Home » Keluarga » Kenangan Masa Kecil Di Kampung
Anak saya, Ben dan Billy, menikmati masa kanak-kanak di Bowen School, Boston.
Anak saya, Ben dan Billy, menikmati masa kanak-kanak di Bowen School, Boston.

Kenangan Masa Kecil Di Kampung

4.75/5 (4)

IslamLib – Saya tak tahu, apa pentingnya saya menuliskan catatan tentang masa kecil di kampung. Tak ada yang spesial dalam kehidupan saya di sana. Tetapi, mengenang masa kecil selalu menyenangkan. Makin jauh masa itu dari umur kita sekarang, makin indah dikenang. The further back we go to the past, the rosier it looks to us.

Saya sedang “ngelangut” tentang masa lalu di desa, dan tiba-tiba saya ingin menulis tentang masa itu. Mohon maaf jika Anda merasa kurang berkenan.

Saya dilahirkan di Pondowan, sebuah desa yang terletak sekitar 20 km sebelah utara Kota Pati di Jawa Tengah. Tak ada catatan yang jelas kapan saya lahir. Belakangan, saya menemukan catatan di kitab milik ayah saya. Di sana tertera titi-mangsa ini: 29 Ramadan 1386 H.

Saat berumur 17 tahun, untuk kebutuhan mengisi data ijazah, saya diharuskan mengetahui tanggal lahir saya dalam versi kalender Masehi. Tentu saja, belum ada mesin Google yang bisa membantu mengkonversi tanggal, dari Hijiriyah ke Masehi. Sekedar untuk mengetahui tahun, mudah. Tapi untuk mengetahui tanggal, bulan dan hari, tentu sangat sulit.

Akhirnya solusi saya temukan. Kebetulan, seorang kerabat jauh saya yang tinggal di Tayu adalah kolektor kalender lama, dari sejak tahun 40an. Saya datangi rumahnya. Saya obrak-abrik seluruh koleksi kalender lama dia. Aha, tersua. Ternyata, dalam versi Masehi, saya lahir Rabu, 11 Januari 1967.

Hari saat saya menemukan versi Masehi tanggal lahir saya itu adalah momen yang tak bisa saya lupakan. Saya senang bukan main. Bertahun-tahun, saya tak tahu kapan saya lahir. Dan sekarang, saya punya identitas kronologis yang jelas!

Tak semua hal tentang masa kecil saya ingat. Tetapi, satu hal yang masih saya ingat dengan sangat baik adalah ini: kehidupan saya waktu itu sangat “physical,” “social,” tetapi juga “fun”. Yang saya maksud dengan “physical” di sini adalah: semua hal harus saya kerjakan secara “manual” dan fisik pada saat itu.

Misalnya: Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, saya harus memenuhi bak mandi dengan cara menimba dari sumur. Ini pekerjaan yang sangat “physical”. Generasi sekarang mungkin sudah tak pernah melihat wujud timba dan kerekannya pada masa itu. Saya menimba sekitar dua puluh menit untuk memenuhi dua bak mandi. Pekerjaan ini harus saya lakukan kembali sore hari. Setelah menimba, ritual berikutnya adalah mencuci gerabah dengan abu gosok.

Saat libur sekolah, selain menimba, saya juga harus mencuci seluruh pakaian keluarga. Lagi-lagi secara manual. Prosesinya dimulai dari merendam pakaian dalam ember besar, kemudian mencuci/”ngucek” dengan “sabun dulit” (sabun colek). Setelah itu, saya harus pergi ke “blumbang” (kolam) yang sangat jernih di belakang rumah saya untuk “nggirah” (membilas). Setelah itu, tentu saja, “njereng” atau menjemur.

Keluarga saya dulu sangat “fiqh-oriented”, sehingga terobsesi benar dengan urusan najis atau kotoran. Terutama jika berurusan dengan pakaian adik-adik saya yang masih kecil dan bekas ompol.

Saya selalu dipesan oleh ayah saya untuk membilas cucian berkali-kali, hingga busa sabun hilang sama sekali. Jika cucian diperas dan masih menyisakan busa sabun, dia belum bersih benar. Harus dibilas lagi. Dulu, mencuci adalah pekerjaan yang mengandung “angst”, ketegangan luar biasa bagi asya. Gara-gara urusan najis yang secara fiqh sangat menakutkan itu.

Keluarga saya selalu memenui kebutuhan minyak goreng (kami menyebutnya “minyak klentik”) secara swadaya. Kebetulan, kami memiliki beberapa pohon kelapa di belakang rumah. Saya membantu separoh proses pembuatan minyak goreng ini.

Saya membantu emak (begitulah kami memanggil ibu di kampung dulu). Mulai dari “nylumbat” atau mengupas biji kelapa hingga memarut. Ada teknik khusus untuk mengupas kelapa ini dengan menggunakan linggis yang ditanam di tanah. Emak baru mulai turun tangan setelah saya selesai memarut. Dia segera memasak parutan kelapa itu di wajan besar. Saya menunggu ujung prosesnya: yaitu “blondho” atau kerak minyak yang telah dipisahkan dari minyak. Baunya sangat khas dan lezat sekali.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.