Home » Kajian » Teologi » Tentang Iman

Tentang Iman

5/5 (1)

IslamLib – Saya rasa akan amat sulit untuk merumuskan bagaimana wujud dan bentuk iman itu pada masing-masing perorangan. Untuk mempermudah pembahasan, saya ingin meminjam tiga istilah yang sering dipakai dalam pendekatan semiotika atau strukturalisme, yaitu “langage“, “langue” dan “parole“.

Langage adalah bahasa sebagai sistem yang abstrak; langue adalah bahasa sebagai mana dipakai oleh kelompok tertentu; parole adalah cara berbahasa orang-perorang.

Saya ingin memakai tiga istilah untuk untuk mencoba mendekati masalah iman ini; tentu peminjaman istilah dari bidang kajian ke kajian yang lain bukan tanpa masalah; tapi ini sekedar peminjaman untuk mempermudah agar suatu telaah bisa bekerja.

Iman biasanya ditakrifkan sebagai “percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan ketentuan Tuhan, entah ketentuan yang mujur atau malang”. Takrif semacam itu tentu mudah diajarkan, mudah diikuti, dan sebagai rumus juga mudah untuk dikaji.

Tetapi, saya rasa, takrif iman semacam itu tidak berkata apa-apa kalau kita menjumpai orang-perorang. Setiap orang tentu punya caranya sendiri iman kepada Allah dan yang lain-lain itu.

Iman seperti dalam takrif itu adalah mirip bahasa sebagai “langage” dalam konsepsi Saussurean. Seluruh umat Islam di dunia melaksanakan iman dalam cara yang “umum”, universal, abstrak dan lazim seperti dalam takrif di atas.

Tapi iman yang universial seperti itu adalah iman yang tidak konkret karena tidak berpijak pada penghayatan masing-masing masyarakat, masing-masing perorangan dalam keadaan tertentu yang nyata. Iman sebagai “langage” adalah iman yang tidak terkait dengan konteks.

Ada iman lain yang lebih konkret bentuknya, karena ia berhubungan dengan situasi tertentu, yaitu iman sebagaimana dihayati oleh kelompok masyarakat tertentu, di tempat tertentu, di suatu masa tertentu; misalnya iman orang-orang Jawa, di Wonogiri, pada awal abad 20. Menurut saya, inilah iman yang jauh lebih memikat untuk ditelaah, sebab ia lebih berbentuk.

Masyarakat Islam dalam sejarahnya yang panjang menakrifkan iman dalam cara yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Konsepsi tentang Allah dalam pikiran Imam Asy’ari terasa tidak begitu konkret bagi orang-orang Minang di Sumatera Barat; konsepsi ketuhanan a la Mu’tazilah tentu sangat asing dari cita rasa seorang Jawa Muslim setengah abangan di Gunung Kidul.

Setiap masyarakat, secara diam-diam, merumuskan caranya sendiri-sendiri untuk iman, dan dari sanalah muncul cara beriman yang mungkin sejajar dengan bahasa dalam pengertian “langue“.

Tentu ada iman dalam pengertian yang sejajar dengan bahasa sebagai “parole“, dan inilah iman pada level perorangan. Beberapa hadis mengindikasikan bahwa iman itu “mulur mungkret” (yazidu wa yanqushu), serupa karet yang mengembang dan mengkerut, up-and-down.

Pada tingkatan ini, iman nyaris mustahil bisa dirumuskan dengan jelas. Iman dalam pengertian yang personal ini, bagi saya, sifatnya cenderung eksklusif, licin, dan menghindar dari rumusan yang serba baku.

Tentu ada orang-orang tertentu yang pura-pura ingkar bahwa imannya terus-menerus mengalami proses “mengembang-dan-mengkerut” dengan cara mengikatkan diri pada rumus-rumus yang pasti yang dibuat oleh kaum teolog.

Orang-orang fundamentalis biasanya mencoba untuk mencari bentuk iman yang serba pasti, positivistis, dan dapat menjadi dasar untuk perumusan suatu ideologi perubahan sosial yang mencakup bidang-bidang kehidupan yang luas. Tetapi usaha kaum fundamentalis ini akan sia-sia belaka.

Iman sebagai “parole“, sebagai dialek pribadi orang perorang, menurut saya, tidak bisa dibuat rampat, persis, sebangun untuk semua orang. Ambisi kaum fundamentalis ke arah itu bisa menjadi ancaman yang besar.

Iman sebagai “parole” adalah wilayah di mana pribadi-pribadi muslim menemukan kebebasan untuk merumuskan cara mereka masing-masing untuk memahami siapa itu Allah. Kalau iman pada level ini hendak ditata rapi agar sesuai dengan iman sebagai “langage“, maka yang timbul adalah pengingkaran atas iman sebagai tindak-kebebasan. Bagi saya, iman adalah tindak pembebasan dan kebebasan sekaligus.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.