Home » Kajian » Merenungkan Pangkal Perseteruan Sunni-Syiah
Raw Sushi: Sunni-Shia Iraqi Family Photo Wins Twitter, but Not the War (Photo: fusion.net)
Raw Sushi: Sunni-Shia Iraqi Family Photo Wins Twitter, but Not the War (Photo: fusion.net)

Merenungkan Pangkal Perseteruan Sunni-Syiah

4.21/5 (91)

IslamLib – Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia Muslim menghadapi polarisasi Sunni-Syiah yang kian tajam. Di beberapa belahan dunia yang tadinya Sunni-Syiah merupakan non-isu dan tak menjadi persoalan serius, kini justru dianggap persoalan penting. Tak hanya orang bodoh yang kian giat menggaungkan perseteruan kedua sekte Islam ini. Yang separuh terpelajar, bahkan kaum terpelajar pun ikut larut dalam gelimang kebebalan serupa.

Di kawasan konflik seperti Filipina Selatan atau Thailand Selatan, isu ini mulai dianggap urusan pula. Padahal polarisasi antar sesama Muslim ini mestinya merupakan hal sekunder yang bukan urusan bagi mereka.

Sungguh ironis, di antara mereka yang giat membesar-besarkan isu Sunni-Syiah ini ada juga kawan saya yang doktor teologi. Makanya, tatkala seorang walikota, doktor bidang non-teologi, ikut terperangkap dalam jebakan isu basi ini, saya tidak terlalu heran.

Namun hati kecil saya juga bertanya-tanya: bagaimana mungkin seorang doktor yang sudah berkecimpung dalam perdebatan Sunni-Syiah sejak bocah-bocah, masih memperkarakan hal-hal yang tak jelas juntrungannya ini?

Apakah mereka sekadar galau dalam karirnya atau mulai bosan hidup berdampingan secara damai dan tergiur untuk mencicipi suasana perang saudara seperti di Irak atau Suriah?

Akhirnya saya terpikir, mungkin ada baiknya meninjau ulang silang sengketa Sunni-Syiah ini sejak era Islam perdana. Islam yang mula-mula, tempat soal ini berpangkal berawal. Tulisan ini mencoba memotret ulang beberapa fragmen penting dalam sejarah Islam perdana, tatkala sentimen Sunni-Syiah mulai berbenih dan berkecambah.

Fragmen Pertama. Nabi Muhammad masih lagi terbaring dalam sakit yang mengakhiri hayatnya. Dalam suatu kisah, Ibnu Abbas mengabarkan bahwa Ali bin Abi Thalib sempat keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau masih terbaring lemah. Orang-orang lalu bertanya:

“Wahai bapaknya Hasan (sapaan untuk Ali), bagaimana keadaan Rasulullah?” 

“Segala puji bagi Allah, beliau tampak pulih,” jawab Ali.

Sejurus kemudian, Abbas bin Abdul Muthallib menarik tangan Ali seraya berkata:

“Aku melihat Rasulullah sudah mendekati ajal dengan sakitnya kali ini.”

Abbas mengaku, dia hafal betul ekspresi terakhir anak-cucu Abdul Muthallib saat maut mulai menjemput.

Ia pun lalu bersaran:

“Datangilah Rasulullah, tanyakan padanya akan ke siapa jatuhnya urusan (kepemimpinan) ini! Jika ia jatuh kepada kita, kita akan tahu. Namun kalau jatuh ke selain kita, dia tentu akan bermandat dan berwasiat kepada kita.”

Syahdan, Ali tidak mengabulkan usulnya. Mungkin ia yakin bahwa Nabi secara tersirat telah mengisyaratkan dialah yang akan menjadi pemimpin setelah peristiwa Ghadir Khum. Atau bisa juga karena ia memang sosok yang peragu dan penyungkan.

Ali mengindikasikan bahwa dia ingin menjaga etika, atau kuatir pertanyaan semodel itu justru akan jadi bumerang bagi dirinya dan sanak-keturunannya.

Kepada Abbas, ia tekankan:

“Demi Allah, kalau kita tanyakan soal ini, Rasulullah lalu justru melarang kita, orang-orang takkan pernah memberi mandat itu untuk kita selamanya. Demi Allah, aku tak akan menanyakannya kepada Rasulullah!”

Kita akhirnya tahu, Ali emoh menjalankan usul Abbas dan sampai akhir hayatnya—setidaknya menurut versi Sunni—Nabi pun tak sempat menuliskan wasiat tentang kepemimpinan sesudahnya.

Fragmen Kedua. Mayat Rasulullah masih terbujur di rumah Aisyah. Sanak keluarga berkumpul dalam duka. Belum lagi jenazah itu dikubur, sekelompok orang Anshar telah berinisiatif untuk menentukan dan mengangkat pemimpin setelah Nabi. Di Tsaqifah Bani Saidah, tempat mereka berkumpul, aspirasi untuk mengangkat dan membaiat Saad bin Ubadah sebagai pemimpin sudah begitu bulat.

Kasak-kusuk Tsaqifah tersebut, seketika itu juga sampai ke telinga Abu Bakar. Ia, Umar dan Abu Ubaidah al-Jarrah lalu segera menuju tempat kejadian perkara. Sesampai di lokasi, Abu Bakar menyergah:

“Apa-apaan ini!”

Mereka menjawab:

“Kami punya Emir, kalian silakan berpunya Emir!”

Demi mendengar itu, Abu Bakar membalas:

“Emir dari kami, menteri-menteri dari kalian!”

Abu Bakar lalu mengajukan salah satu di antara Umar dan Abu Ubaidah untuk dipilih. Namun, Umar justru mengajukan dan mendukung Abu Bakar sebagai jagoannya.

Singkat cerita, dibaiatlah Abu Bakar oleh Umar dan sebagian yang berkumpul. Namun demikian, sebagian pihak Anshar justru berkeras takkan membaiat sosok yang lain kecuali Ali. Dari tempat lain tersiar pula kabar bahwa Zubair bin Awwam yang bersama Ali gaib dari perhelatan politik itu, kini mulai menghunuskan pedang.

“Aku takkan menyarungkannya, sampai orang-orang membaiat Ali!”

Demi mendengar itu, Umar menitahkan seseorang untuk meminta Zubair menyarungkan pedangnya. Umar pun mendatangi Zubair dan Ali, dan mendesak mereka untuk berbaiat kepada Abu Bakar, sukarela ataupun secara terpaksa. Keduanya konon berbaiat, walau kelak banyak perdebatan seputar keabsahan baiat mereka.

Fragmen Ketiga. At-Tabari memuat sepenggal kisah tentang intrik Abu Sufyan dalam kekisruhan suasana. Ia memprovokasi Ali.

“Demi Allah, aku sedang melihat badai yang takkan dapat dipadamkan kecuali oleh darah! Wahai sanak-keluarga Abdul Manaf, kenapa pula Abu Bakar harus memangku urusan kalian?” Dia lalu membujuk Ali: “Wahai bapaknya Hasan, bentangkan tanganmu, aku berbaiat kepadamu!”

Bukannya termakan bujukan Abu Sufyan yang baru masuk Islam saat Penaklukan Mekah, Ali justru menghardiknya.

“Demi Allah, provokasimu tak mungkin lain kecuali akan memicu kekacauan (fitnah). Demi Allah, sepanjang kau terus berkonspirasi jahat terhadap Islam, kami takkan pernah mendengar nasihatmu!”

Kita tahu, Ali tak hanya mengabaikan, namun mencela Abu Sufyan, sosok yang kelak mewariskan anak keturunan yang justru dengan berbagai taktik dan intrik berhasil menindas anak-keturunan Ali.

Kita juga ingat, argumen kesukuan sebagai Quraisy dan kedekatan dengan Nabi yang dibangun Umar dan kawan-kawan tatkala menangkal kepemimpinan Anshar, juga terasa ironis bagi Ali. Dengan nada pahit, Ali berpandangan bahwa para sahabat itu “memilih berpegang kepada batang (Abu Bakar dkk) sebuah pohon, seraya mencampakkan buahnya (Ali sendiri)”. Tamassaku bi al-syajarah wa adha’u al-tsamrah.

Kita pun tahu, terhadap sejarah pengangkatan Abu Bakar yang begitu cepat dan darurat itu, Umar pernah berseloroh: “Itu merupakan kekeliruan yang justru mampu meredam petaka yang lebih besar!” Innaha ghiltah waqalLah al-muslimin syarraha. Selanjutnya kita tahu, tak selamanya petaka politik semacam itu bisa dihindarkan.

Lalu apa yang dapat kita simpulkan dari tiga fragmen kisah perebutan kekuasaan di era Islam perdana, persis setelah mangkatnya Nabi ini?

Lima Pelajaran. Pertama, ketiga fragmen tadi menampilkan sekelumit karakter tokoh-tokoh sejarah Islam perdana yang sedang bergelut dengan posisi kepemimpinan pasca-Nabi. Kita tahu, Nabi tak secara eksplisit meninggalkan pesan tentang siapa pemimpin setelah dia mangkat. Demikianlah setidaknya versi Sunni, dengan berbagai alasan pembenarannya. Ini dengan sendirinya membuka peluang perebutan kekuasaan dan fragmentasi politik sedemikian pagi.

Namun harus diakui pula, sumber-sumber Sunni seperti Sunan Abi Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, juga memuat isyarat Nabi tentang siapa pemimpin sesudahnya dalam peristiwa bernama Ghadir Khum.

Dalam momen Haji Wada itu, Rasulullah berpesan:

“Barangsiapa menganggapku sebagai paduka, ini Ali paduka bagi kalian juga. Barangsiapa mencintainya, mereka sungguh mencintaiku juga; barangsiapa memusuhinya, mereka sesungguhnya sedang memusuhiku jua.”

Namun kita juga mengerti, persoalan politik tidak selalu putus dan mulus lewat sebuah titah verbal, apalagi berupa isyarat-isyarat yang tersirat saja. Apalagi sampai akhir hayatnya, Nabi tidak meninggalkan mandat tertulis yang secara eksplisit menunjuk Ali sebagai pemimpin sesudahnya. Demikianlah anggapan Sunni sembari menafikan hadis-hadis tentang momen Ghadir Khum.

Kedua, dalam kitab Dirasah fi Susiologia al-Islam, sosiolog ulung asal Irak, Ali al-Wardi, berpandangan bahwa pertarungan kekuasaan antar Muslim perdana ini tiada lain merupakan simbol pertarungan antara idealisme dan realisme ataupun pragmatisme dalam berpolitik.

Dalam suatu fragmen kisah di atas, jelas sekali bahwa Ali bukanlah politisi yang oportunis. Dia seorang intelektual yang lebih banyak skeptis daripada taktis. Dia bukan binatang politisi yang pantang melihat peluang. Kelak, Ali akan mengalami lagi pahitnya politik saat para sahabat mendahulukan Usman setelah mangkatnya Umar.

Ketiga, aspirasi politik Ali dan para pendukungnya ketika itu, atau pada kalangan Syiah kelak kemudian hari, dapat pula dianggap sebagai idealisme untuk menyatukan otoritas agama (yang memang sangat tinggi pada sosok Ali), dengan otoritas politik.

Kalau boleh disederhanakan, aspirasi politik Ali dan para pendukungnya itu tiada lain adalah bentuk teokrasi di mana otoritas agama dianggap lebih berhak mengendalikan politik, kalau perlu menyatu.

Pada titik ini, menarik menyimak catatan Ahmad Amin yang menggambarkan pragmatisme politik para sahabat kala itu di bukunya, Fajrul Islam. Menurutnya, demi orang-orang Anshar, Abu Bakar terpaksa berpidato untuk meyakinkan mereka akan perlunya mengutamakan Muhajirin dibanding Anshar.

Namun untuk urusan Ali, dia tampak tidak risau. Sebab sebagian sahabat memang tak terlalu menyukai pertautan antara urusan kenabian (otoritas agama) dengan urusan khilafah (otoritas politik).

Pendapat ini dikemukakan Ahmad Amin sembari menyisipkan catatan bahwa sosok Ali memang dikenal sebagai seorang yang terlalu lurus (syiddatu Ali fi al-haq) dan kurang fleksibel (adam at-tasahul) dalam urusan-urusan keduniaan.

Keempat, masih dalam bingkai pertarungan idealisme versus realisme, kita juga tahu bahwa aspirasi kaum idealis tentang pentingnya kepemimpinan ala raja-filsuf yang tersimbolkan dalam sosok Ali, seringnya atau malah selamanya, justru tidak jalan dalam dunia politik.

Tanpa menuduh Umar dan kawan-kawan sebagai pemain politik tulen yang tidak menaruh idealisme, kita juga mencium karakter Ali yang intelek sekaligus saklek. Ini berbeda dari sosok Umar dan kawan-kawan yang secara instingtif dan cekatan di dalam merespon situasi genting.

Dari observasi demikian, tidaklah mengherankan bila kelak kita membaca teori-teori politik Islam versi Sunni—umpamanya seperti yang dikemukakan Ibnu Taimiyah dalam al-Siyasah al-Syar’iyyah—tampak lebih bersifat realis, untuk tidak menyebutnya cenderung Machiavelis.

Kelima, dengan meninjau ulang pangkal persengketaan Sunni-Syiah ini, kita seharusnya mafhum bahwa biduk Islam memang mulai bercabang dua—lengkap dengan disiplin teologi politik dan aturan fiqihnya—sejak era Islam perdana.

Islam mengepak dengan dua sayap Sunni-Syiah sejak sangat dini. Dua-duanya sama-sama absah. Mempertanyakan keabsahan keduanya, atau upaya melenyapkan salah satunya, murni tanda-tanda rabun sejarah.

Sayangnya, di antara atau di balik dua kepak Islam itu selalu bergelayut kalangan ekstrem bebal atau pun kaum oportunis semisal Abu Sufyan yang tak henti-hentinya mengipasi bara perseteruan agar lebih menyala-nyala. Tatkala dua sayap Islam ini hangus ataupun patah, mereka tersenyum dari balik cakrawala, sembari membawa terbang apa yang sempat mereka jarah.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.