Home » Kajian » Sufisme » Abdul Munir Mulkhan: “Beragamalah Untuk Manusia, Bukan Untuk Tuhan”
Abdul Munir Mulkhan (Foto: thejakartapost.com)
Abdul Munir Mulkhan (Foto: thejakartapost.com)

Abdul Munir Mulkhan: “Beragamalah Untuk Manusia, Bukan Untuk Tuhan”

4/5 (3)

Salah satu kekeliruan orang-orang beragama, menurut Abdul Munir Mulkhan, adalah penekanan yang berlebihan kepada Tuhan. Akibatnya, Tuhan sering disalahgunakan untuk membenarkan perbuatan seseorang, baik dalam bidang agama maupun urusan-urusan lainnya. Padahal, Tuhan menurunkan agama bagi manusia bukan untuk diriNYA, tapi justru untuk manusia.

Tuhan tidak membutuhkan agama, tapi manusialah yang membutuhkannya. Karena itu, agama seharusnya diorientasikan kepada kemaslahatan manusia, bukan kemaslahatan Tuhan. “Kita harus mengkritik konsep-konsep ketuhanan klasik,” ujarnya kepada Nong Daral Mahmada dari Jaringan Islam Liberal. Berikut petikannya.

 

Kalau kita melihat Alquran kan kaya dengan ayat-ayat yang pluralis. Tapi di sisi lain ada juga ayat-ayat yang tidak pluralis misalnya ayat walan tardha anka al-yahudu wala al-nashara dan seterusnya. Bagaimana cara mendamaikan “ayat-ayat yang bertentangan” seperti itu?

Ayat Alquran itu banyak dipahami oleh pemeluknya lebih sebagai misi suci untuk menyelamatkan dunia dengan harapn semua orang memeluk Islam. Kalau saya sendiri memahami ayat-ayat yang bertentangan seperti contoh tadi, itu bukan dalam pengertian misionaris formal penyelamatan supaya orang itu memeluk agama Islam, tetapi itu sebagai fenomena sejarah saja bahwa ada sebagian orang yang mempunyai tradisi lama itu akan mempertahankan tradisinya.

Itu saja, bukan kemudian itu bentuk-bentuk orang yang memeluk agama Yahudi atau Kristen yang kemudian selalu memusuhi Islam. Yang kedua, itu kan budaya. Jadi bukan orangnya. Sehingga sangat tidak beralasan itu dijadikan dasar bahwa orang-orang Yahudi atau Nasrani itu orangnya, bukan kulturnya, selalu bermusuhan dengan orang Islam.

Jadi, penafsiran yang membenarkan dirinya sendiri dan menganggap orang lain salah itu potensial menimbulkan eksklusivisme beragama?

Ya, dan itu biasanyanya selalu muncul di dalam tahap-tahap tertentu proses hubungan sosial ekonomi politik. Jadi tidak pada awalnya. Kalau orang tidak kenal tetangganya atau siapa yang berhubungan dengannya itu tidak beragama apa, itu kan sehat. Tapi kalau belakangan hari diketahui beragama apa, lalu dicari-cari pembenar untuk menyalahkan orang lain.

Adakah cara untuk beragama yang sehat tanpa prasangka?

Kalau saya itu sesungguhnya agama itu untuk siapa sih? Selama ini terkesan kalau agama itu untuk Tuhan. Ritus-ritus itu untuk Tuhan, memuja Tuhan. Dan itu kemudian gampang dimanipulasi oleh manusia; “ini untuk Tuhan”. Lalu kemudian manusia boleh tidak ngurus sesamanya.

Padahal Tuhan dimanipulasi untuk kepentingannya sendiri. Jadi sesungguhnya harus dijernihkan bahwa semua agama itu kalau kita baca dengan jernih itu diturunkan Tuhan bukan untuk ngurusin Tuhan, tapi untuk ngurusin manusia ini. Seperti pendapat Ibn Rusyd, Ibn Thufail dan sebagainya, agama itu ya paralel dengan pengalaman manusia.

Bagaimana pendapat Anda soal komentar A.N Wilson yang menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan itu lebih kejam daripada candu?

Itulah. Kadang-kadang memang di satu sisi kepercayaan kepada Tuhan itu membuat manusia menjadi bebas, menjadi kreatif. Tetapi di sisi lain, sangat mudah sekali Tuhan yang maha segala maha itu kemudian dijadikan manusia untuk merasa dirinya paling hebat.

Dan karena itu menurut saya, bukan karena cinta Tuhan itu lebih kejam, tetapi konsep tentang Tuhan itu yang menjadikan manusia mudah berlindung untuk bertindak kejam, sadis, dan brutal. Jadi menurut saya sekali lagi perlu kritik terhadap konsep-konsep ketuhanan klasik itu.

Maksud Anda?

Karena selama ini Tuhan itu dianggap sebagai mutlak benar, tetapi pada saat yang sama yang mutlak itu dianggap bisa ditafsir oleh manusia. Kalau mutlaknya Tuhan itu tetap dibiarkan pada kemutlakan itu, manusia bisa menjadi toleran kepada yang lain. Karena dari itu muncul satu keraguan, muncul suatu keserbamungkinan bahwa jangan-jangan Tuhan yang serba mutlak itu ada di tempat lain, ada di orang lain.

Karena kita tidak pernah bisa merumuskan siapa Tuhan itu. Itulah kritik para sufi terhadap para fuqoha dan mutakallimin, karena menganggap bahwa nama-namna Tuhan yang dirumuskan itu berdasarkan informasi yang ada, itulah Tuhan. Lalu Tuhan menjadi tidak mutlak lagi.

Manurut Anda, ada istilah God, Rabb, Yahweh itu menunjuk pada satu substansi atau substansi yang berbeda-beda?

Kalau saya lebih melihat sesuai dengan perhatian saya, itu sebagai satu pengalaman otentik manusia saja yang substansinya sama. Toh, semua percaya bahwa pada akhirnya yang maha itu satu. Nah, kalau semua itu percaya seperti itu, boleh jadi yang disebut Yahweh, yang disebut Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan, Rabb, itu ya satu itu.

Berkaitan dengan hari raya yang beriringan ini, hari Idul Fitri lalu hari Natal. Apakah ada makna yang tersirat dari dua hari raya yang beriringan ini?

Ini kan pengalaman sejarah saja. Ini sebetulnya sesuatu yang biasa saja. Hari raya itu kalau menurut Islam kan sunnah. Artinya orang boleh merayakan dan boleh tidak. Tapi karena dirembesi oleh yang mutlak, yang suci yang kita anggap bisa kita tangkap itu, kemudian menjadi problem besar. Sehingga misi-misi kemanusiaannya itu menjadi terlupakan. Semestinya kalau pemeluk Kristen atau pemeluk Islam itu kembali menangkap misi kemanusiaanya, itu ya biasa saja.

Tapi kalau di Indonesia, setiap hari raya itu kan ada nuansa festivalnya. Ada nuansa perayaannya yang tentu saja berkaitan dengan tradisi. Kalau sudah menyangkut perayaan itu kan biasanya ada nuansa yang sifatnya sakral di situ, yang berkaitan dengan yang lokal juga kan. Bagaimana menurut Anda?

Ya, sesungguhnya perayaan itu tergantung kita memberi makna. Jadi perayaan itu pengalaman otentik manusia, bagaimana memanusiakan dirinya sekaligus memanusiakan orang lain. Kalau hari raya itu kan ada perintah, artinya perintah ini sunnah, untuk menyambung tali kasih.

Sesungguhnya kalau diterjemahkan dengan tali kasih itu kan klop dengan Natal, yang kemudian tidak harus diterjemahkan secara sepihak; silaturahmi atau tali kasih ini hanya di antara orang Islam sendiri. Nah, kalau kemudian itu diartikan secara terbuka; ini bagi kepentingan kemanusiaan, untuk menjalin hubungan lebih baik lagi dengan seluruh anggota bumi, penduduk bumi, ini kan selesai sesungguhnya.

Cuma kemudian yang ada adalah diartikan secara spesifik, jadi festivalnya itu kemudian dianggap sebagai cermin dari Tuhan yang mutlak yang suci itu. Yang kemudian, karena ini wilayah manusia, Tuhan jadi terbagi. Ketika Tuhan sudah ditangkap oleh sesorang, ia tidak bisa lagi ditangkap oleh orang lain., sehingga Tuhan jadi rebutan.

Terakhir, bolehkah orang Islam mengucapkan selamat Natal kepada Umat Nasrani dan sebaliknya, yang Kristen mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada umat Islam?

Kalau kita kembali kepada yang tadi, bahwa perlu reinterpretasi terhadap yang sakral, lalu yang maha, lalu kemudian dianggap sebagai pengalaman otentik. Ya boleh saja kan, orang lain bergembira kita juga ikut bergembira. Saling mengucapkan. Soal surga itu serahkan sajalah kepada Tuhan.

Menurut saya biasa-biasa saja. Tapi kalau kemudian diformalkan, yang suci itu nggak terbagi, yang mutlak itu hanya satu, dan yang satu itu mestinya nggak terbagi tapi karena ditangkap oleh manusia menjadi terbagi; kalau Tuhan sudah saya tangkap maka orang lain tidak bisa lagi.

Lalu ada klaim-klaim sepihak. Itu yang menurut saya menyebabkan hal-hal yang sederhana, misalnya tetangga kita sedang bersuka ria dan kita menunjukkan kegembiraan, dan itu dianggap tidak boleh.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.