Home » Kajian » Hikam » Nafas Kita Adalah Suci
3843959492_2240aa60c5_z

Nafas Kita Adalah Suci Ngaji Hikam ke-28

4.71/5 (7)

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-28.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

Ma min nafasin tubdihi illa wa-lahu qadrun fika yumdihi.

Terjemahan: Pada setiap nafas yang engkau tunjukkan/hembuskan terdapat takdir/ketentuan Tuhan yang Dia selenggarakan pada saat itu juga.

Mari kita ulas kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pendekatan dan pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Pada setiap unit terkecil dalam hidup kita, yaitu nafas, tersembunyi takdir dan ketentuan kehidupan kita, tersembunyi karma kita, tersembunyi cicilan-cicilan kecil untuk masa depan kita.

Nasib kita di masa depan yang jauh, ditentukan oleh hal-hal yang sangat mikro dalam hidup, yaitu nafas. Karena itu, kita harus berhitung benar dengan setiap “unjalan” nafas yang meluncur keluar dari mulut kita. Nafas adalah seperti “building block”, batu-batu yang menyusun kehidupan kita di masa depan.

Dengan menyadari hal yang sangat subtil/halus ini, kita akan menjalani kehidupan ini dengan sikap yang awas, hati-hati, tidak sembrono.

Kebijaksanaan Ibn Ataillah kali ini seperti mengajari kita semacam “the economy of life”, bagaimana berhitung secara cermat dengan kehidupan kita sendiri, tidak membiarkannya berlangsung secara begitu saja, sehingga kita kehilangan kesempatan yang terbaik dalam hidup ini. Sebab, dalam setiap hembusan nafas yang hanya berlangsung seper sekian detik itu, sebetulnya sedang berlangsung suatu takdir dalam diri kita.

Saat nafas keluar dari mulut kita, “something of great importance has just occurred to us.” Saat kita bernafas, sesuatu yang sangat bermakna dan penting telah terjadi pada diri kita, meskipun kita tak menyadarinya.

Dalam setiap hembusan nafas, ada takdir Tuhan. Karena itu, sudah selayaknya kita menghayati setiap nafas yang kita hembuskan.

Karena itu, dalam yoga, nafas adalah elemen penting dalam setiap meditasi dan refleksi. Nafas bukanlah sekedar hembusan yang digerakkan oleh organ kasat mata, yaitu paru-paru. Nafas adalah “the essence of life”, inti kehidupan yang sangat suci.

Kita harus menghargai setiap nafas yang keluar dari mulut kita. Sebab di sana ada sesuatu yang suci yang merupakan inti kehidupan.

Pengertian khusus. Saat menyadari bahwa dalam setiap nafas kita terdapat takdir dan ketentuan Tuhan yang sedang berlangsung pada diri kita, sudah seharusnya kita menerima segala ketentuan Tuhan dengan sikap rida, legawa, rela, “suméléh”. Seperti kita, dengan legawa dan tanpa beban, membiarkan nafas kita keluar secara alamiah dari mulut.

Terimalah takdirmu dengan begitu ringan dan tanpa beban, seringan engkau bernafas.

Pengertian rida dan rela yang sesungguhnya, kata Syekh Ibn Ajibah, adalah “talaqqi al-mahalik bi-wajhin dlahik,” menerima bencana hidup dengan wajah yang “sumringah”, dengan tersenyum.

Ini jelas bukan petuah yang mudah dijalankan dalam kehidupan yang riil. Ini adalah sikap hidup mistik yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah kenyang makan garam kehidupan dan menghayatinya secara sungguh-sungguh dan bijak.

Apa yang bisa kita petik dari kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini? Kita mesti bisa menerima keadaan secara ringan, secara rileks, serileks kita bernafas. Bersikap alamiah dalam menerima segala kejadian dalam hidup sangat penting. Tidak panik. Tidak was-was. Tidak kehilangan keseimbangan.

Menerima segala macam peristiwa kehidupan secara sukarela dan alamiah adalah persis dengan gambaran yang kita lihat pada patung Buddha: tenang, tersenyum, dan tak terganggu oleh apapun. Sebab semuanya adalah kehendak alam, kehendak Tuhan yang akan berjalan seperti yang sudah seharusnya. Kita hanya harus menerimanya dengan sikap ringan hati. Seringan nafas yang keluar dari mulut kita.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.