Home » Kajian » Quran » Taurat, Quran, Narasi
torah

Taurat, Quran, Narasi

4.24/5 (17)

IslamLib – Salah dimensi dalam Kitab Suci yang paling menarik saya adalah narasi atau kisah. Quran menyebutnya qasas. Kisah adalah bentuk literer yang kita jumpai dalam hampir semua Kitab Suci. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa kisah adalah elemen yang paling penting dalam semua Kitab Suci. Tentu saja Kitab Suci memuat ajaran-ajaran moral, tetapi ajaran ini biasanya diberi baju berupa kisah.

Ketika ajaran moral diungkapkan dalam bentuk “do and don’t”, perintah dan larangan, ia bisa membosankan, tidak membangkitkan emosi para orang beriman. Tetapi ketika ajaran itu dikemukakan dalam bentuk kisah, ia lebih memikat, lebih “menyentuh”. Sebab sebagai sebuah kisah, ajaran moral hadir bukan dalam bentuk rumusan yang kering, terlepas dari konteks yang riil. Ketika diungkapkan dalam bentuk kisah, sebuah ajaran moral tampil dalam konteks yang kongkrit, dan dengan demikian tidak lagi menjadi sebuah ajaran yang abstrak.

Tentu saja, Kitab Suci seperti Quran tidak berisi kisah belaka. Di sana ada banyak bentuk literer yang lain: ada ajaran moral yang disampaikan dalam bentuk perintah dan larangan, ada perlambang (amsal), ada berita tentang kehidupan di dunia kelak (eskatologi), ada ulasan tentang fenomena kealaman dan semesta, dsb. Tetapi kisah, menurut saya, menempati kedudukan yang istimewa dalam Kitab Suci, termasuk dalam Quran.

Kenapa bentuk kisah mengambil porsi yang begitu besar dalam hampir semua Kitab Suci? Saya kira salah satu penjelasannya adalah karena kisah adalah salah satu bentuk pengetahuan yang paling primitif dalam sejarah peradaban manusia, selain puisi dan mantra. Kisah adalah cara manusia menerangkan dunia dan semesta yang ia tinggali sebelum sains lahir. Bukan hanya itu. Kisah bahkan merupakan alat bagi manusia untuk menciptakan dunianya sendiri. Kisah adalah semacam gambar, blue print, dengan apa manusia membangun dunia tempat ia tinggal.

Jika kita baca misalnya lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama, salah satu Kitab Suci yang paling saya sukai (di luar Quran), maka apa yang kita jumpai di sana adalah bukan saja kisah tentang kejadian dunia dan bagaimana alam semesta ini lahir (kosmogoni), melainkan juga kisah tentang “kejadian” bangsa Israel: bagaimana ia lahir, berkembang, tumbuh besar, jatuh, lalu bangkit lagi, dan menerima “covenant” atau perjanjian dengan Tuhan.

Bagian-bagian dalam Kiatb Suci yang mengandung kisah selalu menarik minat saya sebab ia bukan saja memuat ajaran-ajaran moral, tetapi juga bagaimana sebuah ajaran moral itu hadir secara kongkret dalam situasi yang riil dalam kehidupan manusia di masa lampau. Bukan itu saja. Kisah dalam Kitab Suci juga bisa dijadikan sebagai sebuah model bagaimana masyarakat yang bermoral mesti dibangun dan ditegakkan dalam masyarakat. Kisah-kisah dalam Kitab Suci memberikan semacam cetak biru bagi masyarakat yang ideal.

Sebagian besar kisah dalam Quran sebetulnya terkait dengan cerita tentang bangsa Israel. Kisah Quran adalah semacam “re-telling”, penceritaan ulang atas kisah-kisah tentang bangsa Israel. Sebagian besar kisah tentang nabi dan rasul yang kita jumpai dalam Quran sebetulnya berkenaan dengan nabi-nabi bangsa Israel. Tentu ini menimbulkan pertanyaan: Untuk apa kisah-kisah tentang nabi-nabi Israel ini dikisahkan kembali dalam Quran? Jawaban yang disediakan oleh Quran adalah: sebagai pelajaran, ‘ibrah. Tetapi sebetulnya ada dimenasi lain dalam pengisahan ulang ini.

Kisah-kisah tengang nabi-nabi Israel dalam Quran ini dituturkan untuk menegaskan bahwa misi kerasulan Muhammad sebetulnya merupakan kelanjutan dari misi nabi-nabi bangsa Israel sebelumnya. Kenabian Muhammad bukanlah hal yang terisolasi sama sekali dari sejarah kerasulan yang ada sebelumnya. Ia adalah terusan dari sana. Bangsa Arab, dengan demikian, juga diangkat ke level yang tinggi sebab ia menerima wahyu serupa yang pernah datang kepada bangsa Israel sebelumnya.

Pada saat Islam datang di tanah Arab pada abad ke-7 Masehi, ada sejumlah komunitas Yahudi yang tersebar di pelbagai kawasan di sekitar Madinah. Mereka memandang bangsa Arab dengan mata yang agak sedikit merendahkan, sebab yang terakhir itu mereka anggap sebagai bangsa yang tak memiliki Kitab Suci, bangsa yang “ummi”. Istilah ummi biasa ditafsirkan sebagai seseorang yang tak bisa membaca dan menulis. Menurut saya, pengertian yang lebih tepat ialah orang yang tak pernah berkenalan dengan tradisi Kitab Suci.

Di mata orang-orang Yahudi pada zaman ketika Islam tumbuh sebagai sebuah agama baru, bangsa Arab dipandang dengan sebelah mata sebab mereka tak memiliki Kitab Suci seperti mereka, dan karena itu kedudukannya mereka anggap lebih rendah.

Dengan kehadiran Quran sebagai wahyu baru yang memuat kisah-kisah tentang nabi-nabi Israel di tengah-tengah bangsa Arab, kelompok yang terakhir ini menjadi sejajar kedudukannya dengan bangsa Yahudi. Dalam pandangan Islam, bahkan wahyu Quran memiliki kedudukan yang lebih tinggi sebab ia mengoreksi sejumlah “distorsi” yang (oleh umat Islam dipercayai) ada dalam kitab-kitab sebelum Quran.

Penuturan kembali kisah-kisah tentang bangsa Israel dalam Quran, saya kira, juga punya fungsi yang lain, yaitu untuk menjadi semacam cermin dan contoh bagaimana suatu bangsa mesti dibentuk dan dilahirkan. Kisah tentang Musa yang banyak sekali disebut dalam Quran, menurut saya, adalah contoh yang menarik. Kisah-kisah ini menggambarkan bagaiman bangsa Israel lahir dari situasi ketertindasan di Mesir, kemudian melewati periode “eksodus” atau pelarian ke tanah baru, yaitu Kanaan.

Bukankah motif penderitaan, eksodus, dan pencarian tanah baru untuk membangun komunitas beriman ini kita jumpai dalam sejarah umat Islam awal? Kisah tentang Musa ini rupanya menjadi semacam contoh yang ditiru oleh umat Islam awal dalam usahanya membangun komunitas beriman. Mula-mula mereka mengalami situasi ketertindasan di Mekah, kemudian menjalan “eksodus” ke Madinah, dan membangun masyarakat baru di sana. Di sini, sejarah bangsa Israel di Mesir di bawah kepemimpinan Nabi Musa menjadi semacam model perjuangan komunitas Islam awal di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad.

Peristwa hijar ke Madinah bisa kita pandang sebagai semacam “Muslim equivalent” atau versi Islam dari eksodus bangsa Yahudi dari Mesir. Sementara Mekah dan Madinah adalah versi Islam dari Mesir dan Kanaan. Sebagaimana Kanaan adalah tanah baru bagi bangsa Israel, begitu juga Madinah adalah tanah baru bagi umat Islam.

Demikianlah, kisah nabi-nabi Israel menjadi semacam model bagi terbentuknya komunitas Islam awal. Kisah di sini dituturkan bukan sekedar sebagai pelajaran moral, tetapi juga sebagai sebuah model yang menuntun sebuah bangsa (dalam hal ini bangsa Israel dan bangsa Arab) membangun sebuah “dunia baru”. Di sini kita melihat motif kosmogoni dan sosiogoni (kisah tentang bagaimana masyarakat tertentu lahir) yang sangat kuat baik dalam kisah-kisah di Taurat maupun Quran.

Tanpa kehadiran kisah dalam Kitab Suci, mungkin ia hanya sekedar menjadi traktat etika dan filsafat moral yang kering. Ketika kisah hadir di sana, Kitab Suci hadir sebagai teks yang hidup dan menginspirasi. Tetapi sayangnya kajian atas aspek kisah ini dalam studi tafsir Quran kurang menempati kedudukan yang setara dengan, misalnya, kajian tentang aspek-aspek hukum atau kebahasaan. Hanya dalam perkembangan terakhir lah kajian atas kisah-kisah Quran mendapatkan perhatian yang lebih mendalam seperti dalam studi Muhammad Khalafullah, Al-Fann al-Qasasi fi al-Quran.

Menurut saya studi tentang kisah dalam Kitab Suci sangat penting, sebab kisahlah yang menempati porsi besar dalam Kitab Suci.[]

 

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.