Home » Kajian » Sejarah » Perang di Zaman Nabi
Pertempuran Badar (Foto: wikipedia.org)

Perang di Zaman Nabi

5/5 (1)

Dari kalangan Muhajirin yang meninggal dalam perang Uhud ini adalah Hamzah ibn Abdul Muththalib dari Bani Hasyim, Mush’ab ibn Umair dari Bani Abd al-Dar, Abdullah ibn Jahsyi, Syammas ibn Utsman. Sedangkan sisanya adalah dari kalangan Anshar. Sementara dari pihak musuh, dari tiga ribu pasukan hanya 22 orang yang mati. Satu orang yang tertawan, yaitu Abi Uzzah al-Jamha.

Penting dicatat, salah satu korban perang Uhud adalah Mukhayriq, seorang Yahudi Bani Tsa’labah. Di pagi hari ketika baru mendengar informasi akan berlangsungnya peperangan antara Musyrik Mekah melawan umat Islam, ia memerintahkan pengikutnya tetap menjaga perjanjian dengan Nabi–sebagaimana termaktub dalam Piagam Madinah–dan membela Nabi dalam memerangi kaum Musyrik Mekah. “Membela Muhammad adalah suatu kebenaran” tandas Mukhayriq.

Ketika diprotes karena peperangan bertepatan dengan hari Sabat, ia menjawab bahwa itu tak menodai Hari Sabat. Ia berpesan, dirinya telah mengangkat Muhammad sebagai ahli warisnya. “Jika aku gugur dalam peperangan nanti, semua hartaku kuserahkan kepada Muhammad untuk suatu keperluan yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya”, tandas Mukhayriq.

Ia menyiapkan pedang dan segera berangkat menuju bukit Uhud dan turut berjuang hingga akhirnya meninggal dunia. Nabi bersabda,”Inilah orang Yahudi yang terbaik”.

Selanjutnya terjadi peperangan Parit, pada bulan Syawal tahun 627 H. atau akhir tahun ke 5 H. Kali ini umat Islam mengalami kemenangan kembali. Jumlah pasukan Islam memang relatif kecil hanya 3000 orang, sementara kekuatan Musyrik Mekah mencapai angka 10.000 orang. Atas usulan Salman al-Farisi, Nabi memerintahkan pasukan dan umat Islam menggali parit di sekitar Madinah dan keadaan kota diperkuat dari dalam.

Sebelum akhirnya berkhianat dengan melanggar perjanjian damai, Yahudi Bani Qurayzhah pun ikut meminjamkan cangkul, pangkur, dan lain-lain untuk kepentingan penggalian parit. Setelah penggalian parit selesai (menelan waktu enam hari), pasukan Quraisy datang mengepung Madinah.

Namun, dengan galian parit yang luas dan dalam ini, orang-orang kafir Quraisy tak bisa memasuki kota sehingga kemenangan tak bisa diraih. Justru pasukan mereka tercerai berai, unta dan kuda-kuda tunggangannya banyak yang meninggal akibat cuaca dingin dan angin puting beliung. Abu Sufyan pulang ke Mekah dengan muka menunduk karena malu atas kekalahannya.

Pertanyaannya, perang ini untuk apa? Menurut saya, perang yang dilakukan Nabi bukan perang untuk perang melainkan perang untuk perdamaian. Husain Haikal berkata, Nabi Muhammad sebenarnya tak menghendaki peperangan. Diceritakan berbagai sumber bahwa ketika penduduk Yatsrib hendak menghabisi penduduk Mina, Nabi justeru melarangnya.

Mereka berkata, “Demi Allah yang telah mengutus engkau atas dasar kebenaran, sekiranya anda mengijinkan, penduduk Mina itu besok akan kami habisi dengan pedang kami”. Nabi menjawab, “kami tidak diperintahkan untuk itu”.

Peperangan terpaksa dilakukan demi tegaknya kedamaian. Karena itu, setiap kali peperangan akan berlangsung, Nabi Muhammad berpesan kepada para prajuritnya agar memperhatikan aspek kemanusiaan. Nabi Muhammad bersabda, sekiranya pembunuhan harus dilakukan, hendaknya yang bersangkutan tidak memukul wajah, karena pada wajah manusia itu terdapat nilai kehormatan manusia.

Di kesempatan lain Nabi berpesan bahwa ketika peperangan sedang berlangsung, pasukan Islam tak boleh membunuh orang-orang jompo, para pendeta, anak kecil, dan kaum perempuan. Sebuah hadits menceritakan, pada satu peperangan pernah diketemukan seorang perempuan mati terbunuh.

Atas kejadian itu, Rasulullah marah dan melarang membunuh perempuan dan anak-anak. Tempat-tempat ibadah dilarang dihancurkan dan pohon-pohonan tak boleh ditebang. Nabi juga bersabda,”janganlah kamu berharap ketemu musuh. Apabila kamu (terpaksa) bertemu, maka bersabarlah”. Itulah etika perang yang ditanamkan Nabi kepada para prajuritnya.

Dari fakta-fakta historis itu bisa ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, peperangan yang terjadi pada zaman Nabi dilakukan dalam rangka pembelaan diri. Allah berfirman QS, (al-Syura [42]: 39-42) “(Bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan secara zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, baginya adalah pahala dari Allah.

Allah tak menyukai orang-orang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa apapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi, orang yang sabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Kedua, peperangan diarahkan kepada orang kafir Quraisy dan bukan kepada sesama umat Islam. Orang kafir Quraisy diperangi karena selalu mengancam dan mengintimidasi umat Islam. Tapi terhadap orang non-Muslim yang tak memusuhi, tak ada perang.

Terbukti Nabi Muhammad melarang umat Islam memerangi al-Bukhtari, orang Musyrik Mekah. Sebab, sekalipun tak beragama Islam, Al-Bukhtari tak menyerang Muhammad saat berada di Mekah. Bahkan, ia membantu pembatalan gerakan isolasi dan pemboikotan terhadap Muhammad dan pengikutnya.

Ketiga, perang dengan orang Yahudi berlangsung, karena mereka bukan hanya melanggar kesepakatan damai dalam Piagam Madinah, melainkan juga melancarkan api permusuhan terhadap umat Islam. Kelompok Yahudi Banil Mushthaliq pernah merencanakan secara sistematis untuk membunuh Nabi di bawah komando al-Harits ibn Abi Dlirar. Informasi ini terdengar oleh Nabi dan meletuslah peperangan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.