Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Sufisme » Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

Relevansi Tasawuf Al-Ghazali

5/5 (2)

Karya-karya Imam Ghazali menyebar di seluruh dunia Islam terutama Islam Sunni. Tak hanya di kawasan Timur Tengah seperti di Mesir, Maroko, melainkan juga di Asia tenggara. Secara agak berlebihan, ada yang berkata bahwa di kalangan Islam, Imam Ghazali adalah orang kedua setelah Rasulullah yang ajaran-ajarannya berpengaruh cukup luas.

Fazlur Rahman berkata bahwa pengaruh Imam Ghazali tak terkirakan. Baginya, Imam Ghazali tak hanya membangun kembali Islam ortodoks dengan menjadikan tasawuf sebagai bagian integralnya, melainkan juga ia merupakan pembaharu besar tasawuf yang berhasil membersihkannya dari anasir yang tak islami. Melalui pengaruhnya, tasawuf mendapatkan pengakuan melalui konsensus umat Islam.

Bahkan, ada yang berkata bahwa popularitas Imam Ghazali tak hanya berlangsung dalam umat Islam melainkan juga hingga non-Muslim. Noktah-noktak pemikiran Imam Ghazali misalnya menjelma dalam karya-karya filosof Yahudi bernama Musa ibn Maymun (Moses the Maimonedes). Menarik, Maimonedes menulis buku dalam bahasa Arab dengan judul yang sama dengan buku karya Imam Ghazali, yaitu al-Munqidz min al-Dhalal.

Tak hanya dalam Yahudi, pemikiran Imam Ghazali merembes pada para pemikir Kristen abad pertengahan seperti Bonaventura. Bahkan, mistisisme Imam Ghazali ikut mempengaruhi mistisisme Kristen Katolik Ordo Fransiscan, sebuah ordo yang karena menyerap ilmu-ilmu keislaman memiliki orientasi yang lebih ilmiah dibanding ordo-ordo lain seperti terungkap dalam novel Umberto Eco yang berjudul The Name of the Rose.

Namun, di antara berpuluh bahkan ratusan karya Imam Ghazali tampaknya Ihya Ulum al-Din yang memiliki pengaruh cukup kuat di dunia Islam.  Kitab ini seperti ensiklopedi yang merangkum isu-isu pokok di dalam ilmu tasawuf yang diramu dengan syariat dan fikih Islam.

Terdiri dari empat jilid dengan empat pokok bahasan, yaitu tentang ibadat (rub’u al-ibadat) seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain; tentang adat-muamalah (rub’u al-‘adat) membahas soal nikah, mencari nafkah, etika persahabatan, dan lain-lain; tentang hal-hal yang membawa petaka bagi manusia (rub’u al-muhlikat) seperti bahaya lisan, bahaya iri-dengki, cinta dunia-kedudukan; tentang hal-hal yang menyelamatkan manusia (rub’u al-munjiat) seperti taubat, sabar, syukur, tauhid, tawakkal, mahabbah, ridha, dan sebagainya. Masing-masing dirinci dalam sepuluh kitab dengan puluhan bab dan bayan untuk setiap kitabnya.

Dalam kitab Ihya Ulum al-Din, menurut Badawi Thabanah, Imam Ghazali membahas tentang ilmu fikih, psikologi, filsafat, sosiologi, dan tasawuf. Namun, ia memiliki cara, teknik dan perspektif tersendiri dalam membahas ilmu-ilmu tersebut. Ilmu fikih misalnya. Jika mayoritas ahli fikih membahas shalat dari aspek legal-formalnya (syarat-rukunnya), maka Imam Ghazali melihatnya dari sudut spiritualnya (asrar al-shalat).

Demikian komplitnya pembahasan Imam Ghazali dalam kitab ini hingga Ibn al-Najjar berkata bahwa apa yang ditulis Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin merupakan ilham dari Allah atau buah dari marifat yang dianugerahkan Allah kepada yang bersangkutan selama menjalani kehidupan sufi (anna ma hadatsa bihi al-Ghazali fi Baghdad min kitab Ihya Ulum al-Din kana ilhaman aw kana tsamratan min tsamaratin al-ma’rifah allati afadhaha Allah ‘alaihi fi marhalah nusukihi wa tashawwufihi). Apa yang dikemukakan Ibn al-Najjar tersebut sebagai bukti kekaguman yang bersangkutan terhadap karya agung Imam Ghazali ini.

Demikian banyak karya sufistik al-Ghazali, maka sebagaimana tampak dalam judul–tulisan ini akan merujuk pada kitab Ihya Ulum al-Din. Kitab ini akan diungkap secara deskriptif menyakut isi dan kandungannya lalu dianalisasis secukupnya. Karena kitab ini memiliki spektutrum dan kandungan yang luas, maka artikel ini akan fokus membahas tentang pokok-pokok ajaran tasawuf Imam Ghazali dalam kitab tersebut. Dari sini bisa diketahui tentang corak pemikiran tasawufnya.

Namun, sebelum masuk pada pokok soal tersebut, akan dikemukakan terlebih dahulu tentang biografi sosial intelektual Imam Ghazali termasuk siapa saja guru-guru yang telah mempengaruhinya terutama dalam ilmu tasawuf. Biografi sosial-intelektual ini penting dikemukakan untuk mengetahui konteks sosial-intelektual dari noktah pemikiran tasawuf Imam Ghazali sehingga kita tahu mengapa pada ujung hidupnya ia lebih memilih sebagai seorang sufi.

Tak bisa dimungkiri, keunggulan sebuah karya intelektual bisa dilihat dari kemampuannya mengadaptasikan diri dengan lingkup masyarakat dunia yang plural. Dari itu, di ujung artikel ini juga akan diungkap relevansi dan signifikansi doktrin-doktrin spiritual Imam al-Ghazali terutama dalam konteks masyarakat modern yang kerap merasa teralienasi dan mengalami disorientasi. Seberapa jauh doktrin-doktrin tasawuf al-Ghazali memiliki makna baik secara intelektual maupun secara moral dalam masyarakat kontemporer.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.