Home » Keluarga » Orangtualah Yang Berhutang Pada Anak
vintage___children_in_a_boat_by_meltys

Orangtualah Yang Berhutang Pada Anak

4.35/5 (77)

Anak-anak adalah anugerah Tuhan, diutus hari demi hari untuk berkhotbah tentang cinta, harapan dan perdamaian.

-James Russell Lowell

 

IslamLib – Sebagai orangtua, pada diri kita tertanam kesadaran sejak kecil bahwa anak harus membalas budi kepada orangtua, bahwa anak harus patuh dan menurut pada orangtua, karena orang tua sangat berjasa kepada anak. Hal itu sejalan dengan perintah  berbagai kitab.

Tapi pengalaman hidup saya mengajarkan hal yang sebaliknya. Sebagai orangtua dari dua orang anak, saya berkesimpulan bahwa apa yang saya berikan kepada anak, sesungguhnya tak berbanding lurus dengan apa yang saya dapatkan dari mereka.

Ketika mereka dilahirkan ke dunia ini kebahagiaan yang diberikan sungguh tak ternilai harganya dan tak sebanding dengan apa yang telah diberikan pada anak. Melihat anak ibarat mendaki gunung; makin dihayati makin terasa meneduhkan dan menyejukkan. Di rumahlah, bersama anak, saya menemukan kebahagiaan sejati; yang tak saya dapatkan di tempat lain.

Anak merupakan anugerah terindah dalam kehidupan ini. Ia sebuah amanah yang harus dijaga. Tugas kita sebagai orangtua, mendampingi mereka tumbuh secara alami, lalu Tuhanlah yang akan memberkatkan perubahan itu.

Kehadiran kita tidak dirancang untuk gagal mendidik anak. Kita sendirilah yang merancang kegagalan itu. Sesungguhnya, anak tidak butuh orang tua yang sempurna, melainkan teman yang bersedia untuk tumbuh dan belajar bersamanya. Anak adalah pribadi yang harus dihargai, dihormati oleh siapapun terlebih orangtuanya sendiri.

Jostein Gaarder dalam novelnya yang amat terkenal, Sophie’s World mengajak kita berkaca siapakah sesungguhnya yang layak disebut filsuf di muka bumi ini? Apakah ahli filsafat dari Yunani atau profesor filsafat dari universitas terkemuka?

Jostein Gaarder punya pendapat berbeda. Ia mengatakan, “Anak-anak adalah seorang filsuf.” Hampir di semua karya novelnya Gaarder menggunakan karakter kanak-kanak untuk menyampaikan pesan-pesan filosofis. Pertanyaan seperti kenapa belalai gajah itu panjang adalah salah satu contohnya. Anak-anak juga dapat mengkoreksi orang dewasa.

Salah satu hadiah terbesar bagi anak adalah orang tua yang mau belajar soal anak. Saya teringat nasehat Gandhi, bahwa kemampuan untuk mengetahui daya kekuatan jiwa, kebenaran dan cinta kasih merupakan tujuan pengasuhan yang lebih penting dari pada kemampuan baca tulis, pengetahuan tentang fakta-fakta atau pengetahuan tentang tradisi-tradisi dan teks-teks keagamaan.

Sebagai orangtua mungkin kita pernah kecewa melihat nilai anak kita yang kurang memuaskan, tapi seringkali kita luput memahami itu dari sudut pandang anak kita. Mungkin mereka dalam hatinya berujar, “Ayah, Ibu, jangan lihat nilaiku yang rata-rata, lihatlah, aku mengerjakannya dengan jujur, lihatlah, aku sudah berusaha.”

Seperti ini jugalah yang telah diajarkan oleh Paulo Freire dari Brazil, Thomas Lickona asal Amerika, Hildegard Goss-Mayr dari Philipina, atau Diana Tillman. Mereka sepakat bahwa pendidikan menghidupkan nilai pada diri anak mesti dimulai dari guru di sekolah, dan orangtua di rumah.

Belajar dari merekalah, setiap kali melihat wajah sepasang buah hati saya, Ikra dan Hani, saya selalu diingatkan akan satu hal; ternyata lukisan yang paling indah di dunia ini bukanlah bingkai yang terbuat dari emas karya Basuki Abdullah atau senyuman Monalisa karya Leonardo Da Vinci, melainkan wajah anak saya sendiri.

Setiap melihat anak orang lain, kita teringat anak sendiri. Setiap melihat anak kita, kita seakan melihat diri kita sendiri, melihat masa depan kita sendiri.

Tak ada tempat manapun di dunia ini yang paling indah untuk kita datangi selain memeluk dan mendatangi hati anak kita sendiri. Saya pernah mengunjungi banyak tempat terindah di dunia. Pernah ke Tembok besar Tiongkok yang merupakan tujuh  keajaiban dunia  atau laut Victoria di Hongkong. Sangat mempesona.

Tapi keterpesonaan itu hanya sebentar. Wajah anak saya jauh lebih indah dari keajaiban dunia tersebut. Memandangi anak sepanjang hari, memberi makna dan kebahagiaan yang mendalam bagi saya sebagai orangtua.

Seorang tua yang saya hormati bertutur kepada saya begini: “Saat ini saya mempunyai banyak anak dan cucu. Bila suatu saat saya tidak lagi bisa melihat, pikiran saya mulai pikun dan bahkan saya tak ingat lagi apa apa di dunia ini, namun wajah anak anak saya akan terpatri dalam jiwa saya.

Banyak dari kita berusaha memaksakan anak-anak kita berubah menjadi hebat. Padahal tugas kita bukanlah berusaha meledakkan kehebatan mereka. Tugas kita adalah mendampingi mereka tumbuh secara alami.

Mereka mungkin takkan mendengarkan semua yang kita katakan. Tapi satu hal sederhana, mereka akan meniru perilaku hidup kita. Karena itu lakukanlah satu hal saja yang sederhana, jadilah orang tua yang memberi keteladanan hidup yang bersumber  pada ketulusan dan kasih sayang.

Anak anak yang lugu dan imut-imut itu, memang tak selamanya menyenangkan, kadang mereka bisa menjengkelkan dan suatu terkadang kurang ajar. Semua anak begitu. Banyak nasehat kita berikan setiap hari. Tapi terlalu banyak  memberikan nasehat dan teguran atau marah kepada anak tidaklah baik.

Sebuah pepatah mengatakan, “Children are like wet cement, whatever falls on them makes on impression.” Anak-anak itu mirip adonan semen basah. Apapun yang jatuh ke atasnya, meninggalkan bekas, yang kalau tidak segera dihaluskan kembali, bekas tersebut akan mengeras selamanya.

Mendidik berarti mengajarkan kepada mereka, kesanggupan untuk berjuang menghadapi tantangan hidupnya. Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita perlu belajar melihat yang terbaik dari diri mereka. Demi kebaikan kita, jangan sampai terlewat untuk mengenal mereka.

Anak-anak sangat luar biasa. Alih-alih mengkritik dan memarahi, berhentilah sejenak. Nikmati keluguannya, celotehnya, salahnya, hebatnya, dan sebagainya. Karena mereka adalah anak-anak kita.

Memberikan uang kepada anak-anak kita tentu bukanlah hal yang jelek. Membelikan buku dan kebutuhan anak-anak kita sangatlah bermanfaat. Tetapi kehadiran orang tua di hati mereka adalah sumbangan terbesar bagi mereka. Orang tua hadir untuk menginspirasi dan sebagai sumber inspirasi utama. Tiada orang lain yang dapat mengenal mereka dengan baik, kecuali diri kita sendiri.

Suatu ketika, pernah kedua anak saya pamit mau nginap di rumah kakak saya selama dua hari. Saya mengizinkannya dengan hati gembira dan berharap dua hari itu, Sabtu dan Minggu, dapat saya gunakan untuk istirahat santai bersama isteri setelah kerja yang melelahkan.

Tapi apa yang terjadi? Begitu anak-anak pergi, kami mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Tak ada teman untuk becanda, tak ada suara gaduh, tak ada rengekan, tak ada suara minta ini-itu.  Rumah tiba tiba terasa sunyi. Akhirnya, Minggu pagi, kami memutuskan untuk menjemput kedua buah hati kami.

Kita adalah “anak” orang tua kita. Mereka adalah “tombak kontak” kita dengan masyarakat luas. Kewajiban berbuat baik kepada orang tua adalah ajaran semua agama dan kebudayaan. Tapi orang tua juga harus menyadari bahwa mereka juga berhutang  kepada anak, karena  kelahirannya di dunia ini memberi kebahagiaan tak terhingga kepada orang tua.

Akhirnya, untuk mengakhiri tulisan ini, saya kutipkan sebuah puisi yang sangat indah dari Dorothy Law Nolte. Puisi ini menggambarkan hubungan antara lingkungan yang diciptakan oleh orang tua dengan reaksi yang dilakukan anak. Puisi yang aslinya ditulis dengan bahasa Inggris ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Terjemahan bebasnya,

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mengasihi.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar damai dengan pikiran.

Puisi di atas sangat baik untuk dijadikan cermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Mari sediakan hati untuk anak-anak kita.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.