Home » Kajian » Hikam » Jika Kita Mendekat Kepada Kebenaran, Ia Akan Bergegas Menjemput Kita
6851653771_0e6a1559b9_z

Jika Kita Mendekat Kepada Kebenaran, Ia Akan Bergegas Menjemput Kita Ngaji Hikam ke-38

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-38.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Al-Haqqu laisa bi-mahjubin ‘anka, innama al-mahjubu anta ‘an al-nadzari ilaihi. Idz laW hajabahu syai’un la-satarahu ma-hajabahu. Wa law kana lahu satirun la-kana li-wujudihi hasirun. Wa-kullu hasirin li-syai’in fa-huwa lahu qahirun. Wa-huwa al-Qahiru fawqA ‘ibadihi.

Terjemahan: Tuhan, Sumber Kebenaran itu, tak pernah terhijab atau terhalang darimu. Melainkan yang terhalang ialah kamu yang tak mampu melihat-Nya. Sebab, jika Dia bisa dihijab atau dihalangi oleh sesuatu, maka sesuatu itu telah menutupi-Nya. Jika ada sesuatu yang bisa menutupi-Nya, maka wujud-Nya jelas memiliki batas. Setiap sesuatu yang bisa menutupi dan membatasi sesuatu yang lain, maka sesuatu itu telah berkuasanya atasnya. Sementara Dia adalah Dia yang berkuasa atas segala sesuatu.

Mari kita renungkan kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah yang sangat mendalam ini melalui dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Sebagaimana sudah pernah kita baca dalam bagian sebelumnya, Kebenaran dengan K besar (yakni kebenaran sejati yang bersumber dari Tuhan) tidak pernah bisa dihijab, disembunyikan atau diutup-tutupi. Kebenaran Tuhan adalah seperti matahari: ia sulit disembunyikan dari siapapun. Begitu matahari terbit, semua orang akan melihatnya, kecuali orang-orang yang menolak melihatnya.

Jika kita tak mampu melihat matahari kebenaran tersebut, masalah tidak terletak pada Kebenaran itu, melainkan ada pada kita yang tak mau, tak mampu, atau pura-pura tak melihat kebenaran itu. Akhirnya, kita tak menyadarinya dan terhalang daripadanya. Jika manusia melakukan tindakan aktif untuk mendekat kepada Kebenaran itu, maka Kebenaran itu akan bergegas menuju kepadanya.

Seperti disebutkan dalam sebuah hadis qudsi yang terkenal, riwayat sahabat Anas ibn Malik, di mana Tuhan berfirman (melalui Nabi):

Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku satu depa, Aku akan mendekat kepadanya satu lengan. Jika dia mendekat kepada-Ku satu lengan, Aku akan mendekat kepadanya dengan satu bentangan tangan. Jika dia mendekat kepadaku dengan berjalan, Aku akan mendekat kepadanya dengan bergegas.

Dengan kata lain, jika ada inisiatif dari kita untuk mendekat kepada Kebenaran, mau mencarinya, dengan sendirinya akan terhampar banyak jalan yang menuntun kita ke sana. Kecepatan Kebenaran itu menjemput kita jauh lebih lekas dan cepat ketimbang inisiatif kita sendiri. Syaratnya satu saja: kita siap membuka diri dan mau mendekati Sumber Kebenaran itu.

Jika kita membuka diri kepada Tuhan, maka Dia akan mendekat kepada kita, dengan kecepatan yang jauh lebih lekas ketimbang kecepatan kita sendiri dalam mendekati-Nya. Begitu kita menyiapkan diri untuk menerima Kebenaran, dengan sungguh-sungguh, maka Kebenaran itu akan datang kepada kita dalam bentuk “hikmah” atau pemahaman tentang rahasia ketuhanan. Kuncinya ada di kita. Inisiatif sepenuhnya berada di tangan manusia.

Begitu ada inisiatif dari pihak manusia, maka Tuhan akan bergerak menuju kepadanya, dan yang terjadi berikutnya ialah semacam proses “klek” di mana kehendak manusia bertemu dengan kehendak Tuhan. Pada titik itu, seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang sejati tentang rahasia hidup, tentang rahasia ketuhanan. Pada titik itu, dia akan mampu melakukan hal-hal besar yang pada mata orang lain tampak seperti sebuah “keajaiban”.

Tak ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi Kebenaran, sebab dia seperti matahari yang terang-benderang. Yang bisa menghalangi hanya keengganan kita untuk melihatnya. Pada manusia memang sering kita jumpai kelemahan berikut ini, yaitu “kebandelan”, “ngeyel”, “recalcitrance”. Sikap ngeyel itu diungkapkan dalam ayat ini: Inna l-insana ladzalumun kaffar (QS 14:34). Saya ingin menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: Sesungguhnya manusia itu sering keliru tempat dan “ngeyel”.

“Ngeyel” ialah sikap keras-kepala di mana seseorang melihat sebuah kebenaran dalam hidup, tetapi dia menolak untuk menerimanya, mengakuinya. Kita mungkin pernah mengalami momen-momen semacam ini dalam hidup: kita tahu bahwa jalan yang harus kita tempuh untuk meraih sesuatu adalah jalan A atau B, karena itulah jalan yang benar. Tetapi karena ke-ngeyel-an kita, kita menolak untuk menempuhnya. Tentu saja, kita akhirnya gagal. Dan kita sudah bisa menebak kegagalan itu dari awal. Tetapi kita tak mau mengakui.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami situasi berikut ini: Kita tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup, kita harus berlaku jujur dalam setiap hal yang kita kerjakan. Tetapi, entah oleh pengaruh apa, mungkin karena kelemahan bawaan manusia yang cenderung lengah, seperti pernah kita bahas dalam bagian sebelumnya, kita menempuh jalan lain: jalan yang tak jujur, dengan anggapan bahwa jalan itu akan mempercepat kita untuk sampai kepada “tujuan”.

Memang benar ada hal-hal di mana “kebenaran” dalam situasi tertentu dalam hidup sulit diketahui, seperti saat kita berhadapan dengan pilihan-pilihan yang dilematis. Tetapi ada situasi lain di mana kita tahu jalan A adalah jalan yang tepat, meskipun tampak lama dan lambat. Tetapi jalan itu akan membawa kita kepada kepuasan batin di ujung perjalanan. Tetapi dengan sikap “ngeyel” kita menolaknya.

Pengertian khusus. Wujud yang hakiki adalah Tuhan. Wujud-wujud yang lain adalah wujud derivatif; maksudnya, wujud yang mendapatkan berkah kewujudannya dari Tuhan, seperti sinar bulan yang sebetulnya bukan sinar yang berasal dari dalam dirinya. Sinar bulan adalah sinar derivatif: sinar yang sumbernya berasal dari matahari. Bulan sendiri tidak memiliki cahaya dan sinar.

Begitu juga dengan manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Wujud segala sesuatu adalah wujud yang semu, derivatif. Hanya wujud Tuhan lah yang hakiki. Begitu juga kebenaran: hanya kebenaran sejati yang berasal dari Tuhan adalah kebenaran yang sesungguhnya. Karena itu, wujud kebenaran hakiki yang berasal dari Tuhan tak mungkin tertutup atau terhijab oleh kebenaran-kebenaran yang lain.

Ibn Ajibah mengutip kata-kata gurunya (kemungkinan Syekh al-Dirqawi):

Tak ada yang bisa menghalangi dan menghijab manusia dari Tuhan kecuali “waham” atau bayang-bayang semu. Apa yang disebut waham pada dasarnya hanyalah sesuatu yang tak memiliki wujud yang nyata.

Pelajaran “spiritual” yang bisa kita petik dari sini ialah bahwa kemungkinan untuk memahami Kebenaran Yang Sejati, kebenaran ketuhanan, terbuka kepada siapa saja. Tugas kita hanyalah menyiapkan semacam kondisi spiritual untuk menerima kebenaran itu.

Kebahagiaan hidup adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja. Yang menjadi soal hanyalah satu belaka: apakah kita menyediakan diri, membuka diri kepada kebahagiaan itu atau tidak. Pada akhirnya, kondisi-kondisi kerohanian yang menentukan kebahagiaan seseorang tak tergantung pada sesuatu yang ada di luar. Semuanya kembali kepada orang itu: Mau atau tidak?[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.