Home » Kajian » Sufisme » Memikirkan Kembali Sikap Keberagamaan Kita
solitude

Memikirkan Kembali Sikap Keberagamaan Kita Renungan Iedul Fitri 1422 H

5/5 (1)

Pada pagi 1 Syawal 1422 H ini, sekitar satu miliar muslim di seluruh dunia berkumpul di mesjid-mesjid dan di tempat-tempat lapang, untuk menyambut hari yang amat penting dalam salah satu episode kehidupan mereka. Hari raya Iedul Fitri, bagi umat Islam, bukan hanya sekadar hari bersenang-senang dan merayakan kegembiraan, tapi hari itu juga merupakan tanda bagi lembar kehidupan mereka yang baru.

Hari raya Iedul Fitri bukan hanya momen untuk kita berpakaian baru dan merasakan keakraban baru. Tapi, lebih dari itu, hari raya Iedul Fitri adalah momen untuk kita melihat kembali sejarah hidup kita selama satu tahun ke belakang.

Hari raya Iedul Fitri adalah sebuah buku harian yang melaluinya kita membuka catatan-catatan masa lalu kita, untuk kita baca, kita renungkan, dan kita ambil hikmahnya. Iedul Fitri adalah tonggak bagi kita semua untuk me-review atau melihat kembali segala perbuatan dan aktivitas kita di masa silam, untuk kemudian memulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih membahagiakan di masa depan.

Perilaku Menjengkelkan. Salah satu review yang akan kita lakukan pada hari yang mulia ini adalah menyangkut sikap dan cara keberagamaan kita selama ini yang berimplikasi pada kehidupan sosial kita, pada pergaulan kita sehari-hari, dan bahkan pada kondisi sosial, ekonomi dan politik negara kita.

Mungkin ada di antara saudara-saudara yang bertanya, bagaimana mungkin sikap keberagamaan seseorang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi-politik sebuah negara? Bukankah cara beragama itu urusan privat (individu) sedangkan persoalan ekonomi-politik adalah urusan publik (masyarakat luas)?

Perilaku keberagamaan pada dasarnya adalah urusan individual, karena menyangkut hubungan antara seseorang dengan Tuhannya. Tapi, ketika perilaku keberagamaan ini telah disusupi dengan kepentingan-kepentingan tertentu dan dimaknai dengan tafsir-tafsir tertentu, maka urusannya bukan lagi menjadi urusan privat, urusan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi telah menjadi urusan publik, urusan yang berimplikasi pada tatanan sosial yang luas.

Saya ingin memberi satu contoh kecil saja dari perilaku keagamaan yang meskipun tampak sepele tapi mempunyai dampak ekonomi politik yang cukup besar. Beberapa waktu lalu, ketika isu rencana aksi serangan Amerika Serikat ke Afghanistan merebak, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai pembela Islam berencana melakukan sweeping (pembersihan) terhadap warga asing.

Orang-orang ini meyakini betul bahwa perbuatan mereka didukung oleh ajaran Islam. Mereka menyitir dan mengeksploitasi dalil-dalil agama (Alquran dan Hadis) untuk membenarkan rencana kekerasan yang akan mereka lakukan.

Kendati tindakan sweeping itu tak sempat terjadi, tapi sikap semacam itu sangat fatal akibatnya, bukan hanya bagi citra Islam yang tercemar akibat diidentikkan dengan kekerasan, tapi juga bagi kondisi ekonomi-politik negeri kita.

Kita tahu, setelah ancaman itu, pemerintah AS tak lama kemudian melarang warganya mengunjungi Indonesia dan melarang para investornya menanamkan modalnya di negeri ini. Akibatnya, bukan hanya investor Amerika saja yang takut untuk menanam modalnya di sini, tapi juga para investor dan turis asing lainnya, takut berkunjung ke negeri ini.

Bagi yang tidak mengerti persoalan ekonomi dengan baik, peristiwa semacam itu mungkin tak terlalu berarti. Tapi bagi para ahli ekonomi yang bergelut dan berusaha mengatasi krisis berkepanjangan negeri ini, “sikap keberagamaan” semacam itu pastilah sangat menjengkelkan.

Apalagi Indonesia saat ini sangat memerlukan bantuan luar negeri untuk menopang kehidupan ekonominya yang sudah bangkrut. Ini hanyalah contoh kecil saja dari sikap-sikap keberagamaan umat Islam yang tampaknya sepele tapi memiliki implikasi yang sangat besar bagi kehidupan sosial-politik kita.

Penafsiran Harfiah. Sikap-sikap keberagamaan yang keliru muncul dari penafsiran dan pemahaman terhadap agama yang keliru. Kita selalu menganggap bahwa Islam adalah agama perdamaian, agama yang menebarkan kasih-sayang bagi siapa saja, agama yang memiliki Tuhan dengan sifat rahman dan rahim, tapi sayangnya, pada saat yang sama, kita menampakkan wajah Islam yang angker, yang keras, yang berdarah-darah, seolah kita ingin membenarkan tuduhan media Barat selama ini bahwa Islam identik dengan terorisme, bahwa Islam identik dengan kekerasan.

Gejala kekerasan yang mengatasnamakan agama tak hanya berlaku pada sikap-sikap anti-Amerika pasca peristiwa 11 September. Beberapa kasus pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di Jakarta maupun daerah lainnya, patut disayangkan, juga mengatasnamakan Islam.

Semangat puritanisme agama yang cenderung merusak tatanan hidup, seperti perusakan terhadap kepentingan umum, jalan-jalan, dan gedung pendidikan, merupakan cerminan keputusasaan dan kehancuran moralitas umat beragama.

Perbuatan itu, selain bertentangan dengan aturan dan undang-undang yang berlaku di negeri ini, juga bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang paling fundamental. Ketika Nabi Muhammad s.a.w ditanya para sahabatnya tentang siapakah orang yang disebut muslim, Nabi menjawab:

Orang muslim adalah orang yang dapat memberikan keselamatan kepada orang lain baik dari tangan maupun lidahnya. Orang mukmin adalah orang yang dapat menjaga harta dan jiwa orang lain. (HR. Ahmad).

Janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika orang lain terancam dengan keberadaan Anda, dan janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika Anda masih merusak jalan, pohon, rumah ibadah, gedung sekolah, dan kepentingan-kepentingan umum lainnya.

Kita selalu dianjurkan untuk memahami agama dengan benar. Kita diperintahkan agar jangan mengikuti seseorang tanpa kita mengetahui secara pasti kapabilitas dan integritas keilmuannya. Seorang muslim sejati bukanlah diukur dari pakaian yang dikenakannya, atau dengan sorban dan ikat kepalanya. Islam tak berurusan dengan pakaian, Islam tak berurusan dengan jenggot, dengan sorban, dan dengan aksesori-aksesori kesalihan yang dimaksudkan agar para pemakainya dihormati atau disegani.

Kebodohan dan kekeliruan sering bersembunyi di balik busana. Ketakwaan dan kesalihan sering disalahpahami dengan mengaitkannya dengan pakaian. Seseorang akan dianggap salih kalau dia memakai “baju tertentu” yang dibelinya dari toko busana muslim.

Karena salah persepsi ini, para artis dan selebritis berbondong-bondong mengenakan jilbab atau busana muslim agar dianggap lebih islami dan lebih salih. Kesalihan dan ketakwaan dipahami benar-benar secara literal dan formal. Orang yang tidak mengenakan pakaian khusus dianggap kurang Islami atau kurang pintar ilmu agamanya, padahal kesalihan dan kepintaran tak ada sangkut-pautnya dengan pakaian.

Praktik beragama dan pemahaman keagamaan yang literal atau harfiah semacam itu, sangat berbahaya jika terus didiamkan. Pada tingkat pakaian, malapetaka itu mungkin belum terlihat, tapi pada tingkat yang lebih jauh, pemahaman-pemahaman literal dapat menjerumuskan sebuah bangsa kepada kekacauan dan kebangkrutan.

Saya ingin mengambil Afghanistan sebagai contoh sebuah negara yang bangkrut akibat pemahaman Islam yang literal-formalistik. Penguasa Taliban yang memaksakan kehendak mereka untuk menerapkan Islam Literal terbukti tak cukup kuat untuk bertahan lebih lama lagi, karena diprotes dan dikecam oleh masyarakatnya sendiri maupun oleh dunia internasional. Terlepas dari tindakan brutal Amerika Serikat yang membombardir kekuatan mereka, Islam Taliban adalah sebuah jenis Islam Literal yang berbahaya jika diterapkan.

Kita bisa menyaksikan bagaimana Talibanisme melakukan represi dan kekerasan kepada warganya sendiri yang nota bene kaum muslim juga. Dengan mengatasnamakan Islam, mereka mengharamkan hampir semua aspek kehidupan, dari TV, radio, musik, lipstik, kamera, gambar, patung, dan karya seni lainnya. Islam yang mereka pahami dan praktikkan adalah Islam yang lusuh, terbelakang, dan penuh dengan aroma darah dan kekerasan.

Mereka melarang kaum wanita bekerja dan keluar rumah, mereka memaksa para wanita mengenakan burqa atau busana penutup seluruh tubuh. Kaum pria dipaksa memelihara jenggot, dan jika didapati tak berjenggot, mereka akan ditangkap dan dipenjarakan.

Pluralitas dan Keragaman. Mungkin Talibanisme adalah bentuk paling ekstrem dari pemahaman dan penerapan Islam secara literal. Kita tentu tak ingin praktik-praktik semacam itu berkeliaran di sini, di negeri ini.

Karenanya, merupakan tugas kita sebagai kaum muslim terpelajar untuk selalu mengingatkan teman-teman dan masyarakat kita akan bahaya pemahaman Islam secara literal. Pemahaman Islam secara literal bukan hanya dapat menghancurkan citra Islam, tapi juga dapat membuat bangkrut sebuah sistem kehidupan sosial.

Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan ajarannya dengan baik dan penuh kebijakan. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah al-Nahl ayat 125. Menyampaikan Islam dengan cara-cara kekerasan bukanlah bagian dari Islam.

Mengajak orang kepada kebaikan dengan cara mengancam atau merusak hak-miliknya bukanlah perbuatan Islami. Membela Islam dengan cara meneror dan merusak kepentingan umum bukanlah anjuran Islam, meskipun orang-orang yang mengajak itu “berbusana muslim,” mengenakan serban, dan mengklaim sebagai tokoh Islam.

Islam menganjurkan kita agar menyuruh manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemunkaran (amar makruf nahi munkar). Tapi kita tidak boleh menghapuskan kemunkaran dengan kemunkaran lain. Memperingatkan orang dengan cara merusak adalah kemunkaran. Mengajak orang secara paksa dan dengan kekerasan adalah bentuk lain dari kemunkaran.

Jika kita ingin membuat orang simpati kepada kita, maka hadirkanlah Islam yang menarik; Islam yang penuh mau’idzah dan hasanah. Sudah saatnya kita memahami kembali konsep-konsep agama yang selama ini merugikan kita dengan pemahaman baru yang lebih sesuai dengan semangat dasar Islam.

Kita tak mungkin menolak pluralitas atau keragaman, karena semangat dasar Islam adalah plural, seperti dinyatakan Allah dalam surah al-Hujarat ayat 13. Kita juga tak boleh menganggap diri kita paling benar, dan menganggap kita satu-satunya sebagai umat yang berhak masuk surga, sementara orang dari agama lain tak layak masuk surga. Ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang ada di dalam Alquran (al-Maidah: 65).

Ajaran-ajaran dasar Islam tentang pluralitas dan keragaman seperti yang dinyatakan dalam Alquran itu sangat penting untuk kita angkat kembali, khususnya di tengah kondisi sosial kita sekarang ini yang terancam konflik dan perpecahan. Jika kita meyakini bahwa Alquran adalah sumber Islam paling utama, marilah kita kembali kepada Alquran, bukan kepada ajakan dan slogan orang-orang yang mengatasnamakan Islam tapi sesungguhnya tak mengerti Islam.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir jernih, berpikir dengan akal sehat yang tidak dikuasai oleh emosi dan obsesi berlebihan. Marilah kita kembali kepada semangat dasar Islam yang damai, adil, dan toleran. Marilah kita memahami Islam secara subtansial dan bukan secara literal. Marilah kita mementingkan isi dan bukan kulit, muatan dan bukan bentuk, makna dan bukan simbol.

Hari raya ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk memposisikan diri kita masing-masing, apakah kita seorang muslim yang dewasa, yang matang, yang tidak terpengaruh oleh isu-isu politik murahan. Marilah kita jadikan hari raya ini sebagai tonggak kehidupan kita di masa depan yang lebih jujur, adil, dan terhormat.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.