Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Sufisme » Achmad Chodjim: “Tanpa Pencarian, Tak Akan Pernah Ada Wahyu”
Achmad Chodjim

Achmad Chodjim: “Tanpa Pencarian, Tak Akan Pernah Ada Wahyu”

4.6/5 (5)

Peristiwa nuzulul Qur’an yang dialami Nabi Muhammad bukanlah hasil tanpa proses. Sebelum menerima wahyu, secara psikologis nabi telah lama galau-gelisah karena tatanan sosial yang berlaku pada zamannya.

Kontemplasi yang sering beliau lakukan di Gua Hira’, tak lain merupakan cara Nabi merefleksi ihwal masyarakatnya, sambil mencari inspirasi soal tata cara mengubahnya. Demikian perbincangan Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (20/10), dengan Achmad Chodjim, penulis buku-buku tasawuf, antara lain Islam Esoteris, Jalan Pencerahan, Makna Kematian, dan beberapa buku tafsir.

 

Mas Chodjim, kenapa Alquran mesti turun?

Sebenarnya, upaya memahami makna turunnya Alquran tidak bisa dilepaskan dari sudut orang yang menerimanya. Artinya, ia tidak pernah bisa lepas dari karakter serta perjuangan hidup Kanjeng Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi nabi.

Kita tahu, beberapa tahun sebelum Alquran diturunkan, Kanjeng Nabi sudah terbiasa melakukan tahannuts (kontemplasi, Red) di Gua Hira’, dan itu selalu dilakukan pada bulan Ramadan.

Apakah bulan Ramadan sudah dianggap suci dalam tradisi Quraisy ketika itu?

Belum, karena Ramadan pada waktu itu hanya merujuk pada suatu kondisi satu bulan dari dua belas bulan yang ada. Tepatnya, ia bulan kesembilan di mana kondisi Jazirah Arab amat terik, sangat panas, dan terpanas. Pada waktu itu, bulan Ramadan tidak dikaitkan dengan rembulan, tapi dengan peredaran matahari. Makanya, setiap bulan sembilan, di sana panas sekali.

Kita juga tahu, kata Ramadan itu sendiri berasal dari kata Arab ra-ma-dla yang berarti memanggang atau memanaskan. Turunan kata bendanya adalah ramdlâ’yang berarti memanggang, memanaskan, atau kondisi sangat terik. Jadi Ramadan ketika itu memang dikenal sebagai masa di mana orang-orang Arab sana malas keluar rumah.

Untuk orang–orang tertentu, melakukan tahannuts di gua-gua adalah pilihan. Di sana mereka bisa melakukan apa yang pada saat ini kita sebut refleksi diri, perenungan diri, introspeksi diri, dan penilaian atas kehidupan.

Nah, nabi sudah beberapa kali melakukan hal serupa. Jadi bukan sekali Ramadan itu saja. Ada yang menyebutkan, sebelumnya ia sudah lebih dari lima kali melakukan tahannuts. Tapi baru kali itulah nabi menerima wahyu pertama. Karena tahannuts-nya bertepatan dengan bulan Ramadan, maka Ramadan menjadi momen penting.

Apakah wahyu, ilham, atau inspirasi yang mencengangkan dalam hidup hanya mungkin didapat lewat proses perenungan yang syahdu seperti nabi di Gua Hira?

Kalau kita memahami proses awalnya, memang begitulah adanya. Artinya, hanya orang-orang yang betul-betul sudah dapat membakar egonya saja yang akan mampu menjadi tempat bersemainya kalam Allah.

Ketika seseorang telah membersihkan hatinya, ilham akan mengucur bagai air yang mengalir. Bahwa di dalam perkembangan hidup nabi selanjutnya wahyu turun pada saat-saat genting seperti perang atau dalam tekanan hidup, itu tidak menafikan proses awalnya.

Artinya, seandainya seseorang tidak melakukan suatu proses pencarian, tidak akan pernah ada wahyu. Nabi Ibrahim sendiri menerima wahyu setelah melalui proses pencarian yang sangat panjang. Perjalannya untuk menemukan Tuhan merupakan proses pencarian, bukan seperti kita zaman sekarang yang tinggal dididik untuk percaya saja tanpa proses pergulatan.

Artinya, ada dialektika antara proses manusiawi untuk mencari inspirasi guna mengubah keadaan, dengan ketentuan Tuhan pada siapa ilham atau wahyu akan diberikan?

Ya. Saya melihat, selama ini pemahaman yang umum sering mengartikan redaksi man yasyâ’ (misalnya dalam ayat “yuthil hikmata man yasyâ”, atau Allah akan memberi kearifan pada siapa pun yang ia kehendaki) selalu diartikan dengan kehendak Tuhan semata-mata.

Padahal, kata man yasyâ’ yang termuat dalam banyak ayat Alquran, selalu terkait dengan hubungan antara dua belah pihak. Jadi, wahyu sekalipun merupakan dialektika yang dinamis dan terus-menerus antara sang pencari dengan Yang Dicari.

Istilahnya, selalu ada hubungan antara murid dengan murâd. Karena itu, sebuah pilihan tidak bisa diberikan secara ngawur. Sejarah Nabi Musa menunjukkan itu, dan Nabi Yusuf juga begitu. Semua riwayat hidup para nabi adalah rekaman sebuah perjalanan; ada fase-fase yang harus mereka lewati.

Hanya saja, memang kita tidak bisa menganggap semua orang yang mencari pasti akan berjumpa (ilham atau wahyu, Red). Tapi yang pasti, orang yang berjumpa atau menemukan wahyu adalah orang yang mencari.

Bisakah Mas Chodjim menyebut alasan-alasan sosiologis, atau kondisi kebudayaan yang memungkinkan turunnya Alquran kepada nabi kita?

Di abad ketika Rasul asyik berkontemplasi itu, jazirah Arab sedang diwakili oleh kondisi yang sangat buruk dalam tatanan sosial. Kalau kita coba bandingkan antara abad itu di Arab dan di Jawa, maka kita akan mendapatkan bahwa di Jawa pada masa yang sama, Ratu Shima sudah meletakkan hukum-hukum untuk menjamin kemakmuran dan keamanan rakyatnya.

Sementara di zaman jahiliyah ketika itu di Jazirah Arab, setiap orang dapat bertindak sewenang-wenang. Para elite Quraisy masa itu berbuat zalim terhadap orang-orang yang lemah.

Jadi wahyu itu ada kaitannya dengan (adanya) hidup tanpa tatanan sama sekali (sebelumnya, Red). Makanya, bukan hanya satu orang saja yang melakukantahannuts di bulan Ramadan di waktu itu, tapi banyak juga lainnya.

Di antaranya, paman Khadijah isteri nabi, Waraqah bin Naufal. Orang lain seperti Utsman bin Tsa’lab dan lain-lain juga giat mencari tempat untuk refleksi, kontemplasi, meditasi, dan sebagainya.

Artinya, mereka-mereka termasuk orang-orang yang sudah tak nyaman lagi dengan status quo sosial-kebudayaan di masanya. Dalam bahasa kita, mereka adalah orang-orang yang prihatin. Keprihatinan itu lalu dimanfaatkan untuk melakukan perenungan di tempat-tempat yang teduh seperti di gua-gua.

Hanya saja, tidak semua yang prihatin akan mendapat ilham atau wahyu, ya, Mas?

Tentu saja tidak. Makanya tidak boleh dibalik. Analoginya sama dengan “semua orang yang mendapatkan ijasah harus ujian”. Tapi, tidak setiap orang yang ikut ujian akan mendapat ijasah, karena bisa saja di antara mereka ada yang tidak lulus.

Mas Chodjim, apa saja hal-hal penting yang dibicarakan Alquran untuk menanggapi kondisi bangsa Arab ketika itu?

Ketika Alquran baru diturunkan, ayat yang turun pertama-tama tidak banyak. Hanya saja, ayat itu menjadi inti dari aksi dan aktivitas manusia, yaitu falsafahiqra’ (bacalah!). Di situ tidak ditentukan obyek tertentu untuk dibaca. Jadi diharapkan, perintah itu memotivasi untuk membaca hal-hal yang terkait dengan alam ciptaan Tuhan.

Makanya iqra’ bismi Rabbik (bacalah dengan nama Tuhan-mu!) itu sebenarnya terkait dengan asmâ’ Allah yang digelar di semesta raya ini. Itu diperlukan agar manusia dapat hidup dengan cara yang lebih bermartabat.

Artinya, kalau sesuatu itu mampu kita baca dan teliti dengan baik, otomatis kita akan lebih beradab daripada asal melakukan sesuatu tanpa memperhatikan untung-ruginya. Makanya, iqra’ di situberkaitan juga pada akhirnya dengan nalar yang luar biasa tidak terbatas, khususnya ketika dikatakan bahwa “Tuhan telah memberikan qalam, untuk mengetahui apa-apa yang tidak diketahui manusia”.

Karena itu, turunnya Alquran di bulan Ramadan memiliki makna ganda, baik untuk umat manusia maupun bagi manusia perorangan.

Menurut Anda, apa nilai penting Alquran yang mestinya dihidupkan dan dimajukan saat ini?

Sebagaimana tadi dikatakan, hakikat Alquran adalah petunjuk. Yang namanya petunjuk, tentu bukan menyuruh orang untuk membunuh, dan bukan pula sebentuk komando langsung untuk melakukan tindak kejahatan. Di dalam sebuah petunjuk, selalu ada beragam kondisi yang bisa dilakukan dalam standar petunjuk itu tadi.

Sebagaimana yang dikatakan Alquran sendiri, ia adalah “...hudan lin nâs wa bayyinâtin minal hudâ wal furqân.” Jadi, ia adalah petunjuk, sekaligus penjelasan atas petunjuk itu, dan al-furqân atau pembeda.

Yang banyak dilupakan orang, hal paling inti dari Alquran adalah unsur furqân itu. Al-furqân adalah patokan, unsur pembeda supaya orang bisa menilai mana yang salah dan mana yang benar; mana yang palsu dan mana yang nyata. Jadi al-furqân itu harus dipegang.

Dan kalau Alquran digunakan sebagai petunjuk, orang akan tahu kapan ayat-ayat yang memerintahkan pembunuhan atas orang kafir perlu dilaksanakan. Yang diperangi Rasulullah dari orang-orang kafir adalah tindakan semena-mena mereka, bukan kekafirannya itu sendiri.

Kita tahu, selama nabi tinggal di Mekah, ia tidak pernah melakukan perlawanan. Yang ada adalah pertahanan diri semata. Tapi begitu di Madinah, sesudah berusaha menjauh dari lingkungan yang semena-mena tadi, tapi masih juga sering diserbu, dan menghadapi tekanan-tekanan luar biasa, barulah turun surat al-Ahzab.

Di situ antara lain dikatakan, “Diizinkan padamu untuk berperang.” Jadi, perang di situ baru diizinkan. Itu pun jika kita telah diperangi dan diusir dari kampung halaman kita.

Bagaimana dengan pemahaman Alquran sebagai syifâ’(penyembuh) yang oleh sementara orang dimanfaatkan sebagai jimat dan penangkal hantu, misalnya?

Ada banyak penjelasan soal petunjuk dalam Alquran. Di antara petunjuk itu adalah status Alquran sebagai syifâ’ dan rahmah. Pengertian syifâ’ tentu tidak harus dengan menggunakan Alquran sebagai mantera.

Tapi makna yang bisa kita baca: Alquran betul-betul dapat digunakan sebagai obat, baik dalam pengertian spiritual maupun fisikal. Dia bisa menjadi obat spiritual jika kita melakukan kontemplasi dalam membacanya, sehingga kita bisa meningkatkan kualitas kejiwaan kita.

Misalnya, kalau Allah mengatakan lewat Alquran bahwa dunia ini sebenarnya hanya perhiasan yang menipu, atau keadaan yang ilusif semata, maka kalau ungkapan itu masuk ke dalam diri kita, ia akan menjadi obat spiritual karena kita tersadar.

Kita sadar apa artinya mengejar-ngejar dunia kalau toh ia hanya kesenangan yang memperdaya. Karena itu, ia tidak kita kejar, tapi kita sikapi dengan baik dan wajar.

Adapun pengobatan yang berkaitan dengan fisik, Alquran banyak juga memberi petunjuk. Misalnya dikatakan, madu itu mengandung unsur obat. Untuk itu harus diteliti. Yang lainnya adalah rahasia mengapa Alquran memerintahkan untuk menyusui bayi hingga dua tahun. Makanya, sisi lahir ayat itu tidak bisa kita pakai menjadi jimat; kandungannyalah yang bisa melahirkan obat-obatan baik fisikal maupun spiritual.

Ada yang menyebut bahwa salah satu fungsi Alquran adalah usaha Tuhan untuk mempermaklumkan dirinya kepada manusia agar manusia mengenal-Nya. Tanggapan Anda?

Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, di dalam perintah iqra’ tadi, di antaranya tercakup iqra’ atas sifat-sifat Allah. Tapi karena perintah iqra’ itu bersifat nakirah, tidak ada obyek yang dipastikan, maka semua kebenaran yang digelar Allah di jagat raya memang harus dibaca.

Jadi, ketika kita melihat apa yang digelar ini, kita akan tahu bahwa semua itu perwujudan dari ciptaan Tuhan. Sementara itu, ciptaan Tuhan tak lebih merupakan kepanjangan asmâ’ atau nama-nama Allah.

Jadi, kalau kita memahami aspek itu, Alquran memang sekaligus memberi tuntunan, petunjuk buat manusia untuk bisa mengenal Diri-Nya, dan sekaligus karakter atau sifat-sifat mahluk ciptaan-Nya. Untuk apa itu dipertintahkan agar dipahami sungguh-sungguh? Untuk kesejahteraan manusia dan masyarakat itu sendiri.

Tapi Mas Chodjim, apakah tanpa wahyu atau kitab suci, manusia betul-betul tidak akan dapat petunjuk dan akan hidup terlunta-lunta?

Sebenarnya pengertian wahyu atau kitab suci itu sendiri yang harus kita pahami lebih dulu. Sebelum diturunkan nabi-nabi, pengertian kitab suci seperti sekarang ini otomatis tidak ada. Kita tahu, manusia sudah hidup ratusan ribu tahun yang lalu, sementara agama tertua yang kita kenal baru hadir kira-kira 3000 tahun SM, atau setara 5000 tahun lalu. Kalau begitu, sebelum 5000 tahun lalu, belum ada pengertian kitab suci seperti yang kita pahami sekarang ini.

Makanya tadi dikatakan bahwa, Alquran itu sebenarnya ayat-ayat nyata yang berada dalam kesadaran orang-orang yang diberi ilmu. Di situ tidak dikatakan orang-orang berilmu, tapi ûtul `ilm, atau orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah. Dan nikmat itu tentunya tidak akan didapat semua orang. Tapi pada akhirnya, semua orang akan mengenal Tuhan dengan sendirinya.

Makanya, sebelum berbagai kitab suci terbukukan seperti sekarang ini, sudah ada banyak orang yang mengajak untuk hidup secara benar walaupun belum ada pengertian kitab suci seperti sekarang.

Apakah dapat disimpulkan bahwa Alquran atau wahyu itu bersifat komplementer terhadap akal?

Ya, betul. Pertama-tama, akallah yang dianugerahkan pada manusia. Dan di dalam Alquran, kata akal dalam bentuk mashdar (kata benda) tidak ada. Yang ada selalu berbentuk kata kerja (fi`il). Namun demikian, kalau kita jeli meneliti surat al-`Alaq ayat 1 sampai 5, kita akan tahu bahwa di situ ada redaksi“‘allama bil qalam.” Jadi ternyata, Tuhan juga mengajarkan, termasuk memperkenalkan dirinya kepada manusia, pertama-tama dengan al-qalam.

Al-qalam di sini tentu saja tidak semakna dengan alat tulis yang kita kenal sekarang, tapi lebih pada al-qalam (pencatat, Red) yang ada dalam batin tiap manusia. Makanya, di situ Tuhan juga mengatakan, “`allamal insân mâ lam ya`lam,” Jadi, Tuhan juga mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui manusia sebelumnya dengan perantara al-qalam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.