Home » Kajian » Pengaruh Syiah dalam Perayaan Maulid Nabi
Perayaan Muludan di Serang, Banten (Foto: Koleksi Tropen Museum/wikimedia)
Perayaan Muludan di Serang, Banten (Foto: Koleksi Tropen Museum/wikimedia)

Pengaruh Syiah dalam Perayaan Maulid Nabi

4.41/5 (17)

IslamLib – Beberapa hari belakangan ini, di surau-surau dan rumah-rumah penduduk desa saya, sayup-sayup terdengar lantunan kitab maulid. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Orang kerap menyebut kegiatan semacam ini sebagai salah satu bentuk perayaan Maulid Nabi atau “muludan” dalam istilah masyarakat Jawa. Tentu saja tidak hanya masyarakat di desa saya, sebagian besar Muslim tentu merayakan Maulid Nabi, walaupun dalam versi yang berbeda-beda.

Adapun Kitab maulid, ia sudah dikenal luas di wilayah Indonesia, wa bil khusus wilayah yang basis masyarakatnya adalah warga Nahdliyin. Kitab ini tidak hanya dibaca menjelang peringatan kelahiran Nabi saja, tetapi dilibatkan pula dalam berbagai ritual-ritual masyarakat, seperti mencukur rambut bayi seminggu setelah dilahirkan, dalam keadaan sedang memiliki hajat (keinginan) tertentu, walimatus safar (rangkaian perayaan menjelang keberangkatan ibadah haji) dan lain-lain. Kitab maulid yang dibacakan dalam acara-acara tersebut dilatari oleh motif yang beragam. Mulai dari mengharap berkah hingga tolak bala’.

Kitab maulid yang dimaksud adalah Maulid al- Barzanji, Maulid ad-Diba’i, dan al-Burdah. Saya teringat dulu ketika nyantri, kitab-kitab ini kerap dilantunkan di pesantren bahkan setiap malam jum’at. Santri berkumpul dalam suatu aula yang luas, dan secara bergilir membaca salah satu dari kitab-kitab itu, yang terangkai dalam bentuk prosa dan syair, hingga tuntas.

Yang paling digemari saya dan santri-santri lainnya adalah ketika bacaan sampai pada pujian-pujian puitis untuk nabi. Karena ditulis dalam bentuk syair, ketika melantunkannya kami kerap kali menggonta-ganti irama lagu dengan lagu-lagu kesukaan kami. Kadang india, melayu bahkan sampai pop dangdut. Hal ini pun pernah berujung teguran dari Bapak Kiai karena dianggap mengurangi sakralitas prosesi tersebut, di samping itu juga terkesan kurang takzim kepada nabi.

Yang menarik dicermati di sini, selain syair-syair yang aduhai mempesona itu, adalah asal-usul dari tradisi pembacaan kitab maulid tersebut. Konon ada yang mengatakan bahwa tradisi yang diikuti oleh mayoritas muslim Sunni ini berasal dari Syi’ah. Ada salah satu buku yang menarik yang ditulis oleh Ahmad Muthohar yang berjudul Maulid Nabi, Menggapai Keteladanan Rasulullah SAW yang memaparkan dengan jelas geneologi tradisi ini.

Muthohar dalam buku tersebut menjelaskan bagaimana hubungan erat Sunni-Syi’ah yang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dalam hal tradisi. Begitu juga menyangkut penyebaran Islam di Indonesia, Syiah juga memiliki peranan yang relatif besar. Maka tidak mencengangkan bila banyak sekali tradisi-tradisi keagamaan yang berkembang di Indonesia ditenggarai sangat kental dengan nuansa Syi’ah. Misalnya, ada salawat-salawat tertentu yang sampai sekarang masih dibaca dalam masyarakat pesantren, wirid-wirid yang jelas menyebutkan Ahlul Bait. Kemudian juga ziarah kubur dan membuat kubah di kuburan.

Muthohar juga menambahkan, masih ada bukti-bukti ritus-ritus khas Syiah lain yang populer di Indonesia. Salah satunya adalah tahlilan di hari pertama atau keempat puluh. Kemudian Haul, peringatan hari wafat orang-orang yang berpengaruh. Peringatan haul ini tidak hanya diselenggarakan masyarakat umum yang mengagungkan orang-orang tertentu. Pesantren pun kerap menyelenggarakan Haul untuk para pengasuhnya. Tradisi lainnya adalah pembacaan kitab maulid dalam rangka memperingati maulid Nabi Saw.

Dalam bukunya itu, Muthohar menemukan bahwa tradisi pembacaan kitab maulid memiliki banyak persamaan dengan tradisi Syi’ah. Mulai dari aspek kitab mauled yang digunakan seperti Maulid al- Barzanji, Maulid ad-Diba’i, dan al-Burdah.

Muthohar melihat bahwa isi kitab sudah memperlihatkan pengaruh Syiah di dalamnya. Kitab-kitab tersebut secara umum memang hanya menggambarkan kisah perjalanan Nabi, dari awal mula dilahirkan hingga wafat, disertai gambaran kebaikan-kebaikan akhlaqnya. Tetapi dalam kitab-kitab itu, menurut Muthohar, ada beberapa syair yang terkesan memuji dan mengkultuskan Nabi Muhammad, sebagaimana umumnya buku-buku yang ditulis kalangan Syiah. Khas buku-buku orang Syiah adalah pengkultusan terhadap tokoh tertentu. Bukan hanya nabi, tetapi juga imam-imam mereka.

Muthohar juga mencermati bahwa bait-bait dalam kitab maulid memperlihatkan pengaruh Syiah dalam hal menjunjung tinggi Ahlul Bait. Meskipun hal demikian memang dianjurkan pula dalam tradisi Sunni. Selain itu, prosesinya pun sangat mirip, yakni ketika sajak-sajak dalam kitab maulid dibacakan oleh seorang pelantun (munsyid), termasuk prosesi berdiri di tengah-tengah ritual pembacaan (mahal al qiyam).

Saya kira temuan ini tidaklah berlebihan. Apalagi dalam kata pengantar buku tersebut disinggung perkataan almarhum Gus Dur bahwa secara tradisi Nahdliyin adalah Syi’ah”. Tetapi bila orang-orang yang mengadakan perayaan Maulid Nabi dikatakan sebagai bagian dari orang syi’ah atau mengikuti tradisi Syi’ah, mereka belum tentu bisa menerimanya, bahkan kemungkinan besar akan marah.

Hal ini lazim terjadi, mengingat studi-studi yang berkaitan dengan  pendekatan historis terhadap tradisi maupun tokoh tertentu selalu sensitif bagi masyarakat pendukungnya. Lebih-lebih, belakangan ini mencuat berbagai wacana anti Syi’ah yang melahirkan rasa benci berlebihan bagi sebagian masyarakat.

Kenapa saya mengatakan berlebihan? Karena kebencian ini sampai-sampai menggiring kita pada stigma-stigma Syi’ah-Sunni-Wahabi.  Kecenderung ini semakin subur di era komunikasi seperti sekarang, terutama dengan menguatnya pengaruh jalur super highway semacam internet. Sedikit saja kita menyampaikan informasi, baik berupa status di media sosial, opini maupun sejarah (yang kadang-kadang sekedar meluruskan informasi yang tidak benar tentang syiah,) kita sudah dianggap bagian dari syi’ah.

Ini tidak hanya mendera masyarakat umum, bahkan tokoh-tokoh sekaliber nasional-internasional seperti Said Aqil Siradj dan Quraish Shihab tak luput menjadi bahan olok-olok dan dicurigai sebagai penganut Syi’ah. Bahkan, konon penulis produktif Asma Nadia, juga diisukan sebagai penganut Syi’ah, terlebih ketika ia menulis artikel yang mengkritisi kebijakan Arab Saudi terkait pelaksanaan ibadah haji.

Yang lebih memprihatinkan di era digital ini adalah informasi tentang syi’ah, begitu pula tentang informasi-informasi lainnya, yang acapkali diterima mentah-mentah oleh masyarakat tanpa penelusuran lebih lanjut perihal kebenarannya. Maka menebar kebencian dan prasangka terhadap kelompok lain semakin mudah di sini.

Sementara itu, upaya untuk menanamkan sikap toleran semakin sulit dan kerap terhalang ganjalan-ganjalan yang luar biasa. Ini senada dengan yang dikatakan Einstein: “What a sad era when it is easier to smash an atom than a prejudice”.

Menghancurkan prasangka memang lebih sulit. Karel Steenbrink menyebutkan bahwa prasangka yang dalam bahasa sosiologi disebut vijandbeelden, adalah gambaran yang kita buat mengenai musuh kita. Gambaran tersebut memang sering tidak benar dan penuh dengan fitnah, tetapi bisa diterima banyak orang selama ada orang yang suka menghasut.

Saya jadi teringat cerita teman yang pernah mendapatkan pesan broadcast melalui Whatsapp. Pesan tersebut berjudul: Negri Darurat Syi’ah. Di dalamnya disertakan pula video orang berjubah ala Syi’ah yang sedang melakukan ibadah sholat dengan menyembah batu. Saya sendiri ingin tertawa sekaligus geram. Dengan tujuan apa orang menyebarkan informasi semacam itu, kalau bukan untuk menebarkan kebencian? Apakah kaum Syiah sebegitu menyeramkan hingga dikatakan darurat?

Sikap Berlebih-Lebihan Dalam Beragama. Kita kerap kali mendengar para pendakwah menyerukan sikap untuk tidak berlebih-lebihan (ekstrim) terhadap sesuatu atau ghuluw. Baik itu berlebih-lebihan dalam hal tindakan maupun keyakinan. Namun yang patut disayangkan, kerap kali yang lebih ditekankan malah ghuluw  yang menurut saya lebih mengarah kepada “internal”. Internal yang saya maksud adalah menyasar pada diri seorang muslim. Misalnya tidak boleh berlebihan dalam menyanjung atau mencintai tokoh tertentu hingga terjebak pada pengkultusan; tidak boleh berlebihan dalam beribadah hingga diri tersia-sia dan tersakiti.

Adapun ghuluw yang “eksternal”, yakni sikap seorang muslim terhadap muslim lainnya atau terhadap kelompok di luar muslim, justru kurang tersentuh. Ini terbukti dengan sikap-sikap kebencian terhadap kaum Ahmadiyah dan Syi’ah, yang bukannya mereda tetapi justru semakin menjadi-jadi.

Maksud saya, kita boleh tidak senang atau tidak setuju dengan Syi’ah serta kelompok, agama atau aliran kepercayaan lainnya, tetapi bukan berarti kita membencinya bukan? Apalagi jika ditunjukkan dengan sikap membenci yang berlebihan. Ini sangat tidak sesuai dengan akhlak yang diperkenalkan oleh Rasullullah.

Jika kita mau sedikit saja menilik sejarah, bagaimana seorang Rasul yang awalnya sendirian sebagai seorang muslim hingga kemudian bisa merangkul berbagai kalangan untuk masuk islam. Bahkan, beliau bisa hidup berdampingan dengan berbagai komunitas non muslim. Sudah selayaknya kita belajar dari sana, bagaimana sikap Rasul menghadapi berbagai perbedaan yang ada.

Jika kita mengaku cinta Rasul, sudah semestinya kita tidak berhenti pada lantunan puji-pujian saja, tapi harus sampai pada meneladani akhlak dan kepribadiannya. Apalagi jika merujuk pada buku Muthohar di atas, bahwa Syiah turut berjasa dalam mengembangkan budaya perayaan maulid Nabi. Maka tidak sepatutnya kalangan ini mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Karena pada hakikatnya, Sunni-Syi’ah masih bisa dipertemukan, bukan dipisahkan.

saya ingin menutup tulisan ini dengan perkataan Imam Syafi’Ii, “Jika mencintai Ahlul Bait dikatakan Syi’ah, maka biarlah manusia dan jin tahu bahwa aku adalah Syi’ah.”

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.