Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Kajian » Sufisme » Tasawuf Ibn Atha’illah al-Sakandari

Tasawuf Ibn Atha’illah al-Sakandari Kajian terhadap Kitab al-Hikam al-Atha'iyah

4.25/5 (12)

Kealiman, kedalaman renungan spiritual, dan kekayaan pengalaman batin Ibn Atha’illah menyebabkan banyak orang belajar padanya. Murid-muridnya menyebar di mana-mana, tak hanya di Iskandariyah–tempat yang bersangkutan dilahirkan, melainkan juga di Kairo–tempat ia mengembangkan diri sebagai seorang sufi.

Ia meninggal dunia di Madrasah al-Manshuriyah Mesir pada 13 Jumadzil Akhir tahun 709 H. Jenazahnya dikuburkan di Qarrafah al-Kubra. Ribuan orang mengantar jenazahnya ke liang lahat dan hingga kini kuburannya masih ramai dikunjungi para pelayat.

Isi Buku. Kitab al-Hikam mendapatkan banyak pujian, baik dari segi kedalaman isinya maupun dari pilihan katanya. Tentang isinya, Abdul Halim Mahmud berkata bahwa kitab al-Hikam memberikan ilmu dan cahaya (tufidu al-‘ilm wa al-nur), sedangkan dari diksinya, Muhammad Abduh berkata bahwa kitab ini hampir saja serupa dengan al-Quran (kada kitab al-hikam yakunu qur’anan).

Kata-kata pilihan Ibn Atha’illah yang terekam dalam buku ini telah menyihir banyak orang. KH Mustofa Bisri, wakil Ra’is Am PBNU, berkata bahwa aporisme al-Hikambahasanya luar biasa–kata dan makna saling mendukung, melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggetarkan.

Dari sudut isi, kitab ini hanya berisi puluhan kata hikmah yang merupakan hasil permenungan atau pengalaman spiritual penulisnya. Berbeda dengan karya-karyanya yang lain seperti Lathaif al-Minan, Miftah al-Falah, dan Taj al-‘Arus yang rimbun dengan kutipan al-Qur’an dan Hadits, maka di dalamal-Hikam ini Ibn Atha’illah terkesan pelit merujuk kepada ayat-ayat al-Quran dan teks-teks Hadits.

Walau demikian, seperti juga dianut guru-gurunya, Ibn Atha’illah konsisten pada ajaran tasawuf akhlaqi dan bukan yang falsafiseperti corak tasawuf Abu Manshur al-Hallaj (w. 309 H.), Ibn Arabi (w. 632 H.), dan lain-lain. Ia berusaha untuk memadukan antara syariat dan hakikat. Ini terlihat ketika ia menafsirkan ayat al-Quran, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Menurutnya, iyyaka na’budu itu adalah syariat, sedangkan iyyaka nasta’in adalah haqiqat; iyyaka na’budu itu adalah islam, sedangkan iyyaka nasta’in adalah ihsan; iyyaka na’budu itu adalah ‘ubudiyah, sedangkan iyyaka nasta’in adalah ‘ubudah.

Sebagai pemikir tasawuf yang bercorak khuluqi-‘amali, Ibn Atha’illah masuk ke dalam pembahasan terminal-terminal spiritual (maqamat) yang sebelumnya telah dirintis oleh al-Harits al-Muhasibi (w. 243 H.), Abu Nashr al-Sarraj (w. 378 H./ 988 M.), al-Kalabadzi (w. 380 H.), al-Qusyairi (w. 465 H./1072 M.), Abu Hamid al-Ghazali (505 H.).

Di dalam kitab al-Hikam ini, sekalipun tak disistematisasikan seperti yang dilakukan pemikir tasawuf lain, Ibn Atha’illah membahas tentang maqam-maqam spiritual seperti taubat, zuhud, shabar, tawakkal, dan ridha. Ia juga membahas tentang ahwal sepertikhauf-raja’tawadhu, ikhlas, dan syukr.

Bahkan, Ibn Athaillah membahas tentang marifat, fana-baqa, dan mahabbah. Namun, tak seperti para sufi lain yang banyak mendasarkan maqamat dan ahwal pada al-Quran dan Hadits, maka Ibn Athaillah dalam kitab ini–seperti dikatakan sebelumnya– lebih banyak bertumpu pada pengalaman batin yang bersangkutan.

Tentangmaqamat itu, Ibn Athaillah menjelaskannya sebagai berikut.Pertama, taubat. Bagi Ibn Athaillah, seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) harus terlebih dahulu membersihkan diri dari dosa-dosa.

Ibn Athaillah berkata, “min ‘alamat mawt al-qalb ‘adam al-khuzn ‘ala ma fataka min al-muwafaqat wa tark al-nadam ‘ala ma fa’altahu min wujud al-zallat’ [di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan beribadah yang engkau lewatkan, dan tiadanya penyesalan atas kesalahan yang engkau lakukan].

Namun, ia segera menegaskan bahwa banyaknya dosa yang dilakukan seseorang tak boleh menyebabkan seseorang putus pengharapan akan ampunan Allah. Ia berkata, ‘la ya’zhumu al-danbu ‘indaka ‘azhamatan tashudduka ‘an husn al-zhann bi Allah ta’ala. Fa inna man ‘arafa rabbahu, istashghara fi janbi karamihi dzanbuhu’ [Dosa besar tak boleh menghalangimu untuk  berbaik sangka kepada Allah.

Sebab, siapa yang mengenal Tuhannya, akan tahu bahwa dosanya kecil belaka dibanding kemurahan Allah]. Selanjutnya, ia berkata, ‘idza waqa’a minka dzanbun fala yakun sababan liya’sika min hushul al-istiqamah ma’a rabbika faqad yakunu dzalika akhira dzanbin quddira ‘alaika” (apabila engkau terjatuh dalam dosa, maka jangan sampai itu menjadi sebab keputus-asaanmu dalam memperoleh istiqamah dengan Tuhanmu. Sebab, boleh jadi itulah dosa terakhir yang ditakdirkan Allah kepadamu).

Walau begitu, menurut Ibn Athaillah, dosa kecil pun tak boleh menyebabkan seseorang terlengah. Ia berkata, “la shaghirata idza qabalaka ‘adluhu wa la kabirata idza wajahaka fadhluhu” (tak ada dosa kecil [yang tak akan diadili] bila dihadapkan keadilan Tuhan, dan tak ada dosa besar jika dihadapkan pada karunia-Nya).

Kedua, zuhud yang sering dipahami sebagai usaha untuk meninggalkan kemewahan dunia dan memilih hidup sederhana. Bahkan, seorang zahid berusaha mengosongkan seluruh kecenderungan duniawi dalam hatinya.

Ibn Athaillah berkata, “innama ja’alaha mahallan li al-aghyar wa ma’dinan li al-akdar tazhidan laka fiha” (Allah sengaja menciptakan dunia sebagai tempat tipu daya dan sumber kekotoran dengan maksud agar dengan itu dunia dirasa menjemukan).

Hanya dengan cara itu, maka urusan duniawi tak memenuhi seluruh sanubari salik. Karena itu, Ibn Athaillah berkata, “farrigh qalbaka min al-aghyar yamla’uhu bi al-ma’arif wa al-asrar” (kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan pengetahuan dan rahasia). Sebaliknya, orang yang mencintai sesuatu, maka ia akan menjadi sesuatu itu.

Ibn Athaillah berkata, “ma ahbabta syai’an illa kunta lahu ‘abdan, wa huwa la yuhibbu an takuna li ghairihi ‘abdan” (tidaklah engkau mencintai sesuatu kecuali bahwa bahwa engkau akan menjadi budak sesuatu, sementara Dia (Allah) tidak berkenan sekiranya engkau menjadi budak dari selain-Nya).

Ia juga menegaskan bahwa kehinaan muncul sebagai akibat ketamakan. Ia berkata, “ma basaqat aghshanu dzull illa ‘ala bidzri thama’in” (tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih ketamakan”.

Ketiga, shabr, yaitu sabar dalam menjalankan perintah-perintah dan dalam menjauhi larangan-larangan Allah, serta menerima segala ujian dan cobaan yang ditimpakan Allah kepada dirinya. Namun, tak seluruh orang bisa sabar menghadapi pedihnya penderitaan.

Ibn Athaillah berkata, “li yukhaffif alam al-bala’ ‘alaika ‘ilmuka bi annahu Subhanahu wa Ta’ala huwa al-mubli laka. Fa alladzi wajahatkan minhu al-aqdar huwa alladzi ‘awwadaka husna al-ikhtiyar” (pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah lah sang pemberi ujian.

Yang mendatangkan ujian-takdir kepadamu adalah Dia (Allah) yang juga bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik buatmu”.

Bahkan, menurut Ibn Athaillah, datangnya kesulitan merupakan pesta pora bagi orang yang berharap perjumpaan dengan Tuhan (wurud al-faqat a’yad al-muridin). Sebab, boleh jadi seseorang akan memperoleh pengalaman batin dalam penderitaan, apa yang tak bisa diperoleh dalam puasa  dan shalat yang kita lakukan (rubbama wajadta min al-mazidi fi al-faqat ma la tajiduhu fi al-shaum wa al-shalat).

Bahkan, demikian Ibn Athaillah, bermacam ujian itu hakekatnya adalah hamparan pemberian (al-faqat busuth al-mawahib). Dengan demikian, menurut Ibn Athaillah, datangnya ujian kepada seseorang tak hanya meniscayakan kesabaran dari yang bersangkutan melainkan syukur kepada Tuhan, karena di balik ujian itu ada karunia yang hendak diberikan. Merenungkan apa yang diungkap Ibn Athaillah ini rasanya memang tak ada jalan pintas untuk sampai kepada Tuhan.

Keempat, tawakkal, yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Ibn Athaillah berkata, “min ‘alamat al-najahi fi al-nihayat al-ruju’ ila Allah fi al-bidayat” (di antara tanda keberhasilan pada ujung perjuangan adalah berserah diri kepada Allah semenjak permulaan). Menurut Ibn Athaillah, tak ada pilihan lain bagi seorang hamba selain tawakkal kepada Allah.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.