Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Keluarga » Hamid Basyaib: “Agama Terlalu Obsesif dengan Seksualitas”
Hamid Basyaib

Hamid Basyaib: “Agama Terlalu Obsesif dengan Seksualitas”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Protes Majelis Ulama Indonesia (MUI), Aa’ Gym, dan sebagian masyarakat atas film Buruan Cium Gue yang ditengarai mengusik perasaan susila masyarakat, merupakan bagian dari rumitnya prosedur menentukan standar moralitas publik. Akibatnya, iklim kebebasan dinobatkan sebagai biang keladi rendahnya standar moral tayangan publik. Padahal, hakikatnya tak jarang berawal dari rendahnya imajinasi kreatif para seniman, sehingga tak mampu melahirkan karya-karya nan bermutu dan cemerlang.

Demikianlah sekelumit perbincangan Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Hamid Basyaib, peneliti Yayasan Aksara yang cukup akrab dengan dunia musik dan perfilman pada Kamis, 19 Agustus 2004. Berikut petikannya:

 

Bagaimana Anda menilai film Buruan Cium Gue?

Saya harus akui, kalau saya belum menonton. Dan saya sama sekali tidak tertarik menontonnya. Dari judulnya saja, belum dari segi substansi, saya melihat adanya bias Jakarta, bahkan bias Menteng.

Ungkapan “buruan cium gue!” memang bisa saja dimengerti orang Palembang, tapi terkesan jauh sekali dari mereka. Begitu juga bagi orang Makassar, Kalimantan dan lain-lain.

Dari sisi substansi, saya juga tak tertarik. Skenarionya biasanya jelek atau tidak diolah lebih jauh. Tema seperti itu mestinya bisa dieksplorasi lebih baik kalau penulis naskahnya bisa mengembangkan filosofi ciuman.

Kita tahu, ada banyak sekali jenis ciuman; cium tangan, cium kekasih, cium anak, cium ibu-bapak dan lain-lain. Tapi saya pastikan film ini bukan dalam arti itu. Tema yang diangkat cium eros; ciuman antarkekasih, atau ciuman orang yang sedang pacaran.

Tapi reaksi atas film ini, apalagi disebut “keprihatianan nasional”, juga berlebihan. Saya kira, orang sekelas Aa’ Gym tak perlu terlalu dramatis memplesetkan judul menjadi “buruan zinahi gue!” Ciuman jelas berbeda dengan zina.

Dari sudut Islam pun, beda sekali implikasi moral dan hukumnya. Makanya, saya ingin sekali kita melihat persoalan apapun secara proporsional. Kalau ada keluhan-keluhan, disampaikan saja. Tidak perlu didramatisasi secara berlebihan.

Anda melihat reaksi yang muncul sudah berlebihan?

Saya kira, ya! Karena sudah jelas tak mungkin sebuah film —apalagi film yang cetek dan dangkal semacam itu— bisa menimbulkan keprihatinan nasional. Ada banyak hal lain; soal kepastian hukum, hakim, jaksa dan polisi yang berprestasi buruk dalam menegakkan hukum. Isu itu langsung mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Dalam pandangan MUI dan Aa’ Gym, film ini sudah mencederai susila masyarakat. Mereka menuntut ditarik dari peredaran. Apakah tuntutan itu masih proporsional?

Saya kira tidak. Bagi saya, biarkan saja orang berekspresi sepanjang memegang kaidah-kaidah yang—katakanlah--disepakati bersama. Masalahnya, dalam soal ini kita juga belum kunjung punya kesepakatan yang jelas. Ini masalah lama, dan puluhan tahun tidak diselesaikan.

Nah, kalau kembali ngomong soal film, film-film tahun 1970-an dan 1980-an itu banyak sekali yang vulgar. Saya bukan bermaksud membela film-film seperti itu. Bagi saya, film seperti itu tidak perlu dibela, apalagi dari segi kualitas. Yang saya persoalkan adalah ihwal kebebasan berekspresi. Jadi jangan disalahpahami seolah-olah saya membela film ini.

Kalau tuntutan semacam itu terus diakomodasi, orang akan gampang membuat tuntutan serupa. Jangan-jangan kontroversi ini bisa menjelma menjadi promosi terselubung. Dengan larangan, orang jadi penasaran. Padahal dulu, di SCTV pernah diputar serial berjudul Melrose Place.

Serial itu sebetulnya lebih vulgar. Serial itu bercerita tentang profesional muda yang hidup satu kos atau mengontrak rumah sendiri-sendiri, lalu tukar-menukar pasangan dengan santainya. Di situ kevulgarannya memang tidak ditunjukkan secara visual. Dan ingat, serial itu diputar sekali seminggu selama beberapa tahun.

Apa ada standar ganda dalam menilai film nasional dan film impor?

Ya, itu juga persoalan. Tapi tafsiran bahwa film yang sedang kita persoalkan ini the first step to adultry atau selangkah maju menuju perzinahan, amat saya ragukan. Dalam psikologi, hubungan seks itu memang ditafsir berlapis-lapis. Ngobrol dengan lawan jenis dianggap hubungan seks yang paling luar.

Berikutnya pegang tangan, cium pipi, sampai coitus atau persenggamaan yang dianggap sebagai the ultimate sexual relationship. Nah, kalau dilihat dari segi itu, langkahnya tentu masih panjang. Lompatannya jauh sekali ke zina.

Soal standar ganda, nampaknya kalau bangsa sendiri yang bikin memang diterapkan standar khusus. Tapi kalau produksi orang luar, standarnya beda lagi. Padahal dari segi ini, yang penting kan bukan siapa yang bikin, tapi apakah film itu diputar di sini atau tidak.

Kalau soal siapa yang bikin, penonton tak peduli. Jadi kalau mau konsisten, keluhan yang sama juga harus dialamatkan pada film lain, siapa pun yang buat. Dalam zaman global begini sudah tidak relevan lagi membicarakan soal itu.

Film itu juga dianggap memamerkan budaya ciuman sebagai budaya asing. Apakah sebuah film harus mencerminkan budaya masyarakat tertentu?

Ada banyak teori tentang itu. Ada yang melihat film sebagai karya seni. Ada yang melihatnya sebagai realitas sosial. Justru, sebuah film menciptakan suatu realitas baru. Artinya, pembuat film ingin realitas sebenarnya mengikuti realitas buatan yang disajikan di film-film itu.

Dua-duanya tidak ada yang salah dan benar, dan dua-duanya sah. Tapi kalau kita ngomong soal mencerminkan moral bangsa atau tidak, persoalannya adalah siapa yang merumuskan? Kalau cuma rumusan orang tertentu saja itu tidak valid.

Mungkin hal itu harus dirumuskan dalam bentuk hukum. Para wakil rakyat yang notabene dipilih rakyat itulah yang mestinya merumuskan batasan-batasannya. Secara teknis, bisa saja itu dibuat.

Yang perlu dipertimbangkan di sini: ciuman, di belahan dunia manapun, tak pernah menjadi budaya tertentu masyarakat. Apa sih ciuman itu? Ciuman bibir? Di Amerika juga tidak, karena sebagian besar masyarakatnya masih konservatif. Apalagi, Kristen di sana kuat sekali.

Nah, kalau cuma ciuman pipi di kiri dan di kanan seperti salaman, siapa bilang bukan budaya kita? Kita punya itu, dan kalau saya sebut siapa saja yang mempraktekkan itu, pasti banyak orang kaget, termasuk tokoh-tokoh agama.

Dalih yang paling menonjol dari reaksi terhadap film ini adalah dalih moral. Apakah telah terjadi reduksi makna “moral” itu dalam logika agamawan?

Betul! Itu tepat sekali. Kita jarang sekali mendengar imbauan MUI mengenai masalah-masalah bangsa yang lebih berat. Misalnya soal korupsi yang merajalela, penggusuran di mana-mana, dan pameran kemewahan.

Persoalan seperti itu tak pernah digubris MUI secara serius. Mereka malah membidik masalah-masalah yang masuk wilayah moralitas individual semacam ini. Kalau kita tetapkan prioritas, ini sebenarnya bukan prioritas kita.

Sebenarnya, ada tindakan elite yang jauh lebih destruktif dan berskala lebih luas, karena mereka memegang kekuasaan. Sekali mereka bertindak, implikasinya bisa luas sekali.

Kalau mereka korupsi 1 milyar, artinya ada sejumlah anak sekolah yang tidak bisa bersekolah; ada sejumlah gedung sekolah yang tidak bisa dibangun. Mestinya itu prioritas sorotan agamawan.

Makna moral telah direduksi khusus pada wilayah susila. Agama-agama terlalu obsesif atau terlampau mempedulikan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, sampai melampaui proporsinya yang wajar. Saya tidak tahu sebabnya.

Mungkin karena dalam kitab-kitab suci, persoalan ini dipaparkan cukup detail, tekstual atau harfiah. Akibatnya, masalah moral yang besar-besar tidak tersentuh secara memadai. Mestinya, agamawan mengembangkan konsep moralitas secara lebih luas

Sejauh pengamatan Anda, bagaimana perkembangan perfilman nasional pasca-reformasi yang cenderung bebas?

Tahun 1970 dan 1980-an, film-film yang vulgar banyak beredar. Dari judulnya saja kita sudah tahu itu film vulgar. Misalnya, Akibat Pergaulan BebasSeks dan Kriminalitas, Ranjang Pengantin, dan lain-lain. Saya pribadi sangat tidak suka.

Karena bagaimanapun, seks itu bisa dibilang sakral. Tidak ada hubungan yang lebih intim dari hubungan seksual. Hubungan seksual adalah dasar eksistensi kita. Kita semua hadir di dunia ini berkat hubungan seks orang tua kita.

Teman saya berkelakar, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit dan berat melebihi hubungan seksual. Sebab pekerjaan lain, seberat-beratnya tidak perlu sampai membuka celana. Intinya, hubungan seks itu merupakan hubungan paling intim. Maksud saya, jangan sembarangan dan melakukannya dengan ngawur.

Artinya, kalau diangkat ke dunia perfilman, diperlukan teknik-teknik khusus dalam meraciknya?

Ya. Coba diberi pengertian makna seks itu sendiri. Tak perlu akademis, karena bicara seks itu bisa panjang lebar. Orang menulis berpuluh-puluh buku untuk mengulas persoalan ini, dan tidak kunjung beres-beres. Tapi setidaknya, ada penghormatan dan apresiasi yang baik atas persoalan seks, bukan vulgar seperti yang sering ditampilkan.

Nah, dalam hal ini saya menyesalkan mengapa penulis skenario film kita, juga para penulis lagu, tak kunjung mampu mengeksplorasi tema ini secara wajar. Kita misalnya bisa melihat aspek filosofis dari seks.

Lagu-lagu Barat memang banyak sekali yang vulgar, apalagi jenis rap. Tapi saya teringat lagu Speak Softly Love dari Andy William yang menjadi tema musik film The Godfather. Sebagian baitnya berbunyi: wine-colored days warmed by the sun (hari-hari yang warnanya seperti anggur yang dihangatkan mentari). Ini ungkapan tentang hari-hari yang dilaluinya bersama sang kekasih.

Lalu: deep velvet nights when we are one (malam-malam seperti beludru tua ketika kita menyatu). Yang dimaksud di situ adalah hubungan seks, tapi disajikan dengan indah dan halus, sesuai dengan harkat atau martabat hubungan seks itu sendiri.

Jadi seks itu luas dan selalu menarik untuk diangkat ke dunia seni?

Menarik sekali! Pertama, karena seks itu impuls manusia yang paling hewani. Jadi, karena impulsnya sangat mendasar, dia menjadi universal. Di manapun, dan zaman apapun, seks selalu memukau. Dia terus laku. Tak heran kalau pedagang film, kalau ingin produknya laku, mereka mengeksplorasi hal yang satu ini.

Masalahnya, kalau kesadaran insan perfilman kita tak bisa diandalkan, maka dia harus diatur dengan peraturan. Begitulah lazimnya yang berlaku di suatu negara. Dalam soal ini, kita tidak kunjung beres. Kalau ada pengaturan, muncul semangat untuk mengatur keseluruhan, yang malah menghapus hak (untuk berkarya). Di situlah kita selalu sulit mencari titik temu.

Dalam hal ini, menarik membandingkan dunia perfilman kita dengan Iran. Di Iran, perempuan tidak berjilbab tidak boleh ditayangkan di muka umum. Tapi kita lihat, film-film Iran tumbuh begitu hebatnya, justru di masa Revolusi Islam yang sangat ketat itu.

Setelah Revolusi Islam tahun 1979, di Iran tumbuh sutradara-sutradara yang baik. Ada Abbbas Kiarostami, Mohsen Makhmalbaf, Samirah Makhmalbaf, dan Majid Majidi. Di sana banyak sekali film-film yang memperlihatkan adegan perempuan dan laki-laki dengan sangat indahnya.

Uniknya, ternyata energi kreatif muncul di Iran justru karena pembatasan. Ini soal bagaimana kita mempersepsi soal pembatasan. Di sini, umumnya orang mengeluh kalau dibatasi. Di sana, orang seperti Abbas Kiarostami itu wawasannya sehat sekali.

Dia pernah ditanya: “Pemerintahan Anda suka melarang-larang!?” Dia jawab, “O, ya! Tapi apakah dengan larangan kita lalu berhenti, meratap, menangis, atau justru terus kreatif? Saya memilih untuk terus bekerja dengan segala risikonya. Kalau film saya disensor, it’s find!

Saya membuat film dengan durasi 2 jam. Kalau ada yang disensor setengah atau satu menit tidak jadi soal, asal struktur dasar film saya tidak rusak.” Itu ungkapan seorang sutradara yang filmnya menang di festival film cukup bergengsi di Cannes.

Dalam iklim yang relatif bebas ini, mestinya kita lebih kreatif?

Justru itu yang saya maksud. Tapi insan perfilman kita, ditekan salah, diberi kebebasan juga mutu karyanya tak kunjung meningkat secara wajar. Saya kira, persoalannya bukan pada disensor atau tidak, tapi soal kreativitas. Seni itu intinya kreativitas. Kreativitas itu tidak bisa dipelajari.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.