Home » Highlight » Rites De Passage Haji dan Kurban
A Muslim pilgrim prays on Mount Mercy on the plains of Arafat outside the holy city of Mecca

Rites De Passage Haji dan Kurban

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Haji adalah suatu perjalanan suci (mujahadah) yang dipenuhi ritus-ritus keagamaan yang oleh Arnold van Gennep disebut rites de passage (tamasya ritual). Rites de passage inilah yang banyak memberi sumbangan berharga bagi orang-orang kaya, khususnya yang berhaji, untuk bercermin diri.

Memang ibadah haji pada awalnya adalah suatu ekspresi sikap determinan ibadiyah yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang mempunyai isthitho’ah (kemampuan). Istitho’ah yang dimaksud lebih ditekankan pada masalah fisik dan kesiapan materi baik yang dibutuhkan untuk perjalanan haji itu sendiri maupun untuk bekal keluarga yang ditinggalkan.

Di sinilah letak transedensi ibadah, yaitu pada penyerahan total materi dan non-materi di jalan ibtigho’an li mardhotillah (mencari ridho Tuhan). Adanya kecukupan materi, secara tidak langsung meniscayakan bahwa seorang muslim yang melaksanakan haji minimal berasal dari kelas elite ekonomi tertentu (baca : kaya).

Uniknya, rites de passage haji diselimuti simbol-simbol yang bertaburan di sana-sini. Tak terkecuali, rites de passage yang sengaja digariskan Tuhan untuk memberi pelajaran bagi kalangan the have pun sangat simbolik sifat dan bentuknya.

Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan dan kehati-hatian kita untuk tidak terjebak dalam reruntuhan simbol yang justru dikhawatirkan dapat menutup mata kita untuk melihat esensi terdalam dari rites de passage itu sendiri.

Sebenarnya simbol tidak akan memancing timbulnya masalah jika dua komponen simbol yaitu dunia empiris (makna harfiah) dan dunia potensial (makna tersirat) berjalan beriringan. Yang khas dalam simbolisme, seperti diungkap Dr. Ignas Kleden, adanya hermeneutic circle (lingkaran hermenutika) yang menyebabkan dunia yang satu kadang diuntungkan kadang pula dirugikan.

Lingkaran hermeneutik adalah suatu dialektika yang berputar abadi antara dua pihak yang beroposisi tanpa sintesa final. Ka’bah misalnya sebagai pusat ritual haji (Qs. al-Baqarah: 125), menyimbolkan kehadiran Tuhan di muka bumi. Jika kita memahaminya secara letterlijk, maka kita akan terjebak pada dunia empirisnya (makna harfiah) saja.

Hal di atas dialami langsung oleh Abu Yazid al-Bistami yang mengatakan, “Pada perjalanan haji saya yang pertama, saya hanya melihat Ka’bah; yang kedua kali, saya melihat Ka’bah dan pemiliknya (Tuhan) dan yang ketiga kali, saya hanya melihat Tuhan saja.”

Dengan demikian, simbol juga bisa diartikan sebagai “kehadiran sesuatu yang tidak hadir” (absent-presence). Maksud Ka’bah di sini adalah simbolisasi kehadiran Tuhan di muka bumi, meski secara empiris Dia tidak bersemayam di dalam Kakbah (Lihat Burhanuddin, Kompas, 7/11/1997).

Rites de Passage

Atas dasar inilah, penulis menemukan tiga bentuk rites de passage dalam haji yang secara simbolik berpeluang membukakan mata hati orang kaya pada khsusnya dan kita pada umumnya.

Pertama, ibadah haji yang bersejarah itu senantiasa dirayakan dengan gema takbir dan para jamaah haji (hujjaj) ikut mengumandangkan takbir di sela-sela perjalanan ritualnya. Secara etimologis, bertakbir adalah membesarkan (Tuhan) (Qs al-Baqarah: 185).

Intinya, takbir adalah menyerahkan jiwa dan raga untuk bersedia menempatkan Tuhan di atas puncak kebesaran-Nya. Ini, tentu saja, serta-merta meniscayakan bagi orang yang bertakbir untuk mampu mensubordinasikan interes-interes lain yang selama ini diunggul-unggulkan dan dilebih-lebihkan di atas kebesaran Tuhan. Interes harta, wanita dan singgasana yang kerap membius dan memalingkan kita dari nur Illahi harus siap kita reduksi pada tingkat yang paling minimal.

Ketika lidah para jamaah haji tak jemu-jemunya menggemakan senandung takbir dengan lisan (iqrar bi al-lisan), maka bersamaan itu pula para jamaah haji membenarkannya (tasdiq bi al-qolbi). Namun teriakan lantang para jamaah haji dalam menggemakan takbir akan kehilangan ruhnya, jika mereka gagal memaknai hakikat takbir dalam kehidupan nyata (amal bi al-arkan).

Hal itu sebenarnya telah mendapat legitimasi sosiologis dari Peter L. Berger. Proses eksternalisasi di mana manusia menuangkan potensi dirinya ke dunia luar tidak dapat dipisahkan dari proses internalisasi yang selama ini ia alami.

Dengan demikian, seorang yang bertakbir namun masih terninabobokkan oleh rayuan maut harta benda dan kedudukan, sehingga ia menomorsekiankan Tuhan, sebenarnya ia belum bertakbir dalam arti yang sebenarnya.

Rites de passage yang kedua yang menjadikan pepeling (pengingat) adalah pemakaian baju ihram. Permulaan ritual haji ditandai oleh pelepasan topeng-topeng dan predikat palsu guna menggapai kesempurnaan. Mengawali ibadah haji berarti mulai melucuti segala atribut pangkat dan status sosial dengan memakai ihram sebagai perlambang kesejatian yang serba putih.

Pemisahan total dari ikatan-ikatan sosial dan temporal ini menjadi bukti dari apa yang oleh Victor Turner dilihat sebagai tahap permulaan liminal atau transisi dalam seluruh prosesi ibadah haji. Setiap jamaah haji telah tampil dalam wujudnya yang baru, seperti bayi yang baru lahir dari gua garbaning ibu.

Perbincangan tentang baju ihram ini akan semakin menemukan relevansinya jika dikaitkan denga tesis Paul Ricoeur dalam The Rule of Metaphor. Metafora sebagai bahan baku simbol mempunyai fungsi identifikasi dan predikasi, atau gampangnya, antara subyek dan predikat.

Suatu identitas, menurut Ricoeur, seperti dikutip Ignas Kleden, selalu menunjukkan sesuatu yang ada dan konkret, yang tertentu. Sedangkan apa yang menjadi predikatnya bersifat umum (general) dan belum teridentifikasi. Identitas penting untuk mengidentifikasi persitiwa, sedangkan predikasi penting untuk mengembangkan makna.

Identifikasi pakaian ihram yang wajib dikenakan jamaah haji barulah bermakna bila setiap jamaah haji bisa menangkap makna yang tersembunyi di balik itu. Maka perlu upaya predikasi pemakaian ihram agar ia dapat dipahami secara lebih cerdas.

Dengan cara ini ibadah haji dipahami sebagai gerakan kemanusiaan mondial yang menandai berkibarnya bendera lambang egaliterianisme umat manusia. Hal ini adalah pengejawantahan doktrin monotheisme yang diwariskan Nabi Ibrahim AS, bapak agama-agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam).

Secara implisit, adanya kesamaan baju ihram yang serba putih juga menyindir siapa saja yang masih mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan klasifikasi status sosial. Manusia dipandang berharga bukan diukur dari seberapa banyak uang dollar yang ia parkir di luar negeri.

Atau seberapa megah istana yang ia bangun. Akan tetapi, barulah bernilai jika dia mampu menjalankan amanah jabatan yang ia pegang dan mau membelanjakan sebagian kecil kekayaannya untuk sesamanya.

Pesan Abadi Egaliter

Dengan demikian, baju ihram menyimbolkan berdiri tegaknya konsepsi “kita” dan pertanda telah tumbangnya egosentrisme sektoral dan arogansi kekuatan. Mengikuti tesis Ricoeur, ihram sebagai baju resmi rites de passage haji (wukuf, sa’i, thawaf dan lain-lain) merupakan kenyataan empiris (Umwelt) yang mengandaikan Welt (cita-cita ideal yang harus diwujudkan). Welt yang dimaksud, tak lain dan tak bukan, adalah pesan abadi egaliter dan konsepsi “kita” itu sendiri.

Yang ketiga adalah prosesi penyembelihan hewan kurban yang ditujukan untuk menapaktilasi pengorbanan besar Nabi Ibrahim as yang “tega” menyembelih putra tercintanya, Ismail AS. Ibadah kurban yang ditunaikan para jamaah haji di tengah rites de passage haji menandakan bahwa penyembelihan hewan kurban merupakan simbolisasi penyembelihan sifat-sifat kebinatangan yang bejat.

Ambillah contoh, seperti mau menang sendiri, rakus, buas, serakah dan memakan yang lemah. Seorang yang telah berkurban, namun sifat-sifat kebinatangan masih bercokol dalam dirinya, berarti ia belum berkurban dalam arti yang sesungguhnya.

Kisah heroik Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih Ismail menandai keikhlasan beliau untuk menyembelih hawa nafsunya. Rasa cintanya kepada Tuhan melebihi segala-galanya, bahkan kepada darah dagingnya sendiri.

Menurut Abdul Muta’al Jabari dalam kitab al-Adhiyyah: Ahkamuha wa falsafatuha at-Tarbawiyyah, isyarat yang dapat kita tangkap dari sekelumit kisah di atas adalah mendidik umat manusia untuk rela berkorban. Bahkan jika merujuk pada terminologi Alquran, menyedekahkan sesuatu yang paling kita cintai adalah prasyarat mutlak untuk merengkuh derajat takwa (Qs. Al-Baqarah: 177).

Dalam konteks bencana ekonomi dan badai politik (termasuk banjir politik dalam arti denotatif) yang sedang menggoyang biduk negara tercinta, sebenarnya dapat diatasi, atau minimal takkan berlarut-larut seperti ini, jika masing-masing pihak mau mengetuk hati nuraninya dan menarik hikmah tersembunyi dari rites de passage haji di atas.

Penulis masih percaya bahwa di dalam lubuk sanubari setiap insan (termasuk pejabat dan pengusaha) masih terdengar suara kebenaran. Betapa pun kecil dan lamat-lamat suara kebenaran itu dibisikkan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.