Home » Kajian » Teologi » Shirat al-Mustaqim, Neraka, dan Pogrom
hell

Shirat al-Mustaqim, Neraka, dan Pogrom

4.33/5 (3)

Suatu pagi, seorang panitia pembangunan masjid di kompleks perumahan datang meminta sumbangan. Ini kali ketiga dia datang untuk tujuan serupa. Setelah saya menyerahkan sumbangan ala kadarnya, dia memanjatkan sederet “litani” doa-doa indah: semoga panjang umur, murah rejeki, dan diberi keselamatan.

Ada satu lagi doa yang membuat saya agak terkejut: semoga saya, sekeluarga, bisa selamat melewati shirat al-mustaqim.

Tak hanya itu. Dia merasa perlu untuk menerangkan panjang lebar, dengan nada yang sarat ketakutan, apa itu shirat al-mustaqim: Yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka untuk menguji keimanan seseorang sebelum lulus masuk surga.

Jembatan itu begitu tipisnya sehingga menyerupai “rambut dibelah tujuh”, dan begitu tajamnya sehingga menyerupai sembilu. Orang dengan iman yang kokoh dan amal yang baik, akan melewati jembatan itu secepat kilat; orang dengan iman yang lemah, akan terseok-seok melewatinya, dan kemungkinan besar akan terjerembab jatuh ke neraka!

Meski secara fisik, kini “jauh” dari pesantren, saya masih menggumuli kitab-kitab kuning. Di rumah, terpampang koleksi kitab yang lumayan banyak. Ada tiga kitab yang paling saya sukai; semuanya risalah-risalah pendek yang enak dibaca: pertama, kitab Ushfuriyyah, kedua, kitab Syu’abul Iman, dan ketiga, kitab Daqa’iqul Akhbar.

Saya ingin mengulas kitab yang terakhir. Kitab Daqa’iqul Akhbar (Detil-Detil Berita) ialah semacam ulasan kehidupan “metafisik,” tapi dengan pendekatan yang amat “fisikal”.

Kitab itu berisi uraian tentang apa persisnya kehidupan di akhirat nanti; apa sih yang akan dihadapi manusia ketika berada di Padang Mahsyar, semacam “ruang tunggu raksasa” sebelum menghadap Tuhan untuk “dihisab” amal-amalnya; apa yang terjadi saat melewati shirat al-mustaqim; soal penderitaan neraka; kenikmatan di surga; dan lain-lain.

Kitab ini pernah ditulis ulang dalam bahasa Jawa, dan ditambahi sana-sini, oleh Mundzir Nadzir, seorang pengarang Jawa populer, dalam sebuah risalah pendek yang sangat disukai kalangan awam Jawa di pedusunan. Judul risalahnya, Fa Firruu ila Allah (Bergegaslah Kembali ke Allah).

Dua kitab itu telah membentuk fantasi kecil saya mengenai surga dan neraka, hari kiamat, kehidupan metafisik, keadilan Tuhan, kehidupan manusia di dunia, kematian, baik dan buruk, dan seterusnya. Dua kitab itu ditulis dengan pendekatan yang sangat khas, bertolak dari the ethics of fear, etika ketakutan; seorang beriman harus dibuat takut begitu rupa, sehingga terpaksa menaati ajaran agama.

Saya masih ingat, betapa takutnya saya setelah membaca dua kitab itu. Gambaran yang paling menakutkan pada waktu saya kecil adalah kehidupan abadi di neraka. Neraka digambarkan secara fisik sebagai sejenis “gulag raksasa,” di mana segala jenis modus penyiksaan yang canggih dan bengis diterapkan.

Neraka mirip dengan kamp Auschwitz. Neraka adalah sejenis pogrom, hanya bedanya, ini adalah pogrom abadi. Saya tidak tahu, dari mana asal-usul fantasi populer semacam ini.

“Ethics of fear” lebih menonjol dalam sosialisasi keagamaan sewaktu saya kecil. “Ethics of hope”, etika harapan, sama sekali kurang ditekankan. Sewaktu panitia pembangunan masjid itu menceritakan kembali kisah tentang shirat al- mustaqim, gambaran masa lampau yang “gelap” itu membayang kembali. Saya dihantui kembali oleh semacam horor.

Agaknya gambaran populer tentang dunia metafisik semacam itu hanya bisa lahir dari kehidupan yang mengenal “misteri” dan “pesona”, dari masyarakat yang masih hidup dalam kosmos yang “mysterium, tremendum, fascinan“.

Dunia itu sudah hilang. Kita hidup dalam dunia yang hampir seluruh segi-seginya sudah dapat kita kenali, bisa kita perkirakan. Misteri sudah berubah menjadi sekadar hiburan —atau bahkan olok-olok— dalam acara “Kismis” yang —anehnya, konon—ratingnya tinggi.

Kisah panitia masjid itu seperti memutar ulang secara artifisial sebuah dunia yang telah “hilang”.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.