Home » Keluarga » Beberapa Trik dalam Menamai Anak
(Foto: mollyssuds.com)

Beberapa Trik dalam Menamai Anak

4/5 (17)

IslamLib - Salah satu problem yang sering dihadapi keluarga muda yang sedang menunggu kelahiran anaknya adalah bagaimana mencarikan nama yang pas buat buah hatinya. Problem ini kadang tak hanya dihadapi mereka yang menunggu anak pertama, tapi juga anak-anak selanjutnya. Saya pribadi—walau punya nama yang kurang bermakna namun tetap saya syukuri—sudah beberapa kali dimintai nama oleh lingkungan keluarga. Alhamdulillah, mereka pada suka dengan trik dan pilihan yang saya ajukan.

Apa pula cara dan trik-trik yang dapat kita tempuh dalam mengakali pemberian nama anak-anak kita? Sebelum masuk kepada trik-trik itu, ada baiknya kita memperhatikan beberapa rambu berikut.

Pertama, walaupun sebuah hadis menganjurkan orangtua memberi nama pada hari lahir atau hari ketujuh kelahiran anaknya, ada baiknya calon ayah dan bunda mengoleksi beberapa nama jauh-jauh hari sebelum sang bayi terlahir ke muka bumi. Upayakan mencari beberapa opsi nama entah dengan bertanya kiri-kanan, lewat bacaan, mencari via Google, kalau perlu sekalian mengerti akan arti atau maknanya.

Koleksi nama-nama itu kemudian dipertimbangkan matang-matang. Jangan sampai Anda bernasib seperti saya, sudah terlanjur lahir ke muka dunia, orangtua belum punya nama di kepala. Karena terlahir di bulan November, akhirnya terjadilah aksi reka-reka nama: Nov, Nov, Novriantoni!

Mungkin kejadian itu pula yang menimpa mereka yang bernama Febrianto, Aprilia, Julianto, Juniarti, Agustian, Septian, Oktoviani, dan juga seorang teman dari Myarmar, December Aung. Mereka telah mengiak, tapi nama mereka belum lagi ada di benak. Mohon maaf, saya tidak sedang mencela nama mereka atau menyalahkan orangtua mereka. Terkadang fakta semacam ini memang terjadi.

Kedua, di dalam tradisi Islam—dan tentu di dalam tradisi manapun—memilih nama yang baik adalah bagian dari anjuran Nabi junjungan kita. Dalam tradisi seperti ini, memberi nama bukanlah perkara enteng-entengan. Jika merujuk kepada sebuah hadis Nabi, persoalan nama dan what’s in a name ini menjadi sangat penting dan tak bisa diremehkan.

Bahkan menurut sebuah hadis, persoalan nama ini akan panjang urusannya, sampai ke akhirat sana. Dalam Sunan Abi Daud Nabi bersabda: Kelak di akhirat nanti, kalian akan dipanggil dengan nama kalian sekaligus nama bapak kalian. Innakum satud’auna yaumal qiyamati bi asma’ikum wa asma’i abaikum. Karena itu, perindahlah nama kalian! Faahsinu asma’akum.

Di hadis lainnya, Nabi menyebutkan contoh-contoh nama terbaik menurut beliau (misalnya Abdullah dan Abdulrahman), dan seburuk-buruknya nama: Harb (yuda atau petikaian) dan Murrah (si getir).

Perlu dicatat, walaupun hadis ini punya pesan yang baik tentang pentingnya memberi nama yang baik, namun di situ juga terselip semangat patriarkhi yang menempatkan sosok lelaki sebagai sentral. Lihatlah, nama ibu atau emak yang sudah bersusah-payah melahirkan kita justru tak disebut di akhirat kelak. Sayang sungguh sayang.

Tapi uniknya, budaya patriarkhi Arab itu justru dapat kita lihat bandingannya pada budaya Eropa dengan tingkat yang lebih parah. Di Arab maupun Eropa, nama anak rata-rata hanya satu suku kata—Karim, misalnya—lalu diikuti nama bapaknya, Benzema. Atau si anak bernama Jack, dilanjutkan dengan nama bapaknya, Wilshere. Jadilah Jack Whilshere. Namun di negara maju macam Amerika, seorang istri harus menggandeng nama suami. Hillary Clinton, misalnya.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, menyandingkan nama anak dengan nama bapaknya bukanlah tradisi yang lazim. Nama istri pun tidak wajib ditemani nama suami. Nama kedua pada orang Indonesia biasanya bukan milik si bapak atau suami, tapi masih juga milik si anak. Bahkan si anak bisa punya tiga nama, semuanya tak ada kait-mengait dengan bapak atau emaknya. Saya sendiri baru membubuhkan nama bapak saya tatkala harus membuat paspor. Sebelumnya nama saya tunggal belaka.

Ketiga, perlunya memikirkan aspek proporsionalitas. Walau nama sering dianggap sebagai bagian dari doa, orangtua hendaknya jangan pula bersikap berlebihan dan terlalu membebani anak dengan doa yang berat-berat. Larangan lebay dalam menamai anak ini pernah disinggung juga oleh Rasulullah.

Nabi misalnya melarang umatnya untuk memberi anaknya nama-nama seperti Yasar (si kidal), Rabbah (banyak untung), Najah (sukses), bahkan Aflah (paling bahagia). Sebab, kata hadis Sahih Muslim ini, engkau boleh jadi berpikir dia tak akan sampai seperti yang diinginkan nama mereka. Fainnaka taqul, atsamma huwa? Fala yakun. Artinya, jangan mempehape atau memberi harapan palsu.

Keempat, hindari memberi nama anak dengan sebutan-sebutan yang punya konotasi buruk. Dalam Sahih Bukhari diceritakan tentang seseorang yang datang kepada Nabi, lalu Nabi bertanya siapa namanya. Haznun, katanya. Artinya: si sangar atau si kasar, ibarat tanah liat. Nabi lalu menimpali: Engkau justru tampak Sahal, lembek atau easy going! Kuatir Nabi mengganti namanya—sebagaimana hobinya selama ini--si Haznun lalu mewanta-wanti: saya takkan mengganti nama yang telah diberi orangtua saya.

Ibnu Musayyib yang menjadi perawi hadis ini menimpali bahwa si Haznun konon tetap terlihat sangar dan kasar sampai akhir hayatnya. Andai ia bersedia ganti nama, begitulah mungkin kata kita. Tapi kan setiap orang punya privasi. Dalam hal ini, kira hanya boleh bersaran, bukan berkeputusan. Intinya, jika memberi nama, pastikan bahwa nama tersebut tidak justru mengandung konotasi dan kecenderungan yang buruk.

Kelima, walau Quran mencerca orang-orang yang suka mengejek julukan orang lain, pertimbangkan agar nama anak kita kelak tidak menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Semasa di pesantren dulu, kami sering tertawa geli tatkala sebuah nama disebutkan lewat pelantang suara. Nama itu adalah Nikmatul Lail yang berarti kenikmatan malam.

Maklum saja, walau sehari-hari kami rajin belajar dan mengaji, imajinasi liar tetap juga menghampiri pikiran kami. Apalagi saat mendengar nama Nikmatul Lail. Untunglah beberapa nama cukup menghibur, antara lain Ahlan Wasahlan (selamat datang), Fanizu, dan nama-nama kocak yang saya lupa.

Kini kita banyak mendengar nama-nama lucu yang sedang ngetop, seperti Dontworry, Royal Jelly, Anti Dandruf, Satria Baja Hitam, atau Minal Aidil wal Faizin. Tadinya saya mengira hanya guyonan belaka, ternyata bukan fiksi. Saya hanya berdoa, semoga mereka semua Selamet Dunia Akhirat!

Keenam, jangan mengutip nama tanpa ilmu dan pengetahuan yang lengkap. Ini sering terjadi di banyak kasus. Orangtua kita mungkin ingin mengutip nama dari penggalan ayat Quran. Tapi karena keterbatasan wawasan, mereka keliru. Konon, Ali Munhanif adalah nama yang Qurani tapi dikutip keliru. Seandainya dikutip secara akurat, mestinya pakar politik Timur Tengah dari UIN itu akan bernama Alimun Hanif (Si Mahatahu lagi Mahalapang). Tapi untungnya, Ali Munhanif pun bukan nama yang buruk. Ali berarti Mahatinggi atau Si Jangkung, Munhanif berarti terus mencoba berlapang-dada.

Artinya, kekeliruan ini tidak sefatal nama-nama yang baru-baru ini sedang kondang. Allah Husomad, misalnya. Allah Husomad jelas-jelas sebuah nama yang dikutip dari ayat kedua surat al-Ikhlas. Saya membayangkan, orangtua Husomad sangat berharap kepada Allah, sehingga dia namai anaknya sebagai “Tuhan tempat bergantung”, atau “Allah yang dapat diandalkan”. Namun begitu, nama Husomad tentu tidak terlalu keliru bila dibandingkan dengan dia yang bernama Tuhan ataupun Syaiton.

Kekeliruan-kekeliruan sekaligus kelucuan-kelucuan yang sangat Indonesiawi ini dalam beberapa hal dapat dimaklumi. Sebab orangtua kita dulu terkadang tak punya banyak wawasan tentang nama dan karena itu sering pula meminta nama kepada ustad, buya, atau kyai lokal yang juga punya wawasan yang terbatas tentang bahasa dan seluk beluk pemberian nama.

Saya baru sadar kalau nama bapak saya pun cukup aneh bila dieja di depan orang Arab. Beberapa bulan lalu, saya memperkenalkan nama saya dan nama bapak saya di sebuah forum di Beirut. Novriantoni Kaharuddin, kata saya. Nama Novriantoni tentu sudah cukup asing dan cukup sulit untuk mereka eja dan cerna. Saya tak masalah.

Lalu: Kaharuddin. Ini yang membuat mereka terperangah. Kata kahar yang berarti pemaksa, bersanding dengan kata ad-din yang berarti agama? Nama ini cukup mengagetkan bagi mereke, terlebih setelah saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang kritis tentang fenomena ISIS.

Tapi sudahlah, ini mungkin bagian dari kekeliruan-kekeliruan yang mungkin takkan sempat dideteksi oleh pakar kelirumologi, Jaya Suprana. Sama seperti kekeliruan-kekeliruan nama-nama populer lainnya: Syamsuddin (mentari agama), Komaruddin (rembulan agama), Saifuddin (pedangnya agama), dan din-din lainnya.

Saya tak menyesali kekeliruan ini, karena saya tahu bapak saya mendapat nama itu dari seorang buya kampung yang terbatas pengetahuannya. Karena itu, untuk pembaca yang budiman, selain berbagi tips di atas saya juga akan mengemukakan beberapa trik dalam menamai buah hati kita.

Pertama, selain berkonotasi baik, upayakan agar kita tidak terlalu membebani anak kita dengan ideologi atau obsesi pribadi kita. Jangan karena permusuhan kita yang tak kunjung padam terhadap Jokowi atau Ahok, kita lalu menamai anak kita Gempur Jokowi atau Gusur Basuki Purnama. Ingat, Ali bin Abi Thalib konon pernah berpesan: jangan kau bebani anakmu dengan kelakuanmu karena mereka terlahir untuk zaman yang berbeda.

Membebani anak dengan nama yang terlalu sulit mereka pikul dan junjung juga merupakan bentuk dari ideologi dan obsesi pribadi. Azkal Azkia tentulah nama yang terdengar indah. Ia pun terdengar seperti doa agar si anak kelak menjadi “yang terpandai di antara cerdik cendikia”. Tapi sebagaimana sabda Nabi yang saya singgung tadi, selain terus menerus memikul doa, nama seperti itu juga dapat menjadi beban yang terus melekat pada si anak. Dia dipaksa oleh namanya untuk pintar. Intinya, jangan sampai anak kita justru keberatan nama.

Saat diminta memberi nama, saya biasanya lebih suka memilih kosa kata yang bermakna ringan-ringan saja. Tanpa dibebani ideologi, apalagi obsesi dan harapan berlebihan. Saya pernah menamai anak paman saya dengan Viena Warda Athira. Artinya, di rumah kami ada sekuntum mawar yang semerbak harumnya. Enteng maknanya, sedikit bersajak, dan kau panggil dengan sebutan manapun akan tetap terdengar indah. Dari bahasa Arab, tapi terdengar cukup Indonesia.

Kedua, walaupun Nabi menyebut beberapa opsi nama terbaik seperti Abdullah dan Abdurrahman, Jamilah atau Zainab, sebagai orang Indonesia kita juga tidak perlu harus mengikutinya. Selain nama-nama tersebut sudah terlalu pasaran, hadis-hadis seperti ini dalam ilmu hadis masuk dalam kategori sunnah ghaira tasyri’iyyah. Ia adalah sunnah yang tidak bersifat legislatif. Tidak menjadi ketentuan hukum yang mengikat dan mesti dituruti.

Kalaupun anda ingin menamai anak anda dengan nama-nama Arab, Persia, Turki, atau bahkan Ibrani, cobalah gunakan trik memelesetkannya agar terdengar lebih enteng di telinga dan sedap di lidah Indonesia. Saya sering menggunakan trik ini agar nama-nama yang saya pilih tidak terdengar terlalu Arab tapi tetap punya arti di dalam bahasa Arab.

Tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, saya senang memelesetkan kalimat Qotrunnada menjadi Kathrin Nada. Walau terdengar kebarat-baratan dalam tulisan Latinnya, ketika diarabkan artinya tetap sama dengan Qotrunnada: setetes embun. Ini berlaku juga untuk Tamara Sabrina yang artinya buah kesabaran kami.

Tekhnik pelesetan ini banyak dilakukan orangtua masa kini, misalnya dengan mengganti Jibril menjadi Gabriel, Mikail menjadi Michael, Abdurobbihi menjadi Abderabo, dan lain sebagainya. Bahkan dengan menghilangkan atau mengganti satu-dua huruf pun, sebuah nama yang tadinya sangat lekat dengan budaya tertentu akan terdengar lebih universal. Misalnya mengganti Jamilah menjadi Jameela, Syakirah menjadi Shakira, Samrah menjadi Tamara. Ejaannya berbeda, artinya sama belaka.

Ketiga, kita tak pernah tahu sampai kapan sebuah nama dapat mendatangkan bala bagi yang empunya. Karena itu, usahakan agar anak kita kelak tidak mendapat kesulitan tatkala mereka harus berurusan atau bekiprah di belahan dunia manapun: Eropa, Amerika, atau negara maju mana pun. Mereka mungkin akan menjadi masyarakat dunia yang kian tak terkungkung.

Ini meniscayakan terjadinya proses globalisasi nama. Nama-nama anak Indonesia masa kini sudah terdengar nyaris sama dengan nama anak-anak Eropa dan Amerika. Ini agak berbeda dengan nama-nama anak Malaysia yang masih sangat kuat dipengaruhi nuansa Arab-Melayu.

Dampak buruknya adalah: kian merosotnya penggunaan nama-nama yang sangat kental bernuansa lokal seperti Bujang, Atan, Asep, Eep, Upik, Butet, Paijo dan Sumanto. Saya tidak tahu apakah kita punya mekanisme atau kebanggaan untuk melestarikan nama-nama yang khas kedaerahan Indonesia itu. Jika melihat daftar nama anak-anak Indonesia masa kini, kita sudah agak kesulitan menjumpai nama-nama tersebut.

Yang kian ramai kita jumpai justru adopsi terhadap nama-nama yang muncul dalam sinetron atau tersohor di layar kaca. Itu tidak mengapa. Namun, orangtua masa kini telah diberi kemudahan untuk lebih kreatif dalam mencari nama-nama. Bukankah salah satu kelebihan Adam adalah kelihaiannya dalam mendemonstrasikan nama-nama di hadapan para malaikat sebagaimana dituturkan oleh Quran?

Sembari menulis begini, saya sebenarnya sedang kebingungan menyiapkan nama yang cocok untuk calon anak lelaki saya. Koleksi nama-nama terbaik yang saya punya sudah terlanjur saya hibahkan kepada kolega atau keluarga yang meminta. Karena itu, bila anda punya usulan, saya akan menampunya dengan tangan terbuka. Semoga menjadi ocehan yang berguna!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.