Home » Kajian » Surah Hujurat dan Surah Hujatan
3234382291_00c7d4142f_z

Surah Hujurat dan Surah Hujatan

4.23/5 (13)

IslamLib – Surah Al-Hujurat (49) merupakan salah satu surah Madaniyyah yang turun sesudah Nabi Muhammad hijrah dan terdiri dari 18 ayat. Thabathaba’i (w. 1981), seorang ahli tafsir besar Syiah modern dari Iran, menulis tentang tema utama surah ini. Menurutnya, surah ini mengandung tuntunan agama serta prinsip-prinsip moral yang universal.

Prinsip-prinsip ini, jika diikuti, akan menjamin terciptanya kehidupan yang bahagia, baik pada level individu maupun sosial. Apa yang diungkapkan oleh Thabathaba’i itu tergambar dalam 4 ayat Surah al-Hujurat ini :

Ayat 9 menuntun kita agar segera turun tangan menegakkan perdamaian ketika terjadi pertikaian antara dua kelompok mukmin. Usaha ke arah itu harus diputuskan dan dikerjakan secara adil, sehingga dapat diterima oleh dan memuaskan semua kelompok.

Ayat 10 menyatakan: orang-orang mukmin, kendati tidak seketurunan, adalah seperti saudara seketurunan, sebab mereka memiliki keterikatan bersama dalam iman. Karena itu orang-orang beriman yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian, ditutuntun oleh ayat ini untuk mendamaikannya dan menjaga diri agar tidak ditimpa bencana, baik akibat pertikaian itu maupun selainnya. Semua itu dilakukan agar kita mendapat rahmat.

Ayat 11 melarang kita mengolok pihak lain. Dari sana, pertikaian bisa timbul. Sebab, boleh jadi mereka yang diolok lebih baik dari yang mengolok, sehingga dengan demikian ia melakukan kesalahan ganda. Pertama: mengolok, dan, kedua, yang diolok lebih baik dari dia. Ayat ini juga melarang kita memberikan atau memanggil pihak lain dengan sebutan-sebutan buruk.

Ayat 12 melarang kita melakukan tiga hal yang bisa menghancurkan persaudaraan agama, ukhuwwah Islamiyyah: berprasangka buruk, tajassus (mencari-cari aib/keburukan pihak lain), dan ghibah (menggunjing). Ketiganya mempunyai efek yang sama: menjatuhkan kehormatan kaum Muslim.

Tahap pertama yang merusak kehormatan seorang Muslim adalah berprasangka buruk kepadanya. Kemudian akan jatuh lebih dalam lagi, apabila kita membenarkan prasangka itu dengan melakukan tahap kedua yaitu tajassus. Tahap yang paling buruk adalah ghibah.

Karena orang Islam itu bersaudara, menghancurkan atau menjatuhkan kehormatan salah seorang Muslim adalah sama dengan memakan bangkai/daging saudaranya sendiri yang sudah mati.

Sayangnya, pesan moral yang disampaikan oleh Alquran itu diabaikan begitu saja oleh kebanyakan umat Muslim. Mereka saling mengolok, berprasangka buruk, mencari-cari keburukan, dan ghibah atau menggunjing di antara mereka sendiri untuk menghancurkan atau menjatuhkan kehormatannya. Semua itu dapat berujung pada sebuah pertikaian yang, menurut al-Alquran, seharusnya diatasi dengan cara mendamaikan.

Perilaku-perilaku buruk seperti itu banyak kita jumpai dalam konteks perbedaan (ikhtilaf) mazhab. Saat ini, kita kerap menyaksikan tulisan, berita, video, ceramah, dan tindakan lain yang memperlihatkan umat muslim dimana-mana melakukan apa yang dilarang dalam surah al-Hujurat itu.

Ada yang mencurigai aqidah, ibadah, atau perilaku pihak lain; ada yang mencari-cari keburukan mazhab lain; ada yang mengolok-olok mazhab selain mazhabnya; ada yang memberikan gelar-gelar buruk kepada orang yang berbeda dengannya: kafir, murtad, busuk, pendusta agama, ahli bid’ah, dll.

Dan yang lebih parah, saat pertikaian seperti itu berlangsung, alih-alih meredam dan melakukan rekonsiliasi, sebagian kelompok dalam umat justru memperuncing masalah, memanas-manasi, memprovokasi.

Antara yang men-sirr-kan (membaca dengan pelan-pelan) basmalah dan yang men-jahar-kan (membaca dengan keras); antara yang qunut dan yang tidak; antara yang memelihara jenggot dan yang tidak; antara yang bercelana cingkrang dan yang tidak; antara pendukung bid’ah hasanah dan yang tidak, mereka saling mencela.

Antara yang bermazhab Syafii dan yang bermazhab Hanbali; antara NU dan Salafi-Wahabi; antara Sunni dan Syiah; antara kaum tekstualis dan kaum rasionalis; antara muslim moderat dan muslim radikal; antara muslim liberal dan muslim literal; antara pendukung Islam Nusantara dan yang tidak, mereka saling mengolok dan bertukar cercaan dan hinaan. Juga provokasi.

Masing-masing kelompok mencoba mati-matian membentengi argumennya dengan cara menjatuhkan kehormatan lawannya – argumentum ad hominem.

Seakan-akan mereka semua ingin membantah dan melawan surah al-Hujurat itu dengan menciptakan surah tandingan bernama “surah al-Hujatan”. Kalau surah al-Hujurat melarang saling menghujat dan mengolok, surah baru ini –sesuai namanya, “al-Hujatan”– justru menganjurkan saling hujat dan memujinya sebagai kebajikan.

Memang surah al-Hujatan tidak ada di dalam Kitab Suci umat yang menginginkan kasih sayang, yakni Alquran. Tapi surah al-Hujatan justru berada di dalam hati orang-orang yang gemar menghujat mereka yang di luar kelompoknya itu. Kalau keberadaan surah al-Hujurat ada secara tersurat, keberadaan surah al-Hujatan ada secara tersirat, yakni tersirat di dalam hati mereka.

Tindakan para pengolok itu, secara tak langsung, menunjukkan seolah-olah mereka mengikuti surah yang lain: surah al-Hujatan.

Di dalam surah al-Hujatan itu, tampaknya ada perintah dan larangan yang sepenuhnya bertolak belakang dengan kandungan surah al-Hujurat yang mulia. Ada perintah untuk saling mengolok; saling memberikan gelar buruk; saling mencari-cari kesalahan; saling menghujat. Ada juga larangan untuk membangun ukhuwwah; bahkan mendamaikan yang bertikai pun dilarang.

Mereka inilah yang akan diadukan oleh Nabi Muhammad kelak di hari Kemudian, sebagaimana diabadikan oleh Alquran : “Dan berkatalah Rasul: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini mahjûran/suatu yang tidak diacuhkan.’” (QS. al-Furqân [25]: 30)

Menurut Ibn al-Qayyim (w. 1350), banyak pengertian terkait istilah mahjûran ini. Antara lain: tak tekun mendengarkan al-Alquran; tak mengindahkan halal dan haramnya―walau dipercaya dan dibaca; tak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushul al-ddin (pokok-pokok agama) dan perinciannya (furu’); tak berupaya memikirkan apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya, dan tak menjadikannya obat bagi semua penyakit kejiwaan.

Mereka, para penghujat itu, jelas mengabaikan larangan saling mengolok, mencurigai, mencari-cari kesalahan, dan ghibah. Walau, secara lisan, mereka mendaku dengan berbusa-busa bahwa mereka memercayai larangan itu. Mereka tidak menjadikan Alquran sebagai rujukan untuk saling mendamaikan yang bertikai. Mereka juga tidak berupaya memikirkan apa kehendak Tuhan di balik keragaman mazhab/pendapat itu.

Lebih parah lagi, mereka tak menjadikan Alquran sebagai obat penyakit yang besarang di hati mereka. Di hati mereka telah tertanam rasa benci dan permusuhan terhadap orang-orang yang diluar mazhabnya. Mereka tak berminat untuk menebarkan persaudaraan sebagaimana diperintahkan oleh Alquran.

Kalau perilaku Nabi berangkat menuju cahaya Surah al-Hujurat, perilaku mereka berangkat menuju kegelapan surah yang mereka buat sendiri — surah al-Hujatan. Wallahu a’lam bissawab.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.