Home » Kajian » Quran » Taufik Adnan Amal: “Lihatlah Alquran dalam Konteks Sejarahnya!”
Buku "Rekonstruksi Sejarah al-Quran" karya Taufik Adnan Amal
Buku "Rekonstruksi Sejarah al-Quran" karya Taufik Adnan Amal

Taufik Adnan Amal: “Lihatlah Alquran dalam Konteks Sejarahnya!”

2/5 (1)

Sudah saatnya kita melihat kembali sejarah Alquran dengan pandangan yang lebih kritis dan obyektif. Karena proses turunnya Alquran dan pengumpulannya terjadi dalam konteks ruang-waktu atau konteks sejarah yang sangat kental dengan nuansa manusiawi. Bukan saja susunan-susunan ayat-ayat Alquran itu dibuat secara manusiawi, bahkan kandungannya pun sangat kental berwarna kemanusiaan.

Karena itulah, sudah seharusnya kita melihat kitab suci ini dalam konteks kesejarahannya, karena kalau tidak kita akan sulit memahami pesan-pesan yang dibuat lebih dari empat belas abad silam itu. Demikianlah salah satu ini dari pandangan Taufik Adnan Amal, dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar yang baru saja menerbitkan bukunya Rekonstruksi Sejarah Alquran, ketika diwawancarai Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal beberapa hari lalu. Berikut petikannya:

 

Ada satu masalah yang ingin kita bicarakan, yaitu bagaimana memahami Alquran. Apa sih Alquran itu sesungguhnya?

Pada umumnya, Alquran dipahami sebagai rekaman otentik wahyu Illahi yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw dalam rentang waktu selama 23 tahun. Bentuk Alquran yang sampai kepada kita tersusun tidak secara sistematis-kronologis.

Alquran memiliki konteks dalam ruang dan waktu dan ia merespons ruang dan waktu tersebut sehingga kalau dikaitkan dengan bagaimana kita memahaminya seharusnya kita baca dan mengerti konteks Alquran dalam ruang waktu pewahyuannya, baik secara kronologis dan historis.

Bisa Anda jelaskan bagaimana Alquran disusun secara tidak kronologis?

Sebagaimana kita ketahui bersama, wahyu Alquran disampaikan dalam rentang waktu lama. Wahyu-wahyu itu berupa unit-unit wahyu, terdiri dari beberapa ayat. Pentahapan Alquran pada waktu diturunkan ini tidak tercermin dalam surat-surat yang ada dalam kodifikasi Alquran saat ini.

Misalnya, satu tema tertentu, katakan tentang ketuhanan dibahas dalam berbagai surat yang ada. Kemudian contoh susunan yang tidak kronologis, wahyu tentang minuman keras misalnya ada di tempat yang berbeda-beda. Padahal dia diturunkan secara bersama-sama, mulai ayat khamar yang dianggap sebagai rahmat hingga disebut sebagai perbuatan setan.

Jadi pertama-tama, Alquran harus ditempatkan secara kesejarahan?

Alquran harus ditempatkan dalam konteksnya. Kenapa? Karena Alquran merupakan respons terhadap situasi yang dihadapi Nabi dari waktu ke waktu. Jadi misalnya ada nama-nama historis yang muncul Abu Lahab, Zaid dan lain-lain. Ada juga peristiwa-peristiwa historis yang dirujuk Alquran seperti perang badar dan lain-lain, maka untuk memahami Alquran perlu memahami latar kesejarahannya.

Apa yang terjadi dengan pemahaman masyarakat sekarang tidak berdasarkan historistas Alquran?

Kebanyakan kita beranggapan bahwa Alquran siap diaplikasikan tanpa memahami ruang dan waktu tatkala Alquran diturunkan. Ketika Alquran mengatakan potong tangan, kita begitu saja memahami potong tangan. Demikian juga ketika Alquran menyatakan bahwa transaksi harus disaksikan dua orang, kita memaknainya hukum saksi dua orang itu sendiri, bukan makna mendasar, yakni keadilan yang ingin dicapai Alquran.

Dengan meletakkan Alquran secara historis, apa akibatnya bila Alquran dipahami tidak secara kontekstual?

Sesuatu yang dikatakan Alquran (kalamullah) diterapkan sekarang berbeda ruang waktunya saat diturunkan

Ada beberapa diktum harafiah Alquran yang mungkin tidak harus dilakukan apa adanya dalam konteks sekarang ini karena berbeda?

Betul, yakni hukum kesaksian. Ada suatu hadis, suatu ketika Nabi pernah memutuskan satu perkara dengan hanya menggunakan seorang saksi. Padahal dalam Alquran ada disebut dua saksi. Berarti ada perbedaan ruang dan waktu antara ketentuan dalam Alquran yang disebut dua dengan waktu Nabi memutuskan satu orang saja. Istilahnya biasanya disebut rasionale atau istilah ushul fiqh illah. Semangat itulah yang harus kita tangkap dan kita transformasikan sekarang.

Sekarang ini tantangan kita mengenai pluralisme sementara Alquran sendiri ada ayat yang sepertinya mendorong konfrontasi? Tapi ada juga ayat Alquran yang lebih damai. Ini pertanyaan krusial; Ada ayat 13 surat al-Hujurat yang mendorong saling mengenal, sementara ada ayat lain; “tidak rela orang-orang Yahudi…” Bagaimana mendamaikan dua ayat ini?

Sebenarnya Alquran menegaskan dirinya sebagai hudan linnas wa bayyinati minal huda (petunjuk bagi manusia dan penjelasan bagi petunjuk-petunjuk itu). Untuk ayat-ayat yang seolah-olah kontradiktif, kita harus mengkajinya secara menyeluruh. Tidak bicara sepotong-potong, misalnya yang menyeru kepada jihad atau yang sebaliknya. Semuanya harus dikaji secara menyeluruh sehingga kita bisa menarik apa yang dikendaki Alquran

Bagaimana memahami Alquran yang mendukung hidup secara plural?

Kalau kita melihat konteks lahirnya Alquran pada masa nabi bahkan pada masa setelah itu, kita lihat umat Islam hadir dalam komunitas yang majemuk, ada umat Islam, Nasrani, Yahudi dan badui-badui. Nah Alquran misalnya mencela yahudi karena ada situasi politik ketika itu.

Karena mereka berkolaborasi untuk menghancurkan benih atau embrio komunitas Islam yang mulai terbentuk. Sehingga kita harus memahami komunitas-komnuitas keagamaan. Alquran mengatakan kriteria antara umat Islam adalah iman dan amal saleh inilah visi Alquran tentang masyarakat majemuk tadi.

Artinya tanpa melihat latar belakang agama-agama lain, asalkan iman dan amal saleh. Jadi meskipun kita berbeda-beda, maka diterima karena beriman dan beramal saleh?

Saya kira begitu karena memang konteksnya menunjukkan demikian. Banyak lagi contohnya.

Sejauh mana relevansi pesan-pesan Alquran dengan persoalan kita sekarang, misalnya kemiskinan?

Kita selama ini belum memahami etika Alquran. Alquran secara tegas menuntut kita untuk menerapkan amal kebajikan, memperhatikan orang di sekitar kita. Kita tidak menghayatinya. Misalnya aturan zakat itu sebenarnya mencerminkan solidaritas sosial. Dalam konteks penafsiran kontekstual, itu bisa digunakan untuk mengatasi hal-hal seperti kesenjangan sosial.

Apa sih tujuan-tujuan moral Alquran untuk umat Islam dan umat manusia pada umumnya?

Banyak sekali misalnya, keadilan, egaliterian dan musyawarah. Tujuan pokok Alquran adalah penciptaan masayrakat yang adil dan egaliter berdasarkan iman.

Perlu ada sarana dan sistem sosial yang mendukung tujuan itu. Mungkin tugas umat Islam adalah mendukung terciptanya sistem sosial?

Caranya barangkali sulit kita harapkan dari “atas” karena pemerintah sendiri saat ini kurang direspons oleh masyarakat. Lebih bagus justru melalui mekanisme kultural, karena masyarakat akan belajar sendiri dan akan beguna bagi pemberdayaan masyarakat yang bersifat jangka panjang.

Jadi misalnya usulan menggunakan negara untuk menegakkan syariat Islam bagaimana?

Itu sangat otoriter, top-down, bukan bottom up.

Ada anggapan selama ini, hanya orang-orang yang bersih saja yang bisa memahami Alquran dengan benar? Sebanarnya siapa sih yang berhak menafsirkan Alquran?

Yang berhak menafsirkan Alquran sebenarnya adalah manusia. Kalau kriterianya sangat berat, menurut saya tidak ada yang bisa menafsirkan Alquran kecuali malaikat karena malaikat suci dan tidak ada kotorannya. Alquran itu adalah dokumen buat manusia karena ia diturunkan juga buat manusia. Ada suatu pemberontakan di India, seorang intelektual muslim, A.Fyzee, malah mengatakan, siapa saja bisa menafsirkan Alquran.

Memang ketika kita menafsirkan Alquran, bisa jadi produknya berbeda-beda, ada tingkatan-tingkatan. Semakin dalam ilmunya, maka semakin tinggi penafsirannya. Tapi hakikatnya semua orang punya hak untuk menafsirkan Alquran, semua punya akses ke situ.

Tidak ada monopoli bagi kelas tertentu?

Sayangnya selama ini berlaku monopoli seperti itu. Ada semacam kelas tertentu yang berhak menafsirkan Alquran dan mereka menerapkan kriteria-kriteria tertentu yang sangat berat. Alquran seperti taman yang dipagari begitu ketat sehingga orang tak bisa masuk. Kriteria-kriteria penafsir Alquran terlihat sulit, bahkan terkesan mustahil bagi seorang manusia yang memenuhi sayarat-syarat mufassir.

Jadi bagaimana menjamin agar tafsiran Alquran itu menjadi penafsiran yang bertanggung jawab?

Kita perlu pendekatan atau metodologi dalam memahami Alquran; kita harus memahmi dalam konteks kesejarahan, kronologisnya termasuk memahami dalam konteks sastranya. Bagian-bagian Alquran itu saling menjelaskan. Ketika kita memahami konteksnya, maka kita bisa memproyeksikan tantangan kita saat ini.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.