Home » Kajian » Hikam » Kritislah Pada Dirimu Sendiri
2063905644_13b4fe1e3b_z

Kritislah Pada Dirimu Sendiri Ngaji Hikam ke-40

4.57/5 (7)

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-40.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ashlu kulli ma’shiyatin wa ghaflatin wa syahwatin al-rida ‘an al-nafs. Wa ashlu kulli tha’atin wa yaqadzatin wa ‘iffatin ‘adam al-ridla minka ‘anha.

Terjemahan: Awal dari segala bentuk pembangkangan kepada Tuhan (maksiat), kelalaian, dan hasrat-hasrat rendah adalah karena kita senang dengan nafsu kita. Sementara asal-usul segala ketaatan kepada Tuhan, kewaspadaan, serta ‘iffah (menjauhkan diri dari perbuatan yang tak patut) adalah karena kita berani melawan nafsu kita.

Mari kita hayati ajaran dari Syekh Ibn Ataillah ini melalui dua pengertian: umum dan khusus.

Pengertian umum. Seringkali kita lengah, terpeleset dan melakukan kesalahan dalam hidup ini karena sikap menerima keadaan seolah-olah sudah begitu dari sononya, “taking things for granted”. Akhirnya kita lalai, karena menganggap bahwa segala sesuatu akan berjalan seperti apa yang kita lihat sekarang ini, tak mungkin ada perubahan mendadak pada suatu saat.

Dalam hidup, kita memang kerap bersikap seperti itu: “taking things for granted”. Kita menganggap normal saja bahwa kita memiliki kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang sesuatu, telinga untuk mendengar, dan mata untuk melihat. Itu semua adalah “anugerah” kehidupan yang sudah kita terima sejak kita lahir.

Tetapi justru karena anugerah itu sudah ada sejak awal, kita tak menganggapnya lagi sebagai hal yang berharga dan istimewa. Kita menganggapnya sebagai hal yang sudah semestinya ada, taken for granted. Kita baru “ngeh” bahwa kesemuanya itu anugerah saat anggota tubuh kita mengalami kerusakan atau menderita penyakit. Pada momen itulah kita biasanya baru sadar bahwa hal-hal yang selama ini kita andaikan sudah ada dari sononya, ternyata begitu berharga, dan karena itu harus dirawat dengan baik.

Banyak sekali hal semacam ini terjadi dalam hidup manusia. Orang kerap lalai, dan lalu akhirnya lengah, karena mempunyai sikap santai, sikap nyaman di kawasan “comfort zone”, kawasan yang enak. Menurut Syekh Ibn Ataillah, asal-usul kelengahan dan kelalaian adalah karena sikap-sikap semacam ini. Pada saat kita sudah “settled”, tenang dengan suatu keadaan tertentu, kita merasa nyaman di sana. Kenyamanan itu membuat kita berpikir seolah-olah segala sesuatu akan berjalan seperti itu selama-lamanya, “business as usual”. Keadaan “terlalu nyaman” itulah asal-usul segala bentuk maksiat dan kelengahan.

Kita bisa memaknai maksiat dalam pengertian yang seluas-luasnya. Maksiat bukan sekedar kita melanggar larangan-larangan agama dan perintahnya. Maksiat juga bisa kita maknai sebagai pembangkangan terhadap hukum alam dan hukum masyarakat. Dengan melanggar hukum-hukum itu, kita telah melakukan tindakan maksiat.

Salah satu hukum alam yang berlaku universal ialah kita harus melakukan ikhtiar dan usaha, agar mencapai suatu keberhasilan dalam hidup. Kita harus bekerja untuk memungkinakn nasi dan lauk-pauk bisa tersedia di meja makan rumah kita. Kita harus belajar dengan keras untuk menguasai ilmu dan keterampilan tertentu. Seorang penguasa harus bertindak adil untuk meraih simpati dan kecintaan dari rakyatnya.

Itu semua adalah hukum alam dan hukum sosial yang harus kita taati dengan khusyuk dan takzim. Begitu kita melanggar hukum-hukum tersebut, kita akan terkena “karma” atau akibat dari pelanggaran itu.

Manusia kerap terjatuh pada tindakan maksiat karena terlalu lama berada dalam situasi tertentu, nyaman dengan keadaan itu, sehingga akhirnya lengah. Persis seperti seorang pengendara mobil yang menikmati jalan mulus di tol. Jalan semacam itu memang menimbulkan rasa nyaman, tetapi saking nyamannya seseorang bisa lengah lalu oleng dan mengalami kecelakaan.

Ajaran dari Syekh Ibn Ataillah ini membenarkan kebijaksanaan yang sudah sering kita baca dalam falsafah Jawa, yakni ajaran “eling lan waspada”. Atau ajaran dalam Buddhisme Zen mengenai “mindfulness” atau kewaspadaan dan menjaga kesadaran secara terus-menerus. Situasi nyaman yang dinikmati oleh seseorang dalam hidupnya bisa menjadi semacam minuman keras yang memabukkan, lalu membuatnya hilang kesadaran, lalu lalai, lalu terjatuh.

Pengertian khusus. Seseorang yang rida, rela, senang, nyaman, dan “settled” dengan nafsunya, dia akan berhadapan dengan kemungkinan besar untuk lengah dan berbuat salah. Sementara sikap “kritis” terhadap nafsu adalah pangkal dari segala keberuntungan dalam hidup, awal dari segala ketaatan kepada Tuhan dan hukum kebenaran (truth).

Sebuah syair Arab mengungkapan pengertian ini dengan cukup baik:

Wa ‘ain al-rida ‘an kulli ‘aibin kalilatun
Ka-ma anna ‘ain al-sukhthi tubdi al-masawiya

Maknanya: Mata seorang yang sedang jatuh cinta membuat segala cela dan aib tak terlihat. Sementara mata seorang pembenci membuat kesalahan-kesalahan kecil menjadi tampak.

Sikap terbaik untuk menjaga agar kita terus berada dalam sikap awas, waspada, tak mudah lengah adalah, seperti diungkapkan oleh syair di atas: jangan jatuh cinta pada diri sendiri, jangan terlalu mencintai nafsu kita. Sebaliknya, bersikaplah kritis pada nafsu itu. Dengan begitu, kita akan melihat segala bentuk kekurangan, cela, dan aib dalam diri sendiri, sampai yang sekecil-kecilnya. Sama dengan sikap seorang pembenci yang biasanya akan selalu mencari dan melihat hal-hal jelek pada orang lain, hingga yang sekecil-kecilnya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini ialah: kita mesti bisa bersikap kritis pada diri sendiri. Be critical of yourself. Hanya dengan cara begitu, Anda akan bisa melihat kekurangan diri sendiri secara terus-menerus. Tetapi, ini bukan bermakna bahwa kita harus merendahkan diri sendiri, mendepresiasi nilai dan harga diri kita, “self-bashing”.

Yang dianjurkan oleh Syekh Ibn Ataillah bukanlah “self bashing”, merendahkan diri hingga ke titik kita kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, hingga akhirnya mengalami “kelumpuhan mental”, seperti penyakit kejiwaan yang diderita oleh orang-orang yang mengidap penyakit “inferiority complex”, penyakit rendah diri. Bukan ini yang dikehendaki oleh Syekh Ibn Ataillah.

Yang dimaksudkan oleh Syekh Ibn Ataillah ialah: kritis pada diri sendiri sebatas agar kita tidak jumawa, nyaman dalam “comfort zone”, lalu lengah pada kelemahan-kelemahan yang ada pada kita. Bukan menghancurkan rasa percaya diri yang juga sangat dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang sehat secara mental.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.