Home » Kajian » Sufisme » Lailatul Qadar
bulan

Lailatul Qadar

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Sang waktu terus bergulir, tak terasa, bulan Ramadhan telah memasuki periode pamungkas. Stadium rahmah dan maghfirah dari bulan ke 9 dari penanggalan lunar ini telah beringsut menuju stadium itqun min al-nar (bebas dari api neraka). Ironisnya, psikologi dan daya fisik umat untuk menambah perbendaharaan ibadah justru menurun drastis pada fase-fase akhir bulan Ramadhan.

Terlalu memforsir tenaga pada awal bulan? Bisa jadi! Tapi, pada umumnya, kita dapat mengamatinya dari jumlah peserta terawih yang melorot atau mulai bergesernya wacana Ramadhan ke arah perayaan Idul Fitri yang cenderung bernuansa “festival.”

Idul Fitri sebagai gong penutup puasa sebulan penuh lamanya, dalam tradisi kita, telah sarat dengan makna festival. Dus, Idul Fitri tidak lagi berkonotasi ritual, tapi juga berimplikasi kultural karena bersentuhan dengan muatan lokal. Kita tahu, aspek festival atau perayaan Idul Fitri tersebut biasanya dimarakkan dengan pakaian baru, (cat) rumah baru, makanan, nyadran atau bahkan mercon.

Tema-tema itulah yang mengharu biru wacana akhir bulan Ramadhan. Budaya komsumtif pun berkembang marak seiring dengan prosesi Idul Fitri. Hari raya yang awalnya bermakna “pembaruan kejatidirian” manusia pasca penggodokan di kawah candradimuka Ramadhan, bergeser artinya semata-mata “baru” dalam pengertian fisik dan material.

Seharusnya, baju baru, celana baru, sepatu baru atau rumah baru menjadi sarana tajarrud —untuk meminjam istilah kaum sufi—, suatu metode untuk membebaskan diri dari hal-hal yang bersifat material menuju ke alam spiritual justru dengan perantara yang sangat material.

Pada titik krusial itulah, Allah mengirim “bonus istimewa” bagi orang-orang yang giat berpuasa dan bermunajat kepada-Nya. Kita tahu, konstruksi puasa pada bulan suci ini adalah pengejawantahan artikulasi kesalehan dalam Islam yang bercabang dua.

Pertama, puasa mengandung kesalehan individual yang mewajibkan pelaku puasa untuk melakukan sikap empati terhadap derita kaum papa, yakni dengan menahan nafsu makan dan minum serta seks dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya sang surya.

Inilah artikulasi sikap pasif terhadap sesama. Sementara, kedua, artikulasi sikap aktif orang berpuasa mewujud dalam bentuk sedekah wajib (zakat mal maupun fitrah) maupun sunnah yang diseyogyakan mengisi hari-hari bulan Ramadhan.

Walhal, penghambur-hamburan uang untuk merayakan Idul Fitri bukan saja tidak sensitif terhadap kaum dhuafa, tapi juga melupakan esensi puasa sebagai media tajarrud tadi. Tampaknya, Tuhan bukan tanpa sengaja mengirim bonus istimewa, yakni malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Pada saat ini pula, paket pembebasan dosa masa lalu diberikan dengan pemberian diskon itqun min al-nar. Dalih Dia memilih hari-hari terakhir Ramadhan untuk menstimulasi gairah beribadah setelah terdapat indikasi melunturnya nyali beribadah umat.

Tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar, malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan (Qs. 97: 1-5). Rasul juga mencatat keutamaan malam yang ditahbiskan langsung dalam al-Quran itu.

Bagaimana memastikan waktunya? “Carilah dia (lailatul qadar)”, demikian Nabi pernah bersabda, “di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil”. (HR. Bukhari Muslim). Pada suatu riwayat, dikatakan bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ke 27 Ramadhan. Tapi, pada umumnya, para ulama berselisih pendapat tentang hari H lailatul qadar.

Seperti halnya momen sakral lainnya, lailatul qadar juga diliputi kepercayaan bahwa kalau terjadi lailatul qadar maka air akan membeku, cahaya akan redup, suasana akan hening, pohon akan merunduk, udara yang tidak panas dan juga tidak dingin, angin berhenti berhembus, air yang tadinya mengalir langsung berhenti, dan sebagainya.

Bisa jadi kepercayaan mistikal tersebut merupakan hiperbola dari pernyataan Rasulullah saw yang menjelaskan tanda-tanda lailatul qadar bahwa pada pagi harinya matahari terbit dengan sinar putih bersih tanpa awan sedikitpun.

Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan malam itu turun, diharapkan justru makin memotivasi kita untuk meraihnya tidak sekadar pada sepuluh hari terakhir tapi sebulan penuh lamanya kita gunakan untuk berbakti kepada Tuhan.

Secara etimologis, lailatul qadar berarti malam ukuran. Tetapi, kata lailatul qadar biasa diterjemahkan oleh para ulama dengan sebutan “malam yang agung” atau “malam yang mulia”. Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

Pertama, penetapan dan pengaturan, sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Dalam arti ini, al-Quran dipahami turun pada malam ini, dan karenanya, Tuhan mengatur dan menetapkan khittah manusia.

Kedua, bermakna kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat al-An’am (6): 91.

Dan ketiga berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat al-Qadr. Kata qadar yang berarti sempit digunakan al-Quran antara 1ain dalam surat al-Ra’d (13): 26)

Uniknya, dalam surat al-Qadr, Allah mengajukan “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (Qs. Al-Qadr 97: 2). Tuhan memakai bentuk pertanyaan ini sebanyak tiga belas kali.

Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, entah itu yaum al-fashl dan sebagainya. Objek pertanyaan yang dipakai di sini menunjuk hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.

Namun tiga pertanyaan sisanya adalah: Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Qs. Al-Thariq [86]: 2) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Qs. Al-Balad [90]: 12) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (Qs. Al-Qadr [97]: 2).

Khusus pada tiga pertanyaan terakhir ini, meskipun sulit, tapi Tuhan masih memberikan kemungkinan bagi umatnya yang saleh untuk meraih keutamaannya. Dengan demikian, meraih lailatul qadar bukanlah sesuatu yang mustahil karena ia tak menunjuk kepada peristiwa masa depan yang unpredictable kiamat, misalnya.

Lailatul Qadar juga tak menunjuk pada even masa lalu yang hanya terjadi sekali pada masa Rasul menerima wahyu ilahi. Ia akan menyertai umat manusia yang haus pencerahan rohani di hari-hari akhir bulan suci.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.