Home » Kajian » Quran » Hermeneutika Ayat-ayat Perang
quranraksasa

Hermeneutika Ayat-ayat Perang

5/5 (1)

Seraya mengelus-elus jenggotnya, Amrozi tersenyum manis menunjukkan ekspresi wajah tanpa dosa (cool calm, and over confident), ketika dia disidang dalam tragedi bom Legian-Bali, yang telah menewaskan sekitar 200 orang. Selama ini Amrozi dikenal sebagai the smiling suspect, sehingga membuat jengkel keluarga-keluarga korban.

Yang ia bayangkan adalah surga yang dipenuhi bidadari cantik nan telanjang sebagai imbalan ‘memberantas kemaksiatan’ itu. Keyakinan bahwa apa yang ia lakukan merupakan jihad sekedar menguatkan pendapat bahwa terminologi jihad memang multi interpretable. Menurut J Habermas “Language is also a medium of domination and power”.

Bahasa secara sepintas terlihat sebagai alat komunikasi yang bebas nilai dan hampa tendensi. Namun sebenarnya ia bukan hanya sekedar sistem tanda. Ia juga bisa berubah menjadi instrumen senjata politik akibat pemberian makna sepihak yang tercerabut dari makna ‘dasar’nya.

Selain kata jihad, dalam bahasa Arab dikenal juga kata qital: peperangan secara fisik, kata harb: perang diplomatis, kata ghazwah: ekspedisi militer yang dipimpin langsung Nabi, sariyah: perang yang dipimpin sahabat yang diangkat Nabi, qahr: penaklukan dan fath: pembebasan (Rumadi, 2002:61-67 dan N. Madjid, 2000: 233).

Ayat-ayat perang sudah mendarah daging kedalam bawah sadar fundamentalis, termasuk ayat yang dikutip secara tak utuh oleh Usamah bin Ladin (Tim Penerjemah Ababil Press, 2001:42):“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka” (Muhammad:4).

Sedangkan hadis-hadis yang sahih dan terpercaya di antaranya tentang: Balasan bagi syahid adalah bidadari cantik, permata dan surga (Ahmad dan al-Turmudzi); Teguran Jibril terhadap Nabi untuk kembali mengangkat pedang dalam perang Ahzab (Bukhari).

Dalam kenyataannya, ayat-ayat perang meski bernuansa universal, tetapi ditulis untuk sekelompok pendengar di masa lampau (in illo tempore). Karena itulah, pemeluk agama apapun hendaknya bisa menangkap mana nilai-nilai universal dari perintah jihad dan perang.

Untuk memudahkan pengkategorian dan kronologi ayat-ayat perang, periodeisasi ayat-ayat makiyyah dan madaniyyah bisa membantu dalam menangkap makna ayat-ayat tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat Makiyyah bersifat universal dan merupakan bentuk revolusi teologis (seperti: penumpasan berhala, paham-paham politeis dan antroposentris). Sedangkan ayat Madaniyah bernuansa sangat kontekstual dan lebih pada revolusi sosiologis

Interpretasi metaforis (ta’wil) dalam tradisi Islam seringkali dianggap sebagai lubang pelarian (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. Tetapi interpretasi semacam ini tidak semuanya buruk, karena pemahaman terhadap teks keagamaan dengan menggunakan akal secara luas berarti juga mempersempit wilayah-wilayah ghaib. Ta’wil juga memberikan kontribusi cukup besar dalam mencincang tubuh Islam.

Praktik ‘hermeneutika Islami’ sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh umat Islam, khususnya ketika menghadapi Alquran. Bukti dari hal tersebut adalah: (1) Kajian-kajian mengenai asbabunnuzul dan nasikh-mansukh, (2) Literatur-literatur tentang teori, aturan dan metode dalam bentuk ilmu tafsir.

Fazlur Rahman menganggap Alquran pada dasarnya adalah respon Ilahi melalui ingatan dan pikiran Nabi kepada situasi moral-sosial Arab pada waktu itu. Bagi Farid Esack, Alquran adalah sekumpulan firman Tuhan yang diturunkan sebagai wahyu untuk merespon tuntutan masyarakat masa Nabi selama 23 tahun.

Sedangkan bagi Abu Zayd, teks Alquran itu berawal dari realitas, dimana bahasa dan budaya realitas tersebut terbentuklah konsepsi-konsepsinya dan ditengah pergerakannya dengan interaksi manusia terbaharuilah maknanya. Rupanya mereka masih ‘malu-malu’ untuk mengatakan bahwa sebenarnya sebagian kandungan nilai dalam Alquran merupakan respon Tuhan terhadap masyarakat pra-modern (untuk membedakannya dengan primitif). Sekalipun Alquran mempunyai aspek partikular yang bisa dilihat dari perspektif kesejarahannya -seperti halnya teks-teks lain-, ia juga memiliki seabrek nilai-nilai luhur-universal di dalamnya.

Teknologi percetakan di era modern, mendorong bahasa mental ditulis dalam bentuk bahasa tulis. Bahasa agama yang pada mulanya mengandalkan bahasa lisan kini diintervensi bahasa tulis yang menitik beratkan pada langue (abstraksi artikulasi bahasa pada tingkat sosial) ketimbang parole (ekspresi bahasa pada tingkat individu).

Aliran literalis seringkali mematok harga mati dalam setiap tafsirannya dan mengacuhkan tafsiran-tafsiran lain. Nietzsche menyindir kalangan literalis: “Kebenaran adalah sekumpulan metafor, metonim, dan antropomorfism; pendeknya sejumlah hubungan manusiawi yang secara puitik dan retorik telah diintensifkan, dimetamorfose dan dipuja sehingga setelah lama lantas dibakukan dalam kanon yang mengikat.

Kebenaran yang ilusi-ilusinya dilupakan orang” (Sugiharto, 1996). Proses penundukan nalar dan realitas dipandang oleh kaum literalis sebagai keharusan keberimanan, menjaga kesucian teks. Kebenaran selalu diukur dengan (makna leksikal) teks, tidak ada kebenaran di luar teks.

Teks keagamaan sebenarnya dapat dilihat sebagai produk sejarah, karenanya tidak terlepas dari hukum-hukum sejarah. Kosakata Alquran dan secara keseluruhan bahasa Arab sangat dipengaruhi oleh sejarah pra-Islam.

Kita bisa mengkategorikan beberapa pengaruh kosakata pada masa pra-Islam yang kemudian diresap dalam redaksi Alquran, yaitu : (1) Kosa kata Badui murni yang mewakili Weltanschuung Arab yang sangat kuno dan berkarakter sangat nomaden, (2) Kosa kata kelompok peagang, yang pada hakikatnya sangat terkait dengan kosakata Badui, sekalipun memiliki semangat yang berbeda, (3) kosakata Yahudi-Kristen yang hidup di tanah Arab (T. Izutsu, 1997).

Seperti kata: Allah, Islam, Nabi, Iman, Kafir, sesungguhnya bukan kata baru karena sudah dikenal jauh sebelum Alquran diturunkan. Dari pelacakan semantik-historis ini, seharusnya kita bisa mengambil pelajaran, bahwa bahasa bukan saja sebagai alat berbicara dan berpikir, tetapi lebih penting lagi untuk mengonseptualisasikan dan menafsirkan dunia yang mengitarinya.

Barangkali alasan penafsiran yang konsisten itu dilakukan, agar kitab suci tidak dianggap bagaikan bunglon yang bisa berubah-ubah warna sesuai keinginan penafsir. Namun apakah tidak lebih baik apabila penafsirannya dikompromikan dengan kecenderungan budaya zaman ini.

Tokoh-tokoh seperti George W. Bush (AS), Slobodan Milosevic (Serbia), Benyamin Netanyahu, Ariel Sharon, Usamah, Saddam Husein (Irak) terkadang disambut aplaus yang meriah oleh sebagian umat dengan membeli kaos bergambar ‘ksatria’ yang mereka kagumi sekalipun jelas-jelas melakukan tindakan kekerasan.

Ayat-ayat perang dengan mudah dieksploitasi oleh aktivis politik yang berniat memberi legitimasi sakral kepada tujuan-tujuan politis mereka. Karena agama mempunyai kemampuan untuk memberikan pahala moral kepada kekerasan, maka agama dapat menjadi kaki tangan politik yang mendominasi (M. Juergensmeyer, 1998). Oleh karenanya, perlu dilakukan usaha men’dekontruksi’ bahasa agama.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.