Home » Kajian » Sufisme » Tasawuf Ibn Atha’illah al-Sakandari

Tasawuf Ibn Atha’illah al-Sakandari Kajian terhadap Kitab al-Hikam al-Atha'iyah

4.25/5 (12)

Karena segala sesuatu itu akan berjalan sesuai kehendak Allah dan bukan oleh kehendak yang lain. Ia berkata, “ila al-masyi’ati yastanidu kullu syai’in, wa la tastanidu hiya ila syai’in” (segala sesuatu bertumpu pada kehendak Allah, dan kehendak Allah tak bersandar pada apa pun).

Dengan demikian, menurutnya, tak selayaknya bagi seorang hamba menggantungkan harapan pada selain Allah, karena tak ada harapan yang bisa tercapai dengan melampaui Allah. Ia berkata, “la tata’adda niyyatu himmatika ila ghairihi fa al-karim la tatakhaththahu al-amalu” (janganlah cita-cita atau harapanpum ditujukan pada selain Allah, sebab harapan seseorang tak akan dapat melampaui Yang Maha Pemurah).

Kelima, ridha (kerelaan), yaitu menerima putusan dan takdir Allah secara tenang. Kita harus rela menerima; musibah itu terjadi sekarang dan bukan nanti; tsunami menerjang kita dan bukan yang lain, yang hancur diserang angin puting-beliung itu properti kita dan bukan yang lain.

Sebab, semuanya itu berjalan mengikuti ketentuan Allah, dan kita sebagai hamba-Nya tak ada cara lain kecuali ridha menerimanya. Kita tahu, bila Tuhan berkendak, maka siapakah yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Dengan demikian, kerelaan menerima setiap takdir adalah jalan etis satu-satunya.

Cerita tentang kesengsaraan Nabi Ayub adalah cerita tentang ke-ridha-an seorang hamba menghadapi ujian dan takdir Tuhannya. Cerita ini terus diulang para mistikus untuk dijadikan teladan kerelaan dalam menghadapi ujian atau penderitaan.

Wujud minimal dari ridha adalah tak iri-dengki terhadap karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Orang berada pada maqam ridha selalu riang dan gembira. Ia gembira menerima musibah sebagaimana bahagia ketika mendapatkan anugerah. Penolakan dianggap sebagai pemberian. Ibn Athaillah berkata, “pemberian dari makhluk adalah kerugian, dan penolakan dari Tuhan adalah kebaikan” (al-‘atha` min al-khalq hirman wa al-man’u min Allah ihsan).

Menurutnya, orang yang sedih dengan penolakan Allah atas suatu permintaan menunjukkan ketidak-pahaman yang bersangkutan pada Allah (innama yu`limuka al-man’u li’adami fahmika ‘an Allah fihi). Selanjutnya, Ibn Athaillah menegaskan, “ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu;

Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya kepadamu; dan di dalam semuanya itu, ia sesungguhnya hendak memperlihatkan diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya” (mata a’thaka asyhadaka birrahu, wa mata mana’aka asyhadaka qahrahu, fahuwa fi kulli dzalika muta’arrifun ilaika wa muqbilun bi wujudi luthfihi alaika).

Ujung dari semua tahapan spiritual itu adalah perjumpaan dan penyatuan diri dengan Tuhan. Lalu para sufi bisa menyaksikan Tuhan (marifat), lebur (fana’baqa), dan mencintai Tuhan (mahabbah) secara tak tepermanai.

Menurut Ibn Athaillah, keinginan kuat seorang arif untuk selalu bersama Allah tak pernah hilang, dan bila ia bertumpu kepada selain-Nya tak pernah tenang (al-‘arif la yazulu adhthiraruhu wa la yakunu ma’a ghair Allah qararuhu). Para sufi ingin selalu bersama Allah.

Ibn Athaillah berkata, “ghayyib nazhr al-khalq ilaika bi nazhr Allah ilaika, wa ghib ‘an iqbalihim ‘alaika bi syuhudi iqbalihi ‘alaika’ (hilangkan pandangan manusia terhadapmu karena kau telah puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan abaikan perhatian mereka kepadamu karena kau telah tahu bahwa Allah selalu memperhatikanmu).

Bagi Ibn Athaillah, orang yang telah mencapai ma’rifat akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Ia berkata, “siapa mengenal Allah, maka ia akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Siapa yang melebur dengan Allah, maka ia akan lupa akan segala sesuatu. Siapa yang mencintai-Nya, maka ia akan mengutamakan Allah ketimbang sesuatu yang lain” (man ‘arafaal-Haq syahidahu fi kulli syai’n. wa man faniya bihi ghaba ‘an kulli syai’in. Wa man ahabbahu lam yu’tsir ‘alaihi syai’an).

Dengan menyaksikan Allah (ma’rifatullah), maka seseorang akan mencitai-Nya (mahabbatullah). Dan mencitai Allah menyebabkan seseorang tak berharap imbalan dari selain-Nya. Ibn Athaillah berkata, “laysa al-muhibb alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadhan aw yathlubu minhu ‘aradhan. Fa inna al-muhibb man yabdzulu laka. Laysa al-muhibb man tabdzulu lahu” (pecinta bukan orang yang berharap imbalan dari Kekasihnya dan bukan pula orang yang menuntut dipenuhinya suatu keperluan dari Kekasih. Pecinta adalah yang “berkorban” kepada kepada-Mu, bukan yang Kau berkorban kepadanya.

Memperhatikan ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Ibn Athaillah tersebut, beberapa hal berikut bisa dikatakan. Pertama, tak seperti umumnya para teolog yang suka bertikai mengenai definisi-definisi Tuhan, maka Ibn Athaillah  melompat untuk merasakan kehadiran Tuhan melalui proses intuisi dan pengalaman spiritual. Ini karena kenyataan-kenyataan dalam dunia rohani memang tak bisa dijelajahi dengan argumen-argumen rasional.

Kedua, di tengah masyarakat yang lebih mengunggulkan kekayaan materi-duniawi, apa yang dikemukakan Ibn Athaillah masih memiliki relevansi. Ketamakan manusia tak hanya menyebabkan kehancuran alam, melainkan juga mengantarkan manusia yang satu memangsa manusia yang lain.

Merajalelanya perkara korupsi yang melibatkan para pejabat publik di negeri ini menunjukkan bahwa betapa kerakusan para koruptor dengan menumpuk-numpuk harta telah menghancurkan bangsa.

Ketiga, konsep kepasrahan total kepada Allah yang diintroduksi Ibn Athaillah akan memunculkan kesalahpahaman di sebagian pihak; bahwa Ibn Athaillah menganut faham fatalisme (jabariyah) yang berujung pada kenaifan.

Untung, sejarah menunjukkan bahwa para sufi bukan sekelompok orang yang apatis menyaksikan ketidak-adilan. Mereka adalah orang-orang yang gigih berjuang melawan kezaliman, kapan pun dan dimana pun.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.