Home » Kajian » Sufisme » Moeslim Abdurrahman: “Kita Terjebak Kehidupan Konsumtif”
Moeslim Abdurrahman (Foto: alphaamirrachman.blogspot.com)
Moeslim Abdurrahman (Foto: alphaamirrachman.blogspot.com)

Moeslim Abdurrahman: “Kita Terjebak Kehidupan Konsumtif”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Antropologi sosial lebaran di Indonesia sejatinya telah bergeser dari tradisi asli yang berkembang pada masa Nabi Muhammad Saw. Lebaran bukan semata-mata perihal ortodoksi, tapi menjadi produk budaya yang bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

Asalkan tidak mengebiri makna intrinsik lebaran dan ibadah puasa, kontruksi budaya yang begitu kental dalam perayaan lebaran sebenarnya tidak menjadi soal. Berikut petikan wawancara Burhanuddin dengan Dr. Moeslim Abdurrahman, Pengurus Pusat Muhammadiyah dan cendekiawan muslim asal Lamongan pada 9 November 2004:

 

Pak Moeslim, bisakah Anda gambarkan suasana Idul Fitri pada masa Nabi Muhammad, atau apa yang dilakukan orang Arab pada umumnya, dengan Idul Fitri di sini?

Jelas berbeda. Di situlah kelebihan Islam. Meski Islam dikatakan agama yang berasal dari satu sumber, baik dari ajaran maupun referensi kulturalnya, tetapi setelah Islam berkembang ke berbagai kelompok dan kultur masyarakat yang berbeda, maka dengan sendirinya menjadi produk kebudayaan. Dan Idul Fitri ini merupakan bagian kreativitas yang muncul di mana-mana. Jadi ekspresi Islam beraneka ragam.

Di kalangan Jawa dan Melayu, Idul Fitri atau lebaran hampir merupakan satu puncak kebudayaan Islam yang paling mencolok, karena bisa dirayakan oleh siapa saja. Tidak hanya orang Islam, tapi juga non-Islam. Misalnya di Yogjakarta, pada waktu lebaran kalangan non-muslim juga ikut membuat ketupat dan saling mengirim ketupat.

Nah, inilah enaknya kalau Islam juga dianggap sebagai produk budaya, sehingga bisa di-share oleh siapa saja. Tradisi itu lebih terikat dalam komunintas masyarakat yang merayakan tradisi itu sendiri dibanding kita berbicara tentang ortodoksi misalnya.

Hal itu adalah keniscayaan. Ketika Islam menyebar ke banyak pelosok, Islam tidak bisa kita paksakan sama dengan produk aslinya di Arab?

Saya kira, tidak hanya Islam, tapi semua agama. Hampir perkembangan semua agama sebagai produk kultural mengalami fase itu.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa Idul Fitri itu bukan disimbolkan baju yang baru, tapi hati yang baru. Tapi masyarakat kita pada umumnya masih melihat simbolisme baju baru atau sarung baru.

Itu juga yang sering dikutip oleh para ustadz, untuk mengingatkan bahwa janganlah berpuasa hanya dapat lapar, karena sejatinya puasa juga harus merupakan suatu refleksi untuk meneguhkan kita terhadap persoalan kesenjangan sosial. Persoalan ini adalah ancaman kemanusiaan.

Karena itu, ada problem besar tatkala ritual-ritual semacam ini menjadi tradisi dan dirayakan dengan semarak, tetapi itu telah mengelabui makna aslinya. Harus ditinjau secara serius, mengapa banyak ritual kita menjadi semarak, tapi kehilangan maknanya.

Meminjam istilah Ogburn, terjadi malintegration atau diskrepansi antara pembangunan fisikal dan non-fisik, seperti etika, akhlak, atau nilai. Secara fisik, kita lihat rumah ibadah makin marak, orang yang naik haji semakin besar, tetapi korupsi juga semakin besar. Menurut Anda?

Ya, itu yang seharusnya menjadi tantangan agama-agama sekarang. Tantangan untuk memberikan makna agama. Agama sebagai sebuah kesadaran, bukan agama semata-mata sebuah ritual yang ekspresif itu, sebagai suatu seremonial, sebagai upacara keagamaan, tanpa makna-makna yang mendalam.

Misalnya puasa, setelah berpuasa satu bulan, kemudian mengeluarkan zakat fitrah. Secara fiqh, sudah terpenuhi. Sementara makna-makna yang lebih ideologis, seperti komitmen sosial kita pada kemanusiaan belum muncul. Diperlukan human reflection.

Anehnya, laju inflasi naik berkali-kali lipat ketimbang selain bulan puasa. Ternyata puasa diikuti oleh peningkatan konsumsi, sehingga laju inflasi naik, karena persediaan makin berkurang, dan otomatis harga semakin naik. Apakah itu makna puasa?

Tidak hanya soal puasa. Kita sedang terjebak dalam kehidupan yang semakin konsumtif, akibat dari berkembangnya consumer culture. Memang pada bulan puasa tingkat konsumsi menjadi lebih tinggi dibanding lain. Yang sehari-hari makan tidak pakai kolak dan es buah, khusus pada bulan puasa, kita tak pernah absen akan dua makanan itu.

Apalagi kalau Anda konfrontasi dengan orang-orang yang puasanya permanen. Dalam arti memang tidak ada yang bisa dimakan. Sementara kita sedang menjalankan ritual lapar, tapi malah rakus mengonsumsi ini-itu. Memang paradoks.

Sebenarnya saya ingin ada suatu evaluasi lebih kritis pada ritual-ritual seperti ini, sehingga ritual lapar (puasa) ditujukan untuk meneguhkan komitmen kita terhadap ketimpangan sosial.

Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer.

Lebaran telah menjadi ritual tahunan, ada kirim-mengirim parcel, ketupat, bikin opor, silaturrahim dan seterusnya. Apa yang menarik dari praktik budaya lebaran yang kita saksikan tiap tahun ini?

Orang merayakan lebaran dengan mengirim ketupat misalnya, sebenarnya lebih mencerminkan kerukunan, saling memperhatikan dan ungkapan-ungkapan yang meneguhkan toleransi. Tapi, budaya parcel, sudah tentu merupakan suatu bagian dari consumer culture. Memang parcel ini sebenarnya kupat modern.

Maksud saya, tradisi itu berkaitan dengan gaya hidup konsumeristik. Kalau Anda lihat acara-acara Ramadhan di televisi, ada ustadz yang hanya muncul pada bulan Ramadhan saja. Semua paket itu didominasi oleh mereka yang biasa di dunia entertainment, pelawak lebih laku ketimbang mereka yang alim membaca kitab dsb.

Ustadz juga biasanya datang belakangan untuk meredam situasi “chaos” dalam sandiwara yang dilakukan para entertainer itu. Tapi justru itu yang disukai masyarakat kita.

Soal parcel sebagai kupat modern bisa ditafsirkan tergantung siapa yang melihatnya. Bagi pedagang parcel, penting untuk silaturrahmi lebaran, tapi KPK melihatnya sebagai ajang terselubung bagi korupsi. Bagaimana menurut Anda?

Saya kira, kalau parcel dilihat sebagai bagian dari upaya untuk menyogok itu terlalu berlebihan. Tapi bahwa ada parcel yang terlalu mahal, juga melebihi makna silaturahmi tadi. Apalagi kalau diberikan pada pejabat sebenarnya juga tidak terlalu membutuhkan parcel.

Tidak ada salahnya parcel selama itu merupakan ekspresi meneruskan transisi di pedesaan. Masak di kota kita kirim ketupat. Akhirnya kita bikin ketupat plastik sebagai salah satu ornamen parcel.

Tapi yang saya persoalkan secara mendasar, yaitu makna-makna ritual kita. Sejauh mana di luar ekspresi antropologis, setiap ritual itu tetap mempunyai komitmen peneguhan terhadap makna-makna yang lebih ideologis. Sejauh mana komitmen kita terhadap mereka yang lapar secara permanen atau mereka yang dilaparkan secara struktural.

Hampir semua paket acara ramadhan di televisi didominasi dengan hikmah puasa yang lebih spiritualistik, yang ritualistik, dibanding dengan soal transformasi sosial, kepekaan kita terhadap masyarakat bawah, ketimpangan sosial yang menjadi ancaman kemanusiaan yang serius dan seterusnya.

Bahkan kadang terlalu jlimet soal fiqh-nya; apa yang membatalkan puasa, niatnya puasa, dan sebagainya. Juga terlalu bertaburan dengan hadiah untuk sebuah kuis yang terlalu membodohi umat.

Kalau kita lihat fenomena lebaran yang khas Indonesia, yaitu mudik, apakah lebaran dianggap kurang sempurna oleh masyarakat kota jika tidak dilakukan di kampung halaman mereka?

Itu bagian dari dampak urbanisasi. Masyarakat urban kembali ke habitat tradisinya yang asli. Mereka mencari kerja di tempat yang jauh, dan ketika lebaran mereka ingin mengutuhkan kembali dirinya sebagai bagian dari komunitas keluarga di desanya. Jika tetap berada di kota, dia tidak punya ikatan famili yang lebih efektif, lebih merindukan, lebih memuaskan secara kultural.

Selain itu, ada keinginan untuk menunjukkan bahwa dia berhasil di tanah orang. Ukuran berhasil itu simpel, ditunjukkan dengan memotong ayam atau berpakaian agak mewah, pakai celana jeans, atau memakai pakaian koko untuk menunjukkan Islamnya lebih modern.

Jadi mudik bagaikan rehat bagi masyarakat kota dari kejenuhan kehidupan di kota?

Ya, sekaligus untuk menemukan kembali kesyahduan berkumpul dengan keluarga. Itu hal yang biasa dalam pengertian, di Amerika juga ada hari raya di mana orang memerlukan pulang ke kampung halaman.

Saya kira, mudik ini fenomena universal. Khusus di indonesia, mudik menemukan momentumnya pada waktu lebaran untuk menunjukkan reintegrasi atau kembali dengan budaya yang sudah tercerabut.

Bagaimana Anda melihat nilai-nilai sosial yang terkandung dalam lebaran seperti silaturrahmi ke sanak, kerabat dan kolega?

Hal itu adalah mekanisme kultural yang bisa melupakan secara temporer adanya perbedaan-perbedaan kelas di tengah masyarakat. Atau perbedaan dalam mengekspresikan Islam; abangan, fundamentalis, moderat dsb. Tapi pada hari itu, semua perbedaan itu seolah dilupakan dan mereka melakukan integrasi yang luar biasa.

Hanya saja, tidak seluruhnya bisa diluruhkan; dalam merayakan lebaran itu kadang masih mencolok ekspresi mereka yang surplus ekonominya yang baik dengan yang kurang baik. Ada yang mobilnya bagus banget, ada yang kredit motornya belum lunas. Tapi sekurang-kurangnya ini merupakan suatu ekspresi bahwa kita bisa merayakan Idul Fitri secara rukun, apapun perbedaan kelas di antara kita.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.