Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Marzuki Wahid: “Puasa Harusnya Bisa Meredam Kekerasan”

Marzuki Wahid: “Puasa Harusnya Bisa Meredam Kekerasan”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Artinya ada semacam proses pendakian spiritual dalam puasa?

Ya, mungkin proses sosialisasi. Jadi manusia harus menebarkan kasih sayang dan kedamaian antar sesama. Kalau ini fase kasih sayang terlalui dalam sepuluh hari pertama, maka pada sepuluh hari kedua dituntut memberi pengampunan antar sesama.

Jadi dia harus bisa mewujudkan kehidupan bersama, sebagai berkat dari kedamaian dan kerahmatan yang ditebarkan. Dalam bahasa lain, mungkin bisa disebut rekonsiliasi antar sesama. Artinya, ada proses saling memahami, atau mutual understanding antar sesama dalam stage yang kedua.

Kalau dua tahap itu sudah dilalui, maka dia akan terbebas dari seluruh beban sosial dan masa lalu, karena kasih sayang sudah ditebar, persoalan antar sesama sudah selesai. Pada tahap itulah kita sudah terbebas dari api kemarahan, murka kebencian, permusushan, konflik, dan lain sebagainya. Jadi bebas dari api neraka itu dimaknai dalam dunia ini, bukan di akhirat sana.

Ada hadis yang secara simbolik mengatakan bahwa pada bulan puasa, setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup. Hadis ini kadang diterjemahkan gerakan-gerakan tertentu untuk membelenggu “setan-setan” yang kelihatan. Makanya, mereka coba menutup kafe, tempat hiburan, dan lainnya. Bisakah tafsiran ini ditoleransi?

Saya kira ada kekeliruan dalam memahami hadis itu. Kalau setan sudah dibelenggu Tuhan, kenapa harus menyerang kafe-kafe dan tempat maksiat lain yang sebetulnya sudah dibelenggu? Artinya, setan sudah dibelenggu Tuhan, maka yang lain bukanlah setan lagi. Jadi itu logika yang bertabrakan satu sama lain. Dalam tradisi pesantren, hadis ini mungkin masuk kategori hadis targhîb(hadis yang memotivasi berbuat kebaikan).

Sebetulnya, ketika orang takut dengan tantangan-tantangan dan godaan-godaan, dia termasuk kerdil alias tidak percaya diri. Kalau orang sudah merasa dirinya mampu dan bisa menahan diri, maka tantangan apapun tidak menjadi masalah. Bahkan sesungguhnya, puasa akan bermakna secara spiritual ketika dia berada di tengah kerumunan tantangan-tantangan itu.

Kalau ada godaan tapi menahan diri, kita justru akan mendapat poin lebih, ya?

Analoginya begini. Puasa di ruang ber-AC, dengan puasa di bawah terik matahari, mana lebih utama? Tentu kita akan mengatakan, orang yang puasa di bawah terik matahari, dialah yang berhasil dan hebat. Berpuasa sambil duduk di ruang ber-AC, tentu tidak ada tantangannya.

Seakan di situ ada pengandaian bahwa kita tidak mesti menghilangkan semua tantangan keberagamaan?

Saya kira, tantangan adalah teman tanding untuk selalu mengevalusi dan melakukan refleksi diri yang terus menerus. Karena itu, dalam konteks kemaksiatan tadi, cara menyikapinya bukan dengan cara diserbu, dihilangkan hak usaha mereka, diluluhlantakkan dengan cara kekerasan. Kita harus selalu mewujudkan cara yang damai dan toleran.

Yang perlu kita pikirkan, bagaimana mempengaruhi, mentransformasi kehidupan mereka menjadi lebih baik, dan bermashlahat, tanpa melakukan tindak kekerasan. Jadi puasa sesungguhnya antiklimaks dalam tindak kekerasan. Kalau dalam bulan puasa masih melakukan tindak kekerasan, menurut saya puasanya bisa jadi tidak lagi berarti apa-apa.

Kalau dalam bulan puasa orang masih suka melakukan kekerasan, sementara setan sudah dibelenggu, yang tersisa tentu hawa nafsu yang ada dalam diri manusia itu sendiri ya?

Saya kira tantangan terbesar orang berpuasa adalah melawan hawa nafsunya sendiri. Hawa nafsu itulah tantangan terberat orang berpuasa, bukan setan di luar diri kita. Ini artinya, kita memerangi diri sendiri. Jadi setan di situ sebetulnya diri kita sendiri. Jadi, bukan setan eksternal dari diri kita. Dan kalau ada tindakan kekerasan dari diri kita maka itu adalah wujud riil dari diri kita sendiri.

Kalau Ramadan kita andaikan sebagai madrasah penempaan diri, apa indikator kelulusan kita dalam menjalankan Ramadan?

Saya kira, indikatornya adalah tiga stage tadi. Rahmat, maghfirah, dan itqun minan nâr itu, sebetulnya tidak selalu ada dalam bulan puasa, tapi harus diwujudkan pada bulan Syawwal. Jadi dilihatnya setelah selesai puasa itu sendiri.

Puasa adalah sebuah proses selama satu bulan, tapi hasilnya akan diperoleh pada bulan Syawwal dan seterusnya. Jadi ini semacam hukum kausalitas dan siklus kehidupan yang memang mesti dilalui.

Dalam bahasa lain, ini mirip aksi lalu refleksi, aksi lalu refleksi. Jadi, bulan puasa adalah refleksi transendental seseorang, sehingga mampu mengubah diri untuk senantiasa bersikap damai dan ramah, memberikan pengampunan pada orang lain. Jadi dengan puasa dia toleran dan menghargai pluralitas.

Kalau begitu umat Islam juga perlu bertenggang rasa dengan umat lain ketika menghidupkan syiar-syiar puasa, ya?

Banyak orang menganggap bahwa syi’ar Islam itu selalu harus mentereng, ramai, dan semarak dengan aroma religius. Sementara itu, mereka tak jarang mengabaikan suasana dan kenyamanan orang lain. Dalam hukum fikih, mengganggu maslahat orang lain seperti itu jelas-jelas tidak dibenarkan.

Kalau begitu, untuk mengukur tingkat keberhasilan puasa, bisakah misalnya diadakan survei?

Saya kira tingkat keberhasilannya tidak bisa dikuantifikasi. Ini persoalan yang bersifat kualitatif. Jadi tidak bisa di-quick count atau disurvei oleh LSI.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.