Home » Kajian » Sejarah » Goenawan Mohamad: “Teks Proklamasi Dibuat Tergesa-Gesa”

Goenawan Mohamad: “Teks Proklamasi Dibuat Tergesa-Gesa”

3.75/5 (4)

Bagaimana dengan dukungan dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia; Anda bisa gambarkan konfigurasinya?

Saya kira dukungan pertama datang dari negara-negara Asia dan Afrika seperti Mesir dan India. Dan tentu saja, Amerika Serikat punya aspirasi yang tidak jauh berbeda dengan dunia-dunia progresif saat itu: mendukung dekolonisasi. Kalau kita melihat prinsip-prinsip di 14 pasal yang diajukan Presiden Amerika menjelang terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa, masalah kemerdekaan nasional suatu bangsa sudah pula disebut-sebut.

Jadi, Amerika masa itu memang bersemangat melakukan dekolonisasi, meski dengan catatan: lebih baik sebuah negara itu menjadi negara nasional daripada negara komunis. Tapi memang, Amerika saat itu lebih mengerti tentang aspirasi kemerdekaan dibandingkan Inggris, Prancis, bahkan Belanda.

Dan saya kira, pada tahun 1940-an-1950-an, wacana yang terkuat di Amerika memang mengatakan bahwa kolonialisme adalah gagasan yang buruk. Amerika kala itu lebih progresif daripada Eropa. Tapi sebetulnya juga, wacana seperti itu tidak hanya terjadi di Amerika karena di Eropa juga ada dua penilaian tentang kolonialisme. Kaum buruh dan kaum kiri biasanya pro-dekolonisasi. Jadi, dukungan datang juga dari Eropa.

Kini, Amerika sebagai negara paling kuat di dunia justru tidak mendukung kemerdekaan Palestina dari Isreal. Apa itu yang membuat Palestina susah merdeka sampai sekarang?

Memang, pemerintahan Bush saat ini merupakan pemerintahan yang paling konservatif, paling kanan, tidak terbuka, dan tidak nyaman dengan ide-ide kebebasan negara di dunia ketiga, terutama Palestina. Pemerintahan Amerika kini adalah pemerintahan yang secara ideologi dipengaruhi sangat kuat oleh gambaran tentang Palestina yang dibentuk oleh para fundamentalis Kristen.

Mereka menganggap bahwa problem Palestina itu bisa diterjemahkan dengan bahasa Injil. Di sana kan ada gerakan yang disebut Yudaisme-Kristen. Maksud saya adalah orang-orang Kristen yang mendukung Israel bukan karena setuju dengan keberadaan Israel saja, tapi karena di sana ada kepercayaan tentang pentingnya perang untuk menjemput zaman baru. Pandangan ini memang gila, tapi kekuatan mereka riil. Itu belum lagi ditambah lobi Israel yang cukup berpengaruh di Amerika.

Kalau balik lagi ke Indonesia, kita tahu juga bahwa dukungan negara-negara Sekutu juga punya dampak terhadap kemerdekaan Indonesia. Seberapa besar konsesi yang diberikan Indonesia pada mereka setelah merdeka?

Saya tidak melihat diberikannya konsesi yang berlebih-lebihan oleh Indonesia pada mereka. Waktu itu, konsesi yang diminta tentu saja dalam bentuk investasi. Dan investasi asing di Indonesia, sampai tahun 1958-an memang terpelihara dengan baik.

Tapi itu bukan berarti mesti jelek, karena bisa juga berarti ekonomi dapat berjalan dengan modal asing. Itu berbeda dengan apa yang terjadi setelah tahun 1958an, ketika para birokrat negara mulai korupsi. Dan budaya korupsi itu hanya terjadi di Indonesia setelah tahun 1958.

Bagaimana dengan konsesi politik dan ideologis?

Saya tidak begitu ingat soal konsesi politik. Tapi konsesi politik juga tergantung pada formasi politik Indonesia di dalam negeri. Jangan lupa, pada waktu itu dunia sedang dalam masa Perang Dingin antara blok komunisme dengan Amerika. Indonesia mau tidak mau juga terpengaruh oleh kecamuk Perang Dingin.

Gerakan komunisme di Indonesia sudah dianggap sebagai bagian dari komunisme dunia yang oleh beberapa elemen negara lain juga dianggap asing. Dan saat itu, kalau ada percaturan politik untuk menjadi negara komunis atau tidak komunis, itu sudah inheren dengan formasi politik yang ada di dalam negeri Indonesia sendiri.

Kalau bicara soal pertarungan ideologi saat itu, bukan hanya soal komunis-tidak komunis, tapi Indonesia juga mengalami tarik-menarik ideologis antara islamisme, nasionalisme, dan sosialisme. Apa yang paling dominan saat itu?

Sebetulnya, apa yang diinginkannya Islamisme dari negara.yang pada masa itu tidak begitu jelas. Memang ada ide mendirikan negara Islam yang diusahakan oleh Darul Islam, bahkan dengan perang gerilya oleh Kartosuwiryo. Ada juga ide tentang perlunya negara Islam yang diperjuangkan lewat konstitusi oleh kelompok Masyumi dan NU di tahun 1955. Ideologi sosialisme juga muncul bermacam-macam rupa. Ada komunisme, dan ada pula sosialisme-demokrasi.

Memang (pertarungan ideologi masa itu) lebih gemuruh dari sekarang, karena orang belum banyak mengalami kekecewaan terhadap ideologi-ideologi. Tapi pada dasarnya, arus yang paling kuat di Indonesia, seperti di mana-mana juga, selalu yang moderat; yang tidak ingin terlalu ke kiri atau ke kanan. Dan itulah yang kemudian disebut sebagai nasionalisme.

Bagaimana menjelaskan tidak dipakainya Piagam Jakarta oleh para pendiri bangsa dalam rumusan Pancasila, Mas?

Kebetulan saya membaca beberapa notulen dari rapat persiapan kemerdekaan. Di sana terasa sekali keinginan banyak orang untuk tidak mengadopsi Piagam Jakarta dalam praktek bernegara. Pertama, keinginan untuk bersatu memang begitu besar, dan karena itu, kalau Piagam Jakarta dipaksakan sebagai dasar negara, ditakutkan akan terjadi perpecahan. Dan resiko bagi bangsa Indonesia yang baru muncul besar sekali pada masa itu.

Yang kedua, mungkin tidak jelas betul apa yang disebut dengan syariat Islam di dalam Piagam Jakarta itu. Apa yang dimaksud dengan ”kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”? Kalau agama begitu kuat tertanam dalam sanubari setiap masyarakat Islam, bukankah tak perlu adanya negara yang mengatur pelaksanaan syariat Islam?! Tidak perlu ada campur tangan polisi atau administrasi negara untuk hal itu. Dan ini saya kira yang masih jadi bagian dari kearifan dan pendirian banyak orang ketika itu.

Saya ingat, pada persidangan konstituante tahun 1955, salah seorang pembicara mengatakan bahwa negara itu mengandung watak kekerasan. Memang, negara menganut unsur kekerasan; satu-satunya institusi yang berhak memaksa dan lain sebagainya. Nah, kalau syariat dimasukkan ke dalam aturan negara, maka orang akan dipaksa untuk sesuatu yang tidak semestinya. Sehingga imannya itu menjadi iman yang palsu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.