Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Keluarga » Perempuan » Asma Barlas: “Perempuan Harus Keluar dari Pusaran Penindasan”
Asma Barlas (Foto: anjameulenbelt.nl)

Asma Barlas: “Perempuan Harus Keluar dari Pusaran Penindasan”

5/5 (1)

Di Indonesia kini sedang muncul kegairahan untuk menerapkan syariat Islam. Anda pernah hidup di bawah rezim Dzia ul Haq yang menerapkan syariat Islam secara kenegaraan di Pakistan. Dapatkan syariat diterapkan sembari membela hak-hak perempuan?

Sepanjang yang saya baca, penerapan syariat di Aceh betul-betul telah mendiskriminasi perempuan. Syariat yang seperti itu, biasanya tidak pernah menyediakan ruang bagi keadilan gender. Saya percaya, hukum Islam pada akhirnya adalah produk pemikiran manusia sehingga dapat dipikirkan dan ditinjau ulang.

Sepanjang pengalaman saya, penerapan syariat di Pakistan sangat mengecewakan. Ada pembantu rumah tangga yang diperkosa lalu dihukum rajam, padahal sanksi rajam sendiri tidak terdapat dalam Alquran untuk kejahatan apa pun.

Tapi orang-orang yang pro-syariat akan mengeluarkan ratusan hadis dan mengklaim diri setia mempraktekkan ajaran Nabi. Ujungnya, perbincangan melantur ke tingkat lain. Bagi saya, kita sebagai mukmin tidak harus yakin 100% dengan apa yang ada di hadis, tapi perlu yakin 100% pada apa yang ada di dalam Alquran.

Tapi kalau kita menyanggah semacam itu, mereka yang pro-syariat akan segera berpindah argumen dari Alquran ke hadis, lalu ijma’ atau konsensus ulama. Ketika Anda mengatakan Alquran dapat ditafsirkan lebih dari satu cara, mereka segera memindahkan kancah perdebatan ke hadis.

Ketika Anda dapat mematahkan argumen hadis karena ia lebih banyak diriwayatkan bil ma’na dan merupakan salah satu refleksi kebijakan Nabi saja, mereka akan berdalih dengan ijma’. Padahal, konsep ijma’ itu tidak dapat diterima, karena tidak datang dari langit.

Ijma’ sudah jelas konstruksi sosial manusia yang tidak sakral sama sekali. Tapi mereka akan kukuh dengan itu, dan akan mencecar Anda keluar dari kesepakatan ulama. Bagi saya, itulah bentuk pusaran penindasan(circle of opressions) yang selama ini kita hadapi. Dan selama ini, sulit bagi perempuan untuk lari dari pusaran tersebut.

Jadi Anda tegas membedakan antara kedudukan Alquran dan hadis?

Bagi seorang mukmin, Alquran adalah kalam ilahi, sementara hadis tidak demikian. Hadis adalah hasil kompilasi manusia, dan tak seorang pun dari mereka mengklaim diri tak mungkin bersalah atau infailable.

Selama ini, banyak ulama Islam yang berdalih dengan hadis karena mereka tidak suka dengan prinsip kesetaraan gender yang tertuang dan dimungkinkan oleh Alquran. Akibatnya, apa pun tabir yang telah disingkap Alquran, ada saja hadis yang mereka keluarkan untuk menutupnya kembali.

Bu Asma, Anda yakin kaum feminis dapat mewarnai corak fikih yang selama ini masih didominasi corak yang konservatif?

Ada banyak perempuan yang telah terlibat dalam studi fikih dan coba memperbaruinya. Di Amerika kita punya Azizah al-Hibri. Saya sungguh tidak tahu apakah produk fikih yang mereka ajukan akan mampu mengubah corak yang dominan.

Tapi bagi saya, ketika orang awam melihat syariat Islam yang dirumuskan dalam buku-buku fikih tidak mampu memberi rasa keadilan sebagaimana yang dianjurkan Alquran, maka itu akan efektif sekali mengubah perilaku mereka melebihi kemampuan proposal yang diajukan kaum feminis.

Secara keseluruhan, kaum muslim harus mulai aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Reformasi atau perubahan memang akan sangat sulit.

Apa yang ingin Anda sampaikan pada umat Islam Indonesia yang sedang bergairah menerapkan syariat Islam dengan kekuatan negara?

Saya tidak datang ke Indonesia untuk memberi pesan. Saya datang terlebih untuk belajar dari Indonesia. Jika pun saya harus berpesan, saya berharap Islam di Indonesia mampu memberi alternatif real dari corak Islam radikal yang muncul dari negara lain.

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat mengembangkan corak Islam yang lebih liberal. Meskipun sering dianggap pinggiran, saya tetap berharap buku-buku intelektual Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam bahasa dunia. Dengan begitu, Anda tidak hanya akan melihat buku dari satu negara tertentu saja. Itulah satu pertanda pluralisme dan liberalisme.

Tapi sayang, di Amerika Serikat sendiri, buku yang banyak dijual adalah buku kalangan konservatif dan radikal yang suaranya kencang. Saya kira, kalangan liberal selama ini menderita dan karena itu tidak mampu mengorganisasi diri secara lebih baik. Sementara, kalangan radikal dan fundamentalis–bukan saja di dalam Islam, tapi juga dari kalangan Kristen–sangat terorganisir.

Ini mungkin juga disebabkan kalangan liberal itu tidak pernah bersifat tunggal dan selalu punya ide plural. Jadi mereka tidak seperti kaum fundamentalis yang fokus pada satu hal. Karena itu, kita butuh lebih banyak lagi organisasi kaum liberal, karena apa yang dihadapi kini bukanlah individu yang tunggal. Tokoh-tokoh radikal dan fundamentalis selalu datang dari beragam organisasi.

Bagaimana Anda melihat peluang berkembangnya wacana agama yang progresif dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia?

Saya kira demokrasi Indonesia membuka banyak kesempatan untuk itu. Biasanya saya tidak selalu banyak berharap, tapi saya punya banyak harapan terjadinya perbaikan wacana agama di Indonesia.

Hampir semua kelompok perempuan yang saya temui di sini sadar betul akan perlunya menggunakan kesempatan demokrasi. Dan perempuan muslim di sini bagi saya berbeda dengan perempuan muslim di negeri Barat.

Jika Anda menemukan perempuan berjilbab di Barat sana, itu adalah pertanda bahwa dia memisahkan diri dari ruang publik. Tapi di Indonesia, saya melihat perempuan berjilbab yang sangat aktif; naik sepeda motor, serta berjabat tangan dan berhubungan secara wajar dengan laki-laki.

Dua tahun lalu, saya berkunjung ke masjid al-Azhar di Kairo dan punya perasaan yang lain ketika berjalan di dalam masjid. Di sana, ruang perempuannya(zawiyatun nisâ` atau women’s corner) sangat eksklusif dan gelap. Saya sempat diteriaki karena berjalan di tempat yang tidak harus saya tapaki.

Tapi di masjid Istiqlal Jakarta, suasananya jauh berbeda. Kaum perempuan di sini bisa mengambil tempat di tengah masjid atau salat menyendiri di tepi. Kaum laki-laki dan perempuan juga bisa saling bincang di samping masjid. Fenomena itu tidak pernah Anda dapatkan di al-Azhar Kairo atau di Pakistan sana.

Secara kultural, di Indonesia ada banyak sinkretisme, pluralisme dan sekularisme. Negara tidak terlalu banyak mencampuri urusan agama dan pribadi rakyatnya. Bagi saya, itulah yang diinginkan Imam al-Ghazali ketika menyatakan bahwa penguasa tidak dapat mencampuri urusan agama rakyatnya.

Maka saya berkesimpulan, di dalam komunitas Islam Indonesia terdapat banyak harapan dan perjuangan. Saya kira, tantangan terbesar Indonesia kini adalah bagaimana mempertahankan demokrasi, karena ia mendapat tantangan dari banyak penjuru.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.