Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Sufisme » Kautsar Azhari Noer: “Agama Adalah Kualitas Personal”
Kautsar Azhari-Noer

Kautsar Azhari Noer: “Agama Adalah Kualitas Personal”

5/5 (1)

Artinya, ajaran-ajaran spiritual yang tak menginduk pada salah satu agama itu, sebetulnya juga mencomot beberapa bagian dari agama yang ada?

Betul. Mereka mencomotnya dari unsur-unsur agama Timur, bahkan sebagian besar. Ini bukan berarti unsur-unsur dari Barat tidak ada sama sekali. Saya melihat, di situ seakan-akan telah ada proses pertukaran peradaban antara Timur dan Barat.

Jadi, orang Barat mengambil aspek spiritual Timur, sebaliknya, orang Timur mengambil unsur sains dan teknologi Barat. Jadi ada proses tukaran-menukar. Makanya, sekarang di Barat banyak sekali guru-guru spiritual, guru meditasi, ataupun yoga.

Tahun lalu, Anda ikut serta dalam Esoteric Education selama beberapa bulan di Skotlandia. Di situ berkumpul orang dari beragam tradisi agama dan kelompok mistik. Apa yang Anda dapatkan?

Perkumpulan itu tak dapat dikatakan ajang berjumpanya orang dari berbagai agama. Program itu memang sangat menekankan aspek esoterik kehidupan yang sudah lepas dari agama atau beyond religion. Jadi, orang yang datang ke sana tidak berafiliasi pada agama, aliran filsafat atau politik apapun. Yang sangat ditekankan adalah aspek esoterik atau esensi hidup, bukan bentuknya lagi.

Tapi, setiap orang punya ritual masing-masing. Karena programnya pendidikan esoterik, aspek teoritis dan praksis, antara pikir dan amal, atau antara kontemplasi dan aksi diseimbangkan. Di sana kita melaksanakan 4 kegiatan, yaitu meditasi, studi, kerja, dan zikir. Unsur spiritual yang paling banyak diambil berasal dari unsur Islam, seperti tasawufnya Ibn Arabi.

Artinya di situ yang ditekankan adalah keragaman jalan menuju Tuhan?

Orang-orang yang ikut memang tidak terikat kepada salah satu agama. Semua peserta diajarkan untuk menekankan aspek esoterik dari suatu ajaran agama. Bahkan, orang yang tidak beragama formal pun tidak apa-apa ikut. Mau Islam, Kristen, Yahudi, bahkan tak beragama pun bisa masuk. Mereka datang dengan satu tujuan, yaitu menuju insan kamil (manusia sempurna, Red).

Yang lebih diutamakan adalah pertanyaan-pertanyaan seperti siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan hendak kemana kita pergi. Jadi yang diulas adalah pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti itu.

Menurur Anda, apakah kelompok-kelompok zikir yang kini marak di tanah air punya nilai tambah untuk peningkatan spiritualitas?

Saya menyambut positif kehadiran mereka. Mungkin, salah satu bedanya dengan New Age Movement yang marak berkemang di Barat adalah kenyataan bahwa mereka masih berafiliasi pada salah satu agama, dalam hal ini Islam. Mereka jelas masih menjalankan syariat Islam. Ini berbeda dengan kelompok New Age yang umumnya tidak lagi berafiliasi pada salah satu agama.

Di samping itu, ajaran-ajarannya juga jelas beda. Kalau yang di luar Islam ada ajaran berbau panteistik, di Islam ada konsep wahdatul wujûd. Sebagian gerakan New Age juga mengamalkan praktik vegetarianisme atau hanya memakan sayur-mayur. Ajaran tentang reinkarnasi jelas tidak ada di kelompok spiritual Aa Gym karena tidak dianut mayoritas umat Islam di Indonesia.

Ada yang menyebut kegandrungan akan spiritualitas itu menunjukkan adanya rasa keterombang-ambingan mental. Kita dianggap manusia perahu, tak punya pendirian, dan hanya ikut trend. Tanggapan Anda?

Tidak bisa juga dikatakan bentuk keterombang-ambingan dan kebodohan. Justru spiritualitas itulah esensi dari semua agama. Kita terkadang hanya menjalankan ritual-ritual formal agama, tapi tetap menipu. Ada yang rajin haji, tapi tingkah lakunya tidak pernah benar. Ini karena sentuhan spiritualnya belum kena, dan hatinya belum nyambung dengan Tuhan.

Karena itu, tidak benar kalau ajaran spiritual itu hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang banyak. Wujud spiritualitas yang benar harus punya dampak positif bagi penanggulangan masalah-masalah sosial.

Saya kira, semua proses spiritualitas selalu merupakan perpaduan antara kontemplasi dan aksi. Makanya, beberapa kelompok spiritual selalu menonjolkan ajaran harmoni atau keselarasan hidup. Konsep harmoni itu bukan hanya tertuju kepada Tuhan semata, tapi juga harmoni pada sesama. Ajaran cinta sangat menonjol dalam pandangan kelompok-kelompok seperti ini. Di dalam fikih dan teologi, orang sangat jarang bicara soal cinta.

Kenapa di tiap zaman selalu ada usaha penyegaran aspek spiritual dari agama. Bukankah tiap-tiap agama sudah merupakan paket yang telah mengandung unsur spiritualitas?

Jawabannya tergantung pada apa defenisi agama. Selama ini, kita menganggap agama itu adalah ajaran-ajaran yang terwahyukan. Padahal, dalam surat al-Kafirun ada ungkapan lakum dînukum wa liyadîn (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Kata dînukum di situ merujuk pada agamanya orang kafir Quraisy. Walau mereka tidak punya nabi dan kitab suci, Tuhan tetap menyebutnya dînatau agama. Karena itu, kata dîn atau agama sebaiknya menunjuk pada kualitas personal seseorang dalam berhubungan dengan Tuhan.

Ada banyak orang yang mengatakan bahwa agama itu dibagi dua; agama wahyu dan agama non-wahyu. Di dalam Alqur’an diterangkan, setiap umat itu pasti punya rasul. Karena itu, kita tidak bisa menuduh agama lain bukan agama wahyu.

Orang Hindu akan marah-marah ketika agama mereka dikatakan bukan agama wahyu. Masak rasul yang mendapat wahyu hanya ada di Timur Tengah; tidak muncul di belahan bumi lain? Ini bertentangan dengan ayat Alqur’an sendiri.

Di sini saya teringat pada William C. Smith yang mengkritik perubahan makna religi yang sering kita terjemahkan sama dengan agama. Dia mengatakan, dulu kata religi itu menunjuk pada kualitas pribadi, bukan istitusi dan sistem.

Kalau dimaknai sebagai kualitas pribadi, mestinya agama juga akan jadi milik semua orang. Kalau yang dimaksud dengan agama adalah kualitas pribadi seseorang, agama saya dengan agama Anda sudah pasti akan berbeda. Tapi kalau yang dimaksud adalah sistem, itu sudah merujuk pada hal yang mapan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.