Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Sufisme » Achmad Chodjim: “Tanpa Pencarian, Tak Akan Pernah Ada Wahyu”
Achmad Chodjim

Achmad Chodjim: “Tanpa Pencarian, Tak Akan Pernah Ada Wahyu”

4.6/5 (5)

Mas Chodjim, apa saja hal-hal penting yang dibicarakan Alquran untuk menanggapi kondisi bangsa Arab ketika itu?

Ketika Alquran baru diturunkan, ayat yang turun pertama-tama tidak banyak. Hanya saja, ayat itu menjadi inti dari aksi dan aktivitas manusia, yaitu falsafahiqra’ (bacalah!). Di situ tidak ditentukan obyek tertentu untuk dibaca. Jadi diharapkan, perintah itu memotivasi untuk membaca hal-hal yang terkait dengan alam ciptaan Tuhan.

Makanya iqra’ bismi Rabbik (bacalah dengan nama Tuhan-mu!) itu sebenarnya terkait dengan asmâ’ Allah yang digelar di semesta raya ini. Itu diperlukan agar manusia dapat hidup dengan cara yang lebih bermartabat.

Artinya, kalau sesuatu itu mampu kita baca dan teliti dengan baik, otomatis kita akan lebih beradab daripada asal melakukan sesuatu tanpa memperhatikan untung-ruginya. Makanya, iqra’ di situberkaitan juga pada akhirnya dengan nalar yang luar biasa tidak terbatas, khususnya ketika dikatakan bahwa “Tuhan telah memberikan qalam, untuk mengetahui apa-apa yang tidak diketahui manusia”.

Karena itu, turunnya Alquran di bulan Ramadan memiliki makna ganda, baik untuk umat manusia maupun bagi manusia perorangan.

Menurut Anda, apa nilai penting Alquran yang mestinya dihidupkan dan dimajukan saat ini?

Sebagaimana tadi dikatakan, hakikat Alquran adalah petunjuk. Yang namanya petunjuk, tentu bukan menyuruh orang untuk membunuh, dan bukan pula sebentuk komando langsung untuk melakukan tindak kejahatan. Di dalam sebuah petunjuk, selalu ada beragam kondisi yang bisa dilakukan dalam standar petunjuk itu tadi.

Sebagaimana yang dikatakan Alquran sendiri, ia adalah “…hudan lin nâs wa bayyinâtin minal hudâ wal furqân.” Jadi, ia adalah petunjuk, sekaligus penjelasan atas petunjuk itu, dan al-furqân atau pembeda.

Yang banyak dilupakan orang, hal paling inti dari Alquran adalah unsur furqân itu. Al-furqân adalah patokan, unsur pembeda supaya orang bisa menilai mana yang salah dan mana yang benar; mana yang palsu dan mana yang nyata. Jadi al-furqân itu harus dipegang.

Dan kalau Alquran digunakan sebagai petunjuk, orang akan tahu kapan ayat-ayat yang memerintahkan pembunuhan atas orang kafir perlu dilaksanakan. Yang diperangi Rasulullah dari orang-orang kafir adalah tindakan semena-mena mereka, bukan kekafirannya itu sendiri.

Kita tahu, selama nabi tinggal di Mekah, ia tidak pernah melakukan perlawanan. Yang ada adalah pertahanan diri semata. Tapi begitu di Madinah, sesudah berusaha menjauh dari lingkungan yang semena-mena tadi, tapi masih juga sering diserbu, dan menghadapi tekanan-tekanan luar biasa, barulah turun surat al-Ahzab.

Di situ antara lain dikatakan, “Diizinkan padamu untuk berperang.” Jadi, perang di situ baru diizinkan. Itu pun jika kita telah diperangi dan diusir dari kampung halaman kita.

Bagaimana dengan pemahaman Alquran sebagai syifâ’(penyembuh) yang oleh sementara orang dimanfaatkan sebagai jimat dan penangkal hantu, misalnya?

Ada banyak penjelasan soal petunjuk dalam Alquran. Di antara petunjuk itu adalah status Alquran sebagai syifâ’ dan rahmah. Pengertian syifâ’ tentu tidak harus dengan menggunakan Alquran sebagai mantera.

Tapi makna yang bisa kita baca: Alquran betul-betul dapat digunakan sebagai obat, baik dalam pengertian spiritual maupun fisikal. Dia bisa menjadi obat spiritual jika kita melakukan kontemplasi dalam membacanya, sehingga kita bisa meningkatkan kualitas kejiwaan kita.

Misalnya, kalau Allah mengatakan lewat Alquran bahwa dunia ini sebenarnya hanya perhiasan yang menipu, atau keadaan yang ilusif semata, maka kalau ungkapan itu masuk ke dalam diri kita, ia akan menjadi obat spiritual karena kita tersadar.

Kita sadar apa artinya mengejar-ngejar dunia kalau toh ia hanya kesenangan yang memperdaya. Karena itu, ia tidak kita kejar, tapi kita sikapi dengan baik dan wajar.

Adapun pengobatan yang berkaitan dengan fisik, Alquran banyak juga memberi petunjuk. Misalnya dikatakan, madu itu mengandung unsur obat. Untuk itu harus diteliti. Yang lainnya adalah rahasia mengapa Alquran memerintahkan untuk menyusui bayi hingga dua tahun. Makanya, sisi lahir ayat itu tidak bisa kita pakai menjadi jimat; kandungannyalah yang bisa melahirkan obat-obatan baik fisikal maupun spiritual.

Ada yang menyebut bahwa salah satu fungsi Alquran adalah usaha Tuhan untuk mempermaklumkan dirinya kepada manusia agar manusia mengenal-Nya. Tanggapan Anda?

Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, di dalam perintah iqra’ tadi, di antaranya tercakup iqra’ atas sifat-sifat Allah. Tapi karena perintah iqra’ itu bersifat nakirah, tidak ada obyek yang dipastikan, maka semua kebenaran yang digelar Allah di jagat raya memang harus dibaca.

Jadi, ketika kita melihat apa yang digelar ini, kita akan tahu bahwa semua itu perwujudan dari ciptaan Tuhan. Sementara itu, ciptaan Tuhan tak lebih merupakan kepanjangan asmâ’ atau nama-nama Allah.

Jadi, kalau kita memahami aspek itu, Alquran memang sekaligus memberi tuntunan, petunjuk buat manusia untuk bisa mengenal Diri-Nya, dan sekaligus karakter atau sifat-sifat mahluk ciptaan-Nya. Untuk apa itu dipertintahkan agar dipahami sungguh-sungguh? Untuk kesejahteraan manusia dan masyarakat itu sendiri.

Tapi Mas Chodjim, apakah tanpa wahyu atau kitab suci, manusia betul-betul tidak akan dapat petunjuk dan akan hidup terlunta-lunta?

Sebenarnya pengertian wahyu atau kitab suci itu sendiri yang harus kita pahami lebih dulu. Sebelum diturunkan nabi-nabi, pengertian kitab suci seperti sekarang ini otomatis tidak ada. Kita tahu, manusia sudah hidup ratusan ribu tahun yang lalu, sementara agama tertua yang kita kenal baru hadir kira-kira 3000 tahun SM, atau setara 5000 tahun lalu. Kalau begitu, sebelum 5000 tahun lalu, belum ada pengertian kitab suci seperti yang kita pahami sekarang ini.

Makanya tadi dikatakan bahwa, Alquran itu sebenarnya ayat-ayat nyata yang berada dalam kesadaran orang-orang yang diberi ilmu. Di situ tidak dikatakan orang-orang berilmu, tapi ûtul `ilm, atau orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah. Dan nikmat itu tentunya tidak akan didapat semua orang. Tapi pada akhirnya, semua orang akan mengenal Tuhan dengan sendirinya.

Makanya, sebelum berbagai kitab suci terbukukan seperti sekarang ini, sudah ada banyak orang yang mengajak untuk hidup secara benar walaupun belum ada pengertian kitab suci seperti sekarang.

Apakah dapat disimpulkan bahwa Alquran atau wahyu itu bersifat komplementer terhadap akal?

Ya, betul. Pertama-tama, akallah yang dianugerahkan pada manusia. Dan di dalam Alquran, kata akal dalam bentuk mashdar (kata benda) tidak ada. Yang ada selalu berbentuk kata kerja (fi`il). Namun demikian, kalau kita jeli meneliti surat al-`Alaq ayat 1 sampai 5, kita akan tahu bahwa di situ ada redaksi“‘allama bil qalam.” Jadi ternyata, Tuhan juga mengajarkan, termasuk memperkenalkan dirinya kepada manusia, pertama-tama dengan al-qalam.

Al-qalam di sini tentu saja tidak semakna dengan alat tulis yang kita kenal sekarang, tapi lebih pada al-qalam (pencatat, Red) yang ada dalam batin tiap manusia. Makanya, di situ Tuhan juga mengatakan, “`allamal insân mâ lam ya`lam,” Jadi, Tuhan juga mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui manusia sebelumnya dengan perantara al-qalam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.