Home » Kajian » Sufisme » Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama
spiritual

Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama

4.25/5 (4)

Belakangan ini, kita menyaksikan gelombang “religiositas” dalam pelbagai bidang kehidupan kita. Di bidang ekonomi, kita menemukan upaya-upaya menyemangati praktik perbankan dengan nilai-nilai Islam, sehingga muncul berbagai perbankan syariah.

Di bidang industri, produk-produk kosmetika dan pakaian, sudah diberi “semangat” Islam. Bahkan yang paling mutakhir, adalah kemunculan bentuk multi level marketing (MLM), yang –lagi-lagi– dengan semangat Islam (syari’ah). Kecanggihan teknologi informasi juga direspon dengan upaya-upaya serupa, dengan bermunculannya berbagai layanan agama dan informasi ruhani secara seluler.

Alquran seluler, SMS paket doa, SMS paket hadis, MMS Risalah Doa, dan sejenisnya adalah sebagaian contoh. Semua mengisyaratkan keinginan kuat sebagian umat Islam untuk menampilkan Islam dengan cara populer, sehingga baik sebagai ajaran maupun sebagai komunitas, Islam bisa diterima semua kalangan.

Setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat untuk melihat gelombang “religiositas” di atas. Pertama, dominasi kapitalisme yang cenderung westerntelah melahirkan upaya perlawanan oleh kekuatan-kekuatan tertentu dalam masyarakat dunia.

Upaya perlawanan itu, biasanya diwujudkan dalam bentuk melahirkan semacam counter-hegemony atas kekuatan-kekuatan yang sebelumnya telah sempurna melakukan hegemoni. Counter-hegemony ini biasanya dirumuskan dalam upaya untuk mengeskpose segala bentuk localities, baik local wisdom (kearifan lokal), local genius (kecerdasan lokal), sampai dengan local resistance (perlawanan lokal).

Hal ini bisa dimengerti, karena kekuatan global yang hendak dilawan, tak jarang telah lebih dulu menghancurkan lokalitas yang dimiliki masyarakat. Pada titik ini, perlawanan muncul untuk kembali menampilkan lokalitas yang (mungkin) telah tergusur oleh kekuatan global yang hegemonik tersebut.

Kedua, secara teoretis, lahirnya semangat islamisasi dan pribumisasi Islam pada pelbagai level, sebenarnya tak lepas dari gejala fundamentalisme agama yang belakangan menguat. Menurut Bassam Tibi, kenyataan ini secara natural bisa dianggap bentuk indigenisasi atau pribumisasi yang berhubungan secara integral dengan strategi kultural fundamentalisme Islam.

Ia tak lain adalah penegasan kembalinya budaya lokal untuk menghadapi kapitalisme global dan invasi budaya yang berkaitan dengan itu, yakni “dewesternisasi” (Tibi, 1998: 220). Fundamentalisme agama tidak hanya bermaksud mengembalikan interpretasi agama yang (menurut mereka) telah terkontaminasi bias metodologi dan pemikiran Barat, tapi juga menyangkut upaya-upaya pelahiran budaya tanding yang didasarkan sentimen agama.

Kaum fundamentalis yakin bahwa tatanan dunia yang saat ini dikendalikan Barat sudah tidak bisa dipercaya lagi. Karena itu mereka coba memproklamirkan “tatanan dunia baru” yang didasarkan prinsip-prinsip Islam, sebagaimana yang mereka pikirkan, pahami, dan tafsirkan.

Simulasi Spiritual

Menurut kerangka teori Jean Baudrillard, penampakan semangat religius yang membungkus pelbagai dimensi kehidupan kita ini, tak lain hanyalah sebuah permainan simulasi. Masyarakat secara tidak sadar sudah terpedaya oleh simulasi tanda-tanda dan simbol-simbol yang dianggap sebagai bagian dari mereka. Masyarakat kita adalah masyarakat konsumsi, tutur Baudrillard.

Apa yang dikonsumsi adalah objek. Ketika kita sedang mengonsumsi objek, maka kita sebenarnya sedang mengonsumsi tanda, dan dalam proses itu, tengah berusaha mendefinisikan diri kita. Konsumsi merupakan sebuah sistem aksi dari manipulasi tanda. Supaya menjadi objek konsumsi, sebuah objek harus menjadi tanda (Baudrillard, 1988: 22).

Mengonsumsi suatu objek tertentu menandakan bahwa –bahkan secara tidak sadar– bahwa kita adalah bagian dari, atau sama dengan orang yang mengonsumsi objek tersebut. Ini pada gilirannya melahirkan sikap bahwa kita berbeda dengan mereka yang tidak mengonsumsi objek yang sama.

Sadar atau tidak, kelompok-kelompok yang menjadikan “semangat” Islam sebagai garis demarkasi dalam aktivitas ekonomi dan industri mereka, sebenarnya telah terjebak pada bentuk kapitalisasi spiritualisme dengan cara mengubah spiritualisme sebagai sebuah tanda.

Pada dasarnya, spiritualisme adalah objek yang berusaha didapatkan masyarakat, karena di tengah terpaan sekularisme yang kian kencang, manusia cenderung terdorong untuk kembali pada basis spiritualisme mereka. Hanya dalam konteks ini, kita menangkap spiritualisme tak lagi merupakan objek, tapi sudah disulap menjadi tanda-tanda tertentu.

Spiritualisme dalam wujudnya yang objektif, tentu saja tidak menarik konsumen. Karena itu, pernyataan Baudrillard bahwa untuk menjadi objek konsumsi, sebuah objek harus menjadi tanda, menjadi benar. Pada titik inilah, perbankan syariah –misalnya– bisa dilihat bukan (hanya) sebagai institusi yang bermotif spiritual dan bermaksud memberi nilai-nilai religius pada praktik perbankan.

Dia (mungkin) lebih sebagai signifikasi (penandaan) untuk mengelabui masyarakat, dengan muncul seolah-olah lebih islami dan berpihak pada spritualitas. Berbagai MLM syariah mungkin juga bisa dibaca sedemikian rupa. Mereka sebenarnya sedang melakukan kapitalisasi spiritualisme, dan menjadikan spiritualitas sebagai tameng dari industri yang tengah mereka jalankan.

Akibat penyulapan spiritualisme menjadi tanda-tanda, bisa dimaklumi ketika mereka menganggap bahwa praktik-praktik perbankan, multilevel marketing, atau industri yang berada di luar mereka adalah tidak atau kurang islami. Anggapan semacam ini, tentu terkesan sangat picik.

Karena jika dilacak lebih mendasar, apa yang mereka sebut perbankan syariah, tak jauh berbeda, atau bahkan tidak berbeda sama sekali dengan perbankan konvensional yang mereka kritik habis-habis. Praktik MLM syariah yang mereka gembar-gemborkan, juga tetap merupakan praktik ekonomi dan perdagangan yang potensial menindas.

Dengan kerangka pemahaman semacam ini, menjadi jelas bahwa motif dari aktivitas ekonomi dan industri mereka, bukan lagi motif-motif religius, tapi murni motif-motif ekonomi dengan memanfaatkan spiritualisme sebagai daya tarik pasar.

Barangkali, di sinilah kita dapat menemukan sisi kebenaran pernyataan Lenin: “Agama adalah candu rakyat.” Agama adalah semacam whisky ruhani murahan, yang mana di dalamnya para budak modal menenggelamkan paras kemanusiaanya.

Agama, kata Lenin, (terkadang) merupakan sarana yang sengaja dipakai kelas-kelas berkuasa untuk melakukan penindasan dan penipuan pada kelas-kelas bawah. Agama adalah sarana penumpukan kekuasaan dan kekayaan oleh kelas-kelas penguasa dan pemodal (Suseno, 2003: 30).

Sebagai orang beragama, penulis merasa ungkapan Lenin itu sama sekali tak sejalan dengan fitrah agama manapun. Tapi, demi melihat maraknya kapitalisasi spiritualisme belakangan ini, penulis menjadi yakin bahwa dalam setiap agama, selalu terdapat kelompok-kelompok yang melakukan pembodohan dan penindasan atas nama agama. Mungkin, ini dikarenakan agama dan perilaku umat beragama, memang bukan dua hal yang sama.

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.