang bisa menyikapi perubahan-perubahan dalam hidup itu dengan tenang, dengan waspada, dengan sikap rela dan “sumeleh” (menyerahkan diri), dia tak akan terganggu dengan semua itu. Dia akan seperti Buddha yang dengan tenang mengalami meditasi dan ketenangan walau di tengah keramaian.

Kuncinya adalah: Jangan merasa galau, gelisah, dan heran.

Pengertian khusus. Tuhan kerapkali menampakkan diri dengan cara yang tak terduga-duga. Dia menampakkan diri secara indah dalam pengalaman-pengalaman indah yang kita alami dalam kehidupan ini. Dia juga menampakkan diri dalam pengalaman-pengalaman sedih yang kita derita. Dia menampakkan diri dalam setiap gejala dan peristiwa yang kita alami. Yang menggalaukan kita dan yang menggembirakan kita –keduanya adalah bagian dari apa yang oleh Syekh Ibn Ajibah disebut “tajalliyat al-Haqq”, penampakan Yang Maha Benar.

Yang Maha Benar menampakkan diri dengan dua cara: melalui sifat “jamal” atau keindahan-Nya, dan melalui sifat “jalal” atau keagungan-Nya. Saat kita mengalami pengalaman yang menyenangkan, Tuhan sedang menampakkan diri melaui sifat keindahan-Nya. Ketika kita mengalami penderitaan, Tuhan menampakkan diri kapada kita lewat sifat keagungan-Nya.

Bagi seorang yang bijak, yang ‘arif, seorang yang telah tahu hakikat hidup, dua pengalaman itu sama saja bagi dirinya. Baik saat gembira atau menderita, dia akan bersikap tenang, “stoic”, tak terganggu oleh perubahan-perubahan dalam pengalamannya itu. Sebab ia tahu, semuanya itu berasal dari sumber yang sama: Tuhan.

Dia akan menerima penderitaan dengan senyum. Tetapi dia juga aka mengalami kebahagiaan dengan sikap semenjana, tidak meluap-lupa. Dia tenang seperti air kolam di pagi hari, sebelum ada angin menghembus, sebelum ada anak-anak yang bermain berkecipak di sana. Dia, dalam keadaan apapun, bersikap tenang seperti Buddha yang dalam keadaan meditasi.

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini adalah: Kita harus bisa mengembangkan sikap “self control”, bisa menguasai diri, tidak hanyut dalam perasaan sesaat, baik perasaan gembira atau menderita. Kemampuan mengontrol diri ini yang akan membebaskan kita dari penderitaan hidup, dan bisa kembali ke “kebahagiaan awal” saat kita berada di dalam rahim ibu kita.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.