Home » Kajian » Hikam » Sufisme Justru Dibutuhkan di Tengah Keramaian
8248237091_9516bb5c45_z

Sufisme Justru Dibutuhkan di Tengah Keramaian Ngaji Hikam ke-29

5/5 (4)

IslamLib – Sebelum mulai membaca dan “mengaji”, mohon klik ini terlebih dahuluMari kita mulai ngaji Hikam seri ke-29.

Syekh Ibn Ataillah berkata:

La tataraqqab faragh al-aghyar, fa inna dzalika yaqtha’uka ‘an wujud al-muraqabati lahu fi-ma huwa muqimuka fihi.

Terjemahan: Jangan menunggu hingga semua “aghyar” (sesuatu yang menimbulkan gangguan pada kondisi rohani kita) hilang terlebih dahulu. Sebab hal itu akan menghalangimu untuk terus bersikap berjaga-jaga dan ingat kepada-Nya pada saat engkau berada dalam situasi (penuh gangguan) di mana Dia menempatkanmu di sana.

Dengan kata lain, jangan menunggu keadaan tenang terlebih dahulu untuk mengingat Tuhan. Justru dalam kedaan sibuk dengan “aghyar”, engkau harus terus mengingat-Nya, agar engkau tak lengah.

Mari kita dalami kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.

Pengertian umum. Kita akan kembali ke “teori” awal: bahwa masing-masing orang memiliki maqam atau “stasi spiritual” yang berbeda-beda. Ada orang yang ditempatkan oleh Tuhan pada maqam “manusia kamar”, ada yang ditempatkan di maqam “manusia sosial”. Setiap orang hendaknya menerima dengan ikhlas masing-masing maqam yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, tanpa mengeluh, tanpa protes. Melainkan menjalaninya dengan tulus dan penuh dedikasi.

Seseorang yang berada di maqam “manusia kamar”, dia biasanya cenderung banyak berkecimpung dalam dunia ramai, di masyarakat, sibuk dengan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Orang yang berada di maqam semacam ini memiliki tantangan yang besar. Sebab, kesibukan di dalam kehidupan ramai memang rentan membuat seseorang lengah, alpa, lalai terhadap sesuatu yang esensial dan inti dalam kehidupan. Pendeknya: terhadap Tuhan.

Seseorang yang ditempatkan pada maqam “manusia kamar” tak memiliki tantangan sebesar manusia sosial, sebab mereka lebih diuntungkan oleh keadaan mereka yang terisolasi dan terpisah dari kehidupan orang banyak.

Mereka lebih memiliki kesempatan untuk memusatkan kehidupan spiritualnya kepada sumber segala hakikat, yaitu Tuhan. Mereka bisa menikmati kehidupan “khalwat” atau menyepi dan menyingkir dari gangguan “aghyar” (sesuatu yang bisa mengganggu pikiran dan rohani seseorang).

Nasihat Syekh Ibn Ataillah ini ditujukan baik kepada manusia kamar dan manusia sosial sekaligus. Tetapi, manusia jenis yang terakhir ini selayaknya memberikan perhatian yang lebih kepada nasihat ini, sebab mereka berada pada situasi yang rentan untuk lalai, alpa dan lupa.

Kepada manusia sosial ini, Syekh Ibn Ataillah berpesan agar tetap menjaga sikap “muraqabah”, “looking out”, waspada, dan ingat terus, tidak membiarkan dirinya terserap ke dalam gangguan “aghyar” yang bisa membuatnya menyimpang dari tujuan hidup yang sebenarnya, dari hakikat kehidupan.

Sebaiknya kita tak perlu menunggu situasi untuk tenang terlebih dahulu untuk mengingat Sumber Kehidupan. Sebab, sikap “menunda” semacam itu justru akan membuat kita lengah. Justru dalam keadaan sibuk dengan hal-hal yang sifatnya duniawi kita harus tetap ingat akan Dia, tetap waspada terhadap hakikat hidup, tetap berjaga-jaga supaya tak terjatuh dan terpeleset.

Mengingat Tuhan dalam keadaan kita tak sibuk bukanlah hal yang istimewa. Tetapi mengingat Tuhan pada saat kita tenggelam dalam kesibukan duniawi, itulah keistimewaan yang patut dipujikan.

Ini sama saja dengan situasi berikut ini. Bersikap jujur dalam keadaan di mana tak ada godaan untuk bersikap curang, itu bukanlah hal yang menakjubkan. Tetapi bersikap jujur pada saat kita berada di tengah-tengah sistem yang menggoda untuk berbuat curang dan korup, itulah keistimewaan yang luar biasa.

Sikap “muraqabah” atau selalu berjaga-jaga, waspada, mengingat esensi kehidupan justru dibutuhkan pada saat seseorang tenggelam dalam kehidupan yang sarat/penuh dengan “aghyar”.

Jika kita menunda hingga kehidupan kita sepi dari kesibukan untuk kemudian baru “eling”, mengingat Tuhan, itu jelas kurang banyak mafaatnya. Anda kehilangan kesempatan spiritual yang terbaik, yaitu bersikap waspada justru pada saat anda dalam situasi yang rentan pada kelengahan, kealpaan.

Pengertian khusus. Seorang yang dalam perjalanan menuju ma’rifat, menuju kepada pengetahuan tentang kesejatian hidup, kadang-kadang mengalami ujian yang berat: yaitu tergoda dengan “mahsusat”, dunia yang bisa kita indera. Indera orang itu untuk sementara waktu tergoda untuk menikmati dunia material. Dia bisa saja tenggelam di sana, lalu lupa pada perjalanan spiritualnya menuju sumber ma’rifat, yaitu Tuhan Yang Immaterial, Yang Tak Tampak.

Godaan seorang ‘arif adalah lupa pada Tuhan Yang Maha Gaib dan lengah oleh hal-hal yang nampak, zahir, yaitu dunia fisik ini.
Godaan semacam ini tak terhindarkan selama manusia masih berupa tubuh dan badan yang berada di bumi.

Karena itu, tak mungkin seorang ‘arif bermimpi untuk lepas dari kehidupan badan ini selama ia masih di dunia. Justru kehidupan dalam dunia badan ini adalah tantangan baginya: apakah ia tetap bisa terus ingat pada Tuhan, atau lengah dan tergoda dengan dunia fisik.

Hidup bersama “aghyar” di dunia ini adalah ujian bagi seorang “salik”, pelaku perjalanan spiritual. Jika dia sungguh-sungguh bisa melakukan “muraqabah”, menjaga dirinya untuk tak lengah, dunia fisik itu justru menjadi sarana peningkatan maqam spiritual dia.

Tetapi jika dia bersikap malas, dan menunggu sampai godaan dunia material itu berlalu dan hilang terlebih dahulu sebelum dia akhirnya kembali mengingat Tuhan, maka dia telah gagal mencapai kenaikan maqam spiritual.

Pelajaran dari kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini ialah: Selalu menginat Tuhan, selalu “eling lan waspada”, dalam keadaan apapun. Tuntutan untuk ingat dan waspada justru lebih besar dalam momen-momen ketika kita rentan untuk lengah karena sibuk dengan kehidupan yang penuh dengan godaan.

Pada saat berada di tengah-tengah keramaian yang banyak copet, justru anda perlu meningkatkan kewaspadaan. Jika ada waspada pada copet dalam keadaan sepi, tak ada orang di sekitar, jelas tak ada guna.

Sikap sufistik, sikap terus awas dan ingat akan Yang Hakiki, justru dibutuhkan dalam keadaan kita hidup di tengah orang ramai.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.